“Festival Kematian” di Thailand – Usaha Bongkar Tabu Kematian
Bhagavant.com,
Nonthaburi, Thailand – Bagi kebanyakan orang, kematian menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan. Sebuah “Festival Kematian” di Thailand berusaha menentang tabu yang ada di masyarakat.

Di Thailand, sebuah festival unik bertajuk “Death Fest” mengajak masyarakat untuk menghadapi kenyataan tentang kematian, sembari menyediakan layanan praktis serta panduan spiritual dalam menyikapi akhir kehidupan.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, ajang ini berani mengangkat tema yang kerap dianggap tabu. Padahal, dalam ajaran Buddha—yang sangat memengaruhi budaya Thailand—kematian merupakan bagian tak terpisahkan dari siklus penderitaan hidup, bersama kelahiran, usia tua, dan penyakit.
Seorang pengunjung bernama Sangduan Ngamvinijaroon menghadiri acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut bersama ibunya di Provinsi Nonthaburi, dekat Bangkok. Ia mengakui, topik kematian dulu terasa sulit dibicarakan dalam keluarganya. Namun, setelah lebih dari dua dekade merawat anggota keluarga yang sakit—termasuk suaminya yang mengalami stroke serta kerabat dengan kanker—ia telah menyaksikan kematian secara langsung dan kini lebih terbuka membahasnya.
Menurutnya, daya tarik festival ini terletak pada pesannya yang tidak semata soal “mati dengan baik,” tetapi juga tentang menjalani hidup saat ini dengan penuh kesadaran dan merawat diri selagi masih ada waktu.
Acara tersebut menghadirkan berbagai pakar dan organisasi dari bidang kesehatan, perencanaan keuangan, perawatan paliatif, layanan pemakaman, hingga inovasi memorial. Beragam diskusi dan kegiatan tidak hanya berfokus pada persiapan menghadapi kematian, tetapi juga menjaga kualitas hidup hingga hari-hari terakhir.
“Setiap orang pasti akan berhadapan dengan kematian. Ini bukan hanya tentang diri kita sendiri,” ujar Zcongklod Bangyikhan, pemimpin redaksi majalah The Cloud sekaligus salah satu penggagas acara, seperti yang dilansir AP, Senin (16/3/2026). Ia menekankan bahwa alih-alih membayangkan bagaimana rasanya meninggal, masyarakat sebaiknya memikirkan cara meringankan beban orang-orang yang ditinggalkan.
Salah satu instalasi yang menarik perhatian pengunjung adalah “Test Die.” Dalam pengalaman ini, pengunjung dapat berbaring di dalam peti mati dengan berbagai ukuran dan desain, sambil melihat refleksi diri melalui cermin yang digantung di atas. Instalasi ini dirancang untuk mendorong refleksi, bukan menimbulkan ketakutan.
Phinutda Seehad, seorang pekerja kantoran, mengaku justru merasakan ketenangan setelah mencobanya. Ia mengatakan tidak merasa takut terhadap kematian, meski juga tidak menginginkannya. Namun, ia percaya saat waktunya tiba, hal itu tidak akan terasa menakutkan.
Di sisi lain, sebuah perusahaan memamerkan peti mati ramah lingkungan berbahan miselium—serat akar jamur—yang dapat terurai secara alami. Pendiri perusahaan, Jirawan Kumsao, menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan pendekatan pemakaman yang lebih berkelanjutan. Meski membawa contoh peti mati berukuran manusia ke pameran, perusahaannya selama ini lebih banyak memproduksi peti untuk hewan peliharaan.
Menurutnya, banyak orang merasa tenang karena dapat merawat hewan kesayangan mereka hingga akhir hayat. Desain peti tersebut bahkan diibaratkan seperti kapsul atau wahana luar angkasa yang mengantarkan mereka ke dunia lain.
Sementara itu, Noppasaward Panyajaray, pendiri platform memorial daring Sharesouls, mengamati ikatan emosional serupa. Layanannya memungkinkan pengguna menyimpan foto dan berbagi kisah tentang orang terkasih, menciptakan ruang digital bagi keluarga dan sahabat untuk meninggalkan pesan serta penghormatan.
Ia mengungkapkan bahwa awalnya platform tersebut dirancang untuk mengabadikan kenangan anggota keluarga. Namun, ia terkejut ketika banyak pengguna justru membuat halaman memorial bagi hewan peliharaan mereka.
“Banyak yang mengirimkan pesan terima kasih karena saat ini hampir tidak ada ruang untuk menyimpan cerita atau kenangan tentang hewan peliharaan,” ujarnya. “Padahal, bagi pemiliknya, setiap hewan memiliki arti yang sama pentingnya seperti anggota keluarga.”[Bhagavant, 22/3/26, Sum]
