Asia Oseania » India » Pendidikan » Seremonial

Bahasa Pali Untuk Perdamaian

Selasa, 27 Februari 2007

Pembacaan Tipitaka PaliOhMyNews,
Bodh Gaya, India – Seremoni Pelafalan Tipitaka Kedua telah dibuka di Bodh Gaya, Bihar, India pada tanggal 12 Pebruari. Lebih dari 500 bhikkhu dan bhikkhuni yang mewakili enam negara Theravada Buddhisme (India, Sri Lanka, Bangladesh, Kamboja, Myanmar dan Thailand), berpartisipasi dalam 10 hari duduk melafalkan Tipitaka, kumpulan ajaran-ajaran Sang Buddha dalam bahasa Pali.

Disponsori oleh Y.M. Tarthang, Tulku asal California dari Light of Buddhadharma Foundation International (LBDFI), dan di ko-organisir oleh Mahabodhi Society, ini merupakan rangkaian acara tahunan yang kedua kalinya. Seremoni tahun lalu, diresmikan oleh Y.M. Dalai Lama, menandakan untuk pertama kalinya dalam 700 tahun para bhikkhu berkumpul di sini untuk melafalkan kanon Pali di tempat kelahiran Buddhisme.

Suara-suara masa lampau dari “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa” (”Terpujilah Sang Bhagava, Yang Suci, Yang Tercerahkan Sempurna”) bergema seperti halnya telah dilakukan ratusan tahun lalu dari bawah pohon Bodhi, dimana Sang Buddha duduk dan mencapai Pencerahan sekitar 2550 tahun yang lalu.

Di bawah Satu Pohon

Seremoni pelafalan ini menyeruak dari keinginan Rincopche Tarthang Tulku untuk menghidupkan kembali Buddhisme dalam Sangha di India, ”Aryadesha” (Tanah Suci) tempat kelahiran Buddhisme.

”Ini adalah keinginan ayah saya untuk membawa kembali ajaran asli Sang Buddha ke tempat asalnya, dan menggabungan sangha dalam payung tunggal, melafalkan bersama-sama dalam bahasa India,” kata putri dari Tulku, Wangmo Dixey, yang merupakan ketua dari LBDFI.

Tarthang Tulku juga merupakan pendiri dari Nyingma Monlam Chenmo Prayer Ceremony, yang juga dimulai dengan kelompok kecil pada tahun 1989 dengan 500 peserta. Yang sekarang tiap tahunnya dihadiri oleh sekitar 7000 bhikkhu dan bhikkhuni.

Meskipun Tarthang Tulku adalah seorang guru dari tradisi Vajrayana, acara tersebut menampilkan hubungan non-sektarian antara Theravada, Mahayana dan Vajrayana yang kadang-kadang terdapat perbedaan. ”Kami di sini sebagai pendukung dan pendana bagi para pelafal Theravada. Ini merupakan suatu berkah bagi kami untuk mendukung pelafalan dari teks-teks dharma awal,” kata Dixey dari tempat duduknya di bawah cabang pohon Bodhi. ”Dengan enam negara di bawah satu pohon suci akan memaksimalkan dampak dari pelafalan tiga volume pertama dari Tipitaka ini.”

Perbedaan Penyebaran

Para bhikkhu dari India, Sri Lanka, dan Bangladesh duduk bersama, sementara yang berasal dari Thailand, Myanmar dan Kamboja semuanya melafalkan dalam paviliun yang terpisah. Pengaturan ini mengakomodasikan perbedaan dalam hal pelafalan kata, naskah dan gaya pelantunan yang telah terjadi di masa lalu lebih dari dua ribu tahun penyebaran Buddhis. Masa mendatang dapat dijumpai semua biarawan melafalkan dalam keseragaman. ”Ini merupakan harapan besar kami,” kata Dixey, ”untuk segera mungkin menyeragamkan gaya pelantunan untuk kesempatan seperti ini.” Tahun lalu, Pali Tipitaka International Council dibentuk; yang di antara tujuannya adalah akan menstandarkan keseragaman gaya pelantunan Pali.

Di balik tenda-tenda, para sukarelawan mendidihkan air dan membawa cangkir berisikan lemon dan madu untuk melegakan suara para bhikkhu yang letih. LBDFI menyediakan penginapan dan makanan untuk keseluruh 500 peserta biarawan.

Seluruh peserta seremoni menerima berjilid salinan kitab suci kualitas terbaik, dicetak ulang dengan tinta tahan lama dengan kertas bebas asam, yang dirancang bertahan untuk selama 300 tahun. Yang luar biasa, beberapa bhikkhu dengan tekun telah menggunakan teks-teks fotokopi yang diantaranya hampir tidak bisa dibaca dan tidak tahan lama.

Salinan dari teks Pali dalam skrip Romawi (Inggris) juga tersedia untuk memudahkan pembelajaran bagi siswa-siswa Barat. Dan setiap sore di bawah pohon Bodhi diadakan ceramah dalam bahasa Inggris oleh para sarjana senior Theravada dari Myanmar, Thailand, Sri Lanka dan Australia, dimana kelompok alim ulama internasional dan umat awam berkumpul untuk mendapatkan pemahaman mendalam dari sabda-sabda Sang Buddha.

Seperti halnya Buddhisme itu sendiri, bahasa Pali memiliki hubungan dengan bahasa Sanskerta, juga berasal dari anak benua India. Ketika Buddhisme bermigrasi dari tempat asalnya, India, negara-negara Theravada di Asia Tenggara dan Sri Lanka menjadi basis dari keberlangsungan bahasa Pali.

Acara-acara seperti seremoni pelafalan ini, dan kebangkitan baru kembali Universitas Nalanda di Bihar (pusat untuk pembelajaran bahasa Pali), menandakan kerinduan masyarakat India akan bahasa suci tersebut. Di bawah cabang-cabang pohon Bodhi yang agung, nampaknya sabda-sabda Sang Buddha telah kembali ke akarnya secara harafiah.

Kata kunci: , , ,
Penulis: