KorSel Gelar Buddhism Expo 2026 pada April
Bhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Seoul International Buddhism Expo (BEXPO2026) atau Pameran Internasional Buddhisme Seoul 2026 bersama Konferensi Internasional Meditasi Seon, akan digelar pada April mendatang.

Pameran yang diselenggarakan oleh Nikaya Jogye —tradisi Buddhisme terbesar di Korea Selatan—dengan dukungan The Buddhist Newspaper ini akan berlangsung pada 2–5 April 2026 di pusat konvensi COEX serta Bongeunsa Temple yang berlokasi di Distrik Gangnam, Seoul.
Pengumuman yang disampaikan oleh Nikaya Jogye, tersebut akan menghadirkan kesempatan unik untuk menelusuri kekayaan spiritual dan budaya Korea Selatan, dengan tema utama yang mengangkat konsep dasar Agama Buddha tentang “kekosongan” sebagaimana tercermin dalam Sutra Inti Kebijaksanaan (Prajñāpāramitā Hṛdaya Sūtra – Heart Sutra). Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-14 dari acara tahunan tersebut.
Kepala Departemen Urusan Kebudayaan Nikaya Jogye, Y.M. Seongwon, menyatakan dalam konferensi pers pada 25 Maret di Korean Buddhist History and Culture Memorial Hall bahwa pihaknya berharap pameran tahun ini tidak hanya menjadi ajang populer, tetapi juga sangat diminati publik. Ia menambahkan, ketertarikan masyarakat terhadap budaya Buddhis meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak pertama kali digelar pada 2013, International Buddhism Expo ini telah menjadi salah satu agenda penting dalam kalender budaya nasional Korea Selatan. Acara ini berfungsi sebagai sarana untuk memahami pengaruh Agama Buddha terhadap seni, filsafat, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea, sekaligus memperkenalkan praktik ajaran Buddhis dalam konteks modern.
Panitia penyelenggara mengungkapkan, pada tahun lalu acara ini dikunjungi sekitar 200.000 orang. Sebanyak 77,6 persen di antaranya berasal dari generasi milenial dan Gen Z, sementara 52,1 persen pengunjung tidak memiliki afiliasi agama.
Hingga 25 April, jumlah pendaftar awal mencapai 52.000 orang, meningkat dibandingkan 45.000 pada 2025. Jogye Order memperkirakan total pengunjung tahun ini bisa mencapai 250.000 orang.
Melalui 435 stan, pameran ini akan menampilkan berbagai program pengalaman langsung terkait praktik dan budaya Agama Buddha, termasuk kesempatan berdialog langsung dengan para bhiksu. Lingkungan acara yang inklusif memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk belajar dan merasakan kedalaman tradisi Agama Buddha Korea.
Sebagai bagian dari konsep kreatif, seluruh pengunjung akan menerima bola yang terinspirasi dari kesamaan pelafalan kata “gong” (kekosongan) dan “gong” (bola) dalam bahasa Korea. Di dalam bola tersebut terdapat pesan layaknya fortune cookie, termasuk tiket untuk bertemu dengan para bhiksu.
Beberapa pengunjung yang beruntung juga berkesempatan memperoleh bola bertanda tangan pemimpin Nikaya Jogye, Y.M. Jinwoo, serta tokoh publik dan atlet snowboard seperti Kim Sang-kyum dan Yu Seung-eun.
Berbagai program lain turut meramaikan acara, mulai dari pameran produk meditasi, kerajinan bertema Agama Buddha tradisional dan modern, arca serta lukisan, hingga zona meditasi interaktif. Selain itu, akan digelar ceramah Dharma, pertunjukan musik dan tari tradisional, serta demonstrasi kuliner khas vihara.
Ketua The Buddhist Newspaper sekaligus salah satu penyelenggara, Y.M. Wonheo, menegaskan bahwa pameran ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang pameran, melainkan ruang terbuka yang menghubungkan Agama Buddha dengan masyarakat luas. Ia menambahkan, pendekatan modern akan digunakan untuk menjangkau generasi muda tanpa menghilangkan kedalaman tradisi.
Sementara itu, Vihara Bongeun (Bongeunsa) akan menjadi tuan rumah acara “Heart Sutra Gong Party”, yang menginterpretasikan ajaran Heart Sutra melalui musik modern seperti hip-hop dan EDM.
Y.M. Seongwon menegaskan pihaknya akan terus berupaya agar masyarakat lebih mudah memahami dan terlibat dalam filosofi Agama Buddha. Ia juga menyebutkan pentingnya mendorong budaya tradisional agar memiliki daya saing industri dan mampu berkembang menjadi ajang global.
Secara paralel, Vihara Bongeun juga akan menggelar Seoul Meditation Summit pada 3–5 April dengan tema “Meditasi Seon di Era Kecerdasan Buatan”.
Sebanyak 41 program disiapkan di area vihara, termasuk sesi meditasi Seon autentik bersama bhiksu Jogye, program “Walking Meditation with Companion Dogs”, serta presentasi bertajuk “AI Era, Why Seon Meditation?” oleh lembaga riset dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST).
Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Nikaya Jogye, Y.M. Jinwoo, menilai bahwa pameran tahun lalu berhasil menarik perhatian generasi muda melalui konten budaya Buddhis, bahkan memicu tren di kalangan mereka.
Ia menambahkan, pada tahun ini pihaknya berencana memperluas penyelenggaraan pameran Agama Buddha, termasuk di kota-kota seperti Daegu dan Busan. Langkah ini ditujukan untuk menjadikan pameran sebagai ajang global yang menampilkan keunggulan budaya Agama Buddha sekaligus menjadi platform pertukaran lintas generasi di tingkat internasional.
Berdasarkan data survei 2024, sebanyak 51 persen penduduk Korea Selatan tidak memiliki afiliasi agama dan umat Buddha sebesar 17 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, Buddhisme tercatat sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di Korea Selatan, seiring meningkatnya minat dari kalangan generasi muda.[Bhagavant, 28/3/26, Sum]
