Asia Oseania » Asia Tenggara » Keluarga » Malaysia

Tertukar Waktu Lahir: Berjuang Pindah Agama

Jumat, 16 Februari 2007

Keluarga BuddhisAP,
Kuala Lumpur, Malaysia – Seorang pria etnis Tionghoa Malaysia yang salah diberikan oleh dokter kepada pasangan Muslim Malaysia ketika lahir hampir tiga puluh tahun yang lalu, memberanikan diri untuk mengambil langkah hukum agar ia bisa meninggalkan agama Islam, sebuah tindakan yang bisa dikatakan sebagai suatu tindakan kejahatan di beberapa daerah di Malaysia.

Zulhaidi Omar, 29 tahun, yang sekarang bernama Eddie bagi keluarga dan teman-temannya, mengatakan bahwa ia menemukan identitas sebenarnya secara kebetulan dan bertemu dengan kedua oranng tua biologisnya pada tahun 1998 setelah bertahun-tahun penasaran mengenai ciri-ciri Tionghoa pada dirinya.

”Saya menginginkan kembali kehidupan saya secara bertahap, sekarang,” Zulhaidi mengisahkan kepada The Associated Press (AP) lewat wawancara telepon dari rumahnya di daerah selatan Johor.

Zulhaidi, seorang sales executive dibesarkan di dalam keluarga etnis Melayu-Muslim, ia mengatakan bahwa ia mengisahkan kembali kisahnya sekarang karena ia ingin menggunakan nama Tionghoa dan mengubah agamanya menjadi Buddhisme. Sekitar 20 persen populasi masyarakat Malaysia adalah Buddhis.

Ia menolak untuk berkomentar lebih lanjut, mengutip fakta sensitifitas agama di negara yang didominasi Muslim ini. Perundang-undangan tidak mengijinkan umat Muslim untuk mengubah agama mereka, dan di beberapa daerah tetapi tidak di Johor, melakukan hal itu dianggap sebagai suatu pemurtadan dan dapat dihukum penjara.

Michael Tay, seorang politisi bersama dengan Malaysian Chinese Association (Asosiasi Tionghoa Malaysia) yang membantu Zulhaidi mengatakan bahwa ia telah melakukan perundingan dengan pemerintah daerah Johor untuk mengabulkan permintaan Zulhaidi.

”Pertanyaan akademiknya adalah apakah ia bisa kembali keidentitas Tionghoanya,” Tay mengatakan kepada AP. ”Saya telah mengatakan kepada Zulhaido bahwa ini akan menjadi suatu perjuangan yang berat, tetapi ia tetap menginginkannya,” kata Tay.

Tidak jelas berapa lama resolusi ini berakhir dan kasus ini bisa jadi ditangani oleh pengadilan Syariah Islam, yang berwenang menangani masalah-masalah yang melibatkan umat Muslim, kata Tay.

Petugas keagamaan negara tidak bisa segera dimintai komentarnya.

Pertama kali, seminggu lebih yang lalu, media Malaysia memberitakan klaiman Zulhaidi bahwa di supermarket ia berjumpa dengan kakak wanita biologisnya yang menyadari bahwa ia memiliki rupa yang sama dengan ayah mereka, Teo Ma Leong, 67 tahun.

Test DNA kemudian membenarkan hubungan pertalian tersebut dan Zulhaidi pindah ke orang tuanya tiga minggu kemudian, demikian surat kabar The Star melaporkan.

Menurut The Star, anak Melayu yang bawa ke rumah oleh keluarga Teo karena tertukar, dibesarkan dengan nama Tian Fa, dan sekarang ia menikah dengan wanita Tionghoa. Tian Fa mengatakan kepada surat kabar bahwa ia tidak ingin mencari keluarga biologisnya dan ia bahagia memperlakukan Teo dan isterinya Lim Sai Hal sebagai kedua orang tuanya.

—-
Menghidupi diri sendiri

Ketika berusia 13 tahun, Zulhaidi ia telah menghidupi dirinya sendiri dengan mencuci piring ketika pulang sekolah untuk membayar buku dan sewa kamar.

Zulhaidi mengatakan bahwa ia tidak pernah tergoda untuk mengambil jalan mudah dengan keluar dari sekolah atau berkeliaran dalam dunia kejahatan. Sebaliknya, ia bekerja di restoran sampai tengah malam dan mencuci mobil untuk membiayai sekolah menengahnya.

Kata Zulhaidi, ketika kecil ia merasa ganjil ketika diolok-olok bahwa wajahnya tidak seperti pasangan Melayu yang membesarkannya.

”Ayah Melayu saya meninggalkan kami ketika saya berusia tiga tahun, ibu saya kemudian menikah lagi tetapi saya sukar menyesuaikan diri dengan ayah tiri, jadi saya meninggalkan rumah,” tutur Zulhaidi menjelaskan situasi sulit semasa kecil dimana ayah adopsinya yang seorang pecandu obat dan ibunya menikah lagi sehingga akhirnya ia meninggalkan rumah karena berselisih dengan ayah tirinya.

Zulhaidi, kini seorang sales executive dengan gelar Diploma Administrasi Bisnis, ia tidak merasa disiksa atau dibuang oleh keluarganya tetapi ia menginginkan hidup mandiri.

Tanpa sepengetahuan dirinya, ia telah tertukar ketika lahir di rumah sakit di Batu Pahat.

Setelah kebetulan bertemu dengan keluarga biologisnya delapan tahun yang lalu, sekarang Zulhaidi ingin mengubah namanya dan berharap pihak berwajib mengijinkannya untuk menetapkan agamanya sebagai Buddhisme pada Mykad-nya (kartu identitas).

Kata kunci: , , , ,
Penulis: