Penelitian Baru Ungkap Manfaat 2 Jenis Meditasi terhadap Kondisi Otak
Bhagavant.com,
Roma, Italia – Sebuah penelitian baru mengungkapkan peran 2 jenis meditasi terhadap neurologis (terkait saraf otak).

Bertentangan dengan anggapan umum yang keliru, meditasi bukanlah aktivitas “mengosongkan pikiran.” Sebuah penelitian internasional terbaru terhadap para bhikkhu menunjukkan bahwa meditasi justru merupakan kondisi ketika aktivitas otak meningkat dan dinamika kerjanya mengalami perubahan signifikan.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa praktik meditasi berkaitan dengan perubahan pola osilasi saraf, meningkatnya kompleksitas aktivitas otak, serta perubahan pada kondisi yang disebut brain criticality—yaitu keadaan keseimbangan antara keteraturan dan kekacauan dalam sistem otak. Perubahan ini diyakini mencerminkan kondisi otak yang lebih waspada, fleksibel, adaptif, sekaligus lebih efisien dalam memproses informasi.
Penelitian ini dipimpin oleh Karim Jerbi, profesor psikologi dari Université de Montréal, dan dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience of Consciousness. Penulis utama studi ini adalah Annalisa Pascarella dari Dewan Riset Nasional Italia. Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi internasional yang juga melibatkan Laura Marzetti, kepala laboratorium magnetoensefalografi (MEG) di Universitas Gabriele d’Annunzio Chieti-Pescara, serta Antonino Raffone, profesor psikologi dari Sapienza University of Rome. Berkat kontribusi mereka, rekaman aktivitas otak para bhikkhu yang sangat berpengalaman dalam meditasi dapat diperoleh.
Penelitian pada 12 biksu dan dua metode meditasi
Untuk memahami mekanisme halus yang terjadi selama meditasi, para peneliti melibatkan 12 bhikkhu dari tradisi Thai Forest di Vihara Santacittarama, yang berada di luar kota Roma. Secara rata-rata, masing-masing bhikkhu telah menjalani lebih dari 15.000 jam latihan meditasi.
Di laboratorium MEG di Chieti-Pescara, wilayah Abruzzo, aktivitas otak para bhikkhu dipindai (scan) ketika mereka bermeditasi. Penelitian ini menyoroti dua teknik meditasi utama.
Teknik pertama adalah Samatha, yaitu meditasi dengan perhatian terfokus pada satu objek tertentu, seperti pernapasan. Metode ini bertujuan menenangkan pikiran dan menciptakan kondisi mental yang stabil serta damai.
Teknik kedua adalah Vipassana, yaitu meditasi dengan pemantauan terbuka terhadap pengalaman saat ini. Dalam praktik ini, seseorang mengamati sensasi tubuh, pikiran, dan emosi yang muncul tanpa memilih ataupun menilai, sehingga dapat memahami sifat dasar pikiran.
Jerbi menjelaskan bahwa Samatha dapat diibaratkan seperti mempersempit sorotan cahaya senter sehingga fokus pada satu titik. Sebaliknya, Vipassana justru memperluas “sinar perhatian” sehingga kesadaran mencakup lebih banyak pengalaman sekaligus.
Kedua teknik tersebut sama-sama melibatkan mekanisme perhatian secara aktif. Meski Vipassana cenderung lebih sulit bagi pemula, dalam banyak program berkesadaran penuh (mindfulness) kedua metode ini biasanya dipraktikkan secara bergantian.
Konsep “criticality” (kekritisan) dalam kerja otak
Seperti yang dilansir Medical Xpress pada 9 Februari 2026, dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa kedua jenis meditasi sama-sama memicu perubahan signifikan dalam dinamika aktivitas otak, meskipun dengan cara yang berbeda. Perbedaan paling menonjol terlihat pada aspek yang disebut criticality atau kekritisan.
Konsep ini berasal dari fisika statistik dan telah diterapkan dalam ilmu saraf selama sekitar dua dekade. Criticality menggambarkan kondisi ideal ketika sistem otak berada pada keseimbangan optimal antara keteraturan dan kekacauan.
Menurut Jerbi, otak yang terlalu kaku akan sulit beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, jika aktivitasnya terlalu kacau, fungsi otak bisa terganggu, seperti yang terjadi pada epilepsi. Pada titik kritis inilah jaringan saraf mampu mempertahankan stabilitas untuk menyampaikan informasi secara akurat, sekaligus cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.
Keseimbangan tersebut membuat proses pengolahan informasi, pembelajaran, serta respons otak menjadi lebih optimal. Dengan kata lain, semakin dekat otak dengan kondisi criticality, semakin efisien, fleksibel, dan responsif pula cara kerjanya. Hal ini juga meningkatkan kemampuan seperti berpindah fokus antar tugas dan menyimpan informasi.
Penelitian menunjukkan bahwa meditasi Vipassana cenderung membawa otak lebih dekat ke kondisi kritis tersebut. Sementara itu, Samatha menghasilkan keadaan mental yang lebih stabil dan terfokus.

Potensi untuk membantu mengatasi gangguan mental
Jerbi menilai manfaat meditasi tidak hanya bergantung pada lamanya seseorang berlatih. Karena itu, berbagai program terapi berbasis meditasi kini semakin banyak digunakan untuk membantu mengatasi masalah seperti kecemasan, stres, hingga depresi.
Pada penderita depresi, misalnya, peningkatan fleksibilitas otak dapat membantu menurunkan aktivitas sirkuit saraf yang berkaitan dengan rumination, yaitu pola berpikir berulang yang terus berputar pada hal yang sama. Selain itu, kemampuan mengarahkan perhatian secara sadar juga berperan dalam mengatur emosi dengan lebih baik, yang merupakan aspek penting bagi kesehatan psikologis.
Jerbi menegaskan bahwa meditasi merupakan kondisi mental yang aktif dan melibatkan proses perhatian. Karena itu, praktik ini dapat memengaruhi berbagai fungsi otak sekaligus meningkatkan kesejahteraan mental serta mengurangi gejala stres, kecemasan, dan depresi.
Meski demikian, seseorang tidak harus memiliki pengalaman meditasi hingga 15.000 jam untuk merasakan manfaatnya. Namun, otak pemula tentu tidak langsung mencapai kondisi yang sama dengan praktisi berpengalaman. Seperti halnya olahraga atau hipnosis, motivasi dan kecenderungan individu juga berperan besar dalam keberhasilan latihan meditasi.
Teknologi pemindaian aktivitas otak
Untuk mempelajari aktivitas otak parabhikkhu saat bermeditasi, para peneliti menggunakan teknologi magnetoensefalografi (MEG). Metode neuroimaging ini mampu mengukur medan magnet yang dihasilkan oleh aktivitas listrik pada sel-sel saraf.
Teknik non-invasif ini memungkinkan pemantauan aktivitas otak secara langsung dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi, baik dari segi ruang maupun waktu.
Perangkat pemindai MEG merupakan alat yang sangat khusus dan hanya tersedia di sejumlah pusat penelitian universitas di dunia, termasuk di Université de Montréal. Teknologi ini dinilai sangat cocok untuk mempelajari meditasi karena mampu merekam dinamika aktivitas otak secara detail selama seseorang berada dalam kondisi meditasi.
Selain itu, tim peneliti juga menggunakan algoritma pembelajaran mesin (machine learning) untuk menganalisis data yang diperoleh. Teknologi ini digunakan bukan untuk mengetahui kondisi otak—karena para peneliti sudah mengetahuinya—melainkan untuk membedakan pola aktivitas otak saat praktik Samatha, Vipassana, maupun saat kondisi istirahat.
Jerbi menyebut kombinasi metode tersebut memungkinkan para ilmuwan mendokumentasikan dengan sangat rinci apa yang sebenarnya terjadi pada otak ketika seseorang bermeditasi. Temuan ini sekaligus memberikan pemahaman baru terhadap tradisi meditasi yang telah berlangsung selama ribuan tahun.[Bhagavant, 8/3/26, Sum]
