Asia Oseania » Asia Tenggara » Bodhi Yātrā » Indonesia » Seni dan Budaya » Tradisi dan Budaya » Travel

Larangan Kenakan Celana Pendek di Borobudur

Seni dan Budaya BuddhismeBhagavant.com,
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia – Terhitung sejak tanggal 1 Pebruari 2010, PT. Taman Wisata Candi Borobudur menerapkan peraturan agar para wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur untuk tidak mengenakan rok ataupun celana pendek di atas lutut.

Meski demikian masih banyak wisatawan yang belum mengetahui peraturan baru ini. Oleh karena itu sejak di loket pembelian karcis, pihak pengelola memeriksa para wisatawan dan meminjamkan kain panjang berupa jarik untuk menutupi bagian bawah tubuh para wisatawan yang masih mengenakan celana pendek maupun rok mini. Untuk sementara, peminjaman kain ini masih bebas biaya dan hanya berlaku sampai akhir Maret 2010 mendatang dimana masa uji coba peraturan ini berakhir.

”Sebagai satu wujud apresiasi terhadap warisan nenek moyang kita yang usianya sudah 1200 tahun, ini bagaimana kita sebagai generasi sekarang bisa memberikan suatu penghargaan dan bisa memberikan suatu penghormatan,” demikian kata Pujo Suwarno, Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur yang diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi (3/2).

”Kita ingin mengembalikan nuansa pada abad ke-19 dimana ada satu dokumen, di situ (Borobudur – red) ada masyarakat semuanya memakai sarung,” tambah Suwarno.

Pengelola juga menerapkan pelarangan mengenakan sepatu berhak tinggi (high heels shoes) dan juga sepatu kulit. Hal ini berkaitan dengan pelestarian candi.

“Sebagaimana hasil dari penelitian yang ada bahwa salah satu penyebab keausan dari batu yang ada ini adalah karena gesekan dengan sepatu yang berhak tinggi dan sepatu kulit. Oleh karena ini sekaligus juga kita coba bagi wisatawan yang mengenakan sepatu berhak tinggi dan sepatu kulit kita minta untuk diganti dengan sandal karet.”

Meskipun demikian Suwarno mengakui sosialiasi peraturan baru ini belum menyebar ke semua lapisan masyarakat. Alih-alih menyebar ke semua lapisan masyarakat, bahkan sampai saat berita ini diturunkan oleh Bhagavant.com (5/2), peraturan baru ini belum tercantum dalam situs resmi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (www.borobudurpark.co.id).

Selain larangan mengenakan sepatu berhak tinggi dan sepatu kulit, ada baiknya pengelola memperhatikan hal lain yang juga menjadi masalah bagi Candi Borobudur pada saat ini, yaitu keberadaan mitos “kunto bimo” yaitu mitos yang mengatakan bahwa dengan merogoh (menggapai) rupang (patung) di dalam stupa di Candi Borobudur, maka akan mendapatkan rejeki. Mitos ini sama sekali tidak baik, selain tidak sesuai dengan ajaran agama Buddha, mitos ini mendorong para wisatawan untuk merogoh rupang di dalam stupa yang nantinya akan merusak stupa karena tekanan dari tubuh para wisatawan yang berusaha keras ingin merogoh isi stupa.[Sum]


Kategori: Asia Oseania,Asia Tenggara,Bodhi Yātrā,Indonesia,Seni dan Budaya,Tradisi dan Budaya,Travel
Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: