Amerika » Amerika Serikat

Kapelan Buddhis Semakin Banyak di AS

Bhagavant.com,
New York, Amerika Serikat – Kapelan Buddhis di Amerika Serikat semakin banyak jumlahnya. Apa itu kapelan Buddhis dan apa perannya di Amerika Serikat?

Kapelan Buddhis Semakin Banyak di AS
Foto: shutterstock

Agamawan telah lama menyediakan konseling atau layanan keagamaan di rumah sakit, penjara, dan rumah bagi orang sakit di Amerika Serikat. Mereka sering disebut sebagai kapelan.

Kapelan sendiri adalah agamawan yang bertugas untuk kelompok khusus seperti di universitas, tentara, dan penjara. Istilah ini berasal dari istilah dalam kekristenan, namun kini di dunia Barat istilah ini mengacu pada semua agamawan dari semua agama.

Dewasa ini, kapelan Buddhis memimpin jumlahnya atas para penasihat agama yang lebih beragam di AS yang mencakup Muslim, Hindu, dan lainnya.

Di Portland, Oregon, Skylar Freimann memiliki kondisi jantung terminal dan penyakit lainnya. Pandita Jo Laurence, seorang Buddhis tradisi Zen yang memiliki latihan bertahun-tahun dan pelatihan berada di sana untuk membimbing dan mendukung pasien di masa akhir kehidupanyan.

Alih-alih memohon kepada tuhan, Laurence berbicara tentang tradisi spiritual Timur: “Tubuh kadang-kadang bisa membebani kita,” dia menasihati seperti yang dilansir VOA News, Sabtu pekan lalu (21/5/2022) . “Di manakah yang ilahi atau sakral dalam kemunduran Anda?”

Buddhis memiliki posisi yang baik dalam spiritual untuk zaman sekarang. Buddhis menarik bagi orang-orang AS dari berbagai latar belakang budaya dan agama – termasuk orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai non-religius. Semakin banyak orang Amerika (kira-kira sepertiga) tidak beragama.

Program studi dan pelatihan Buddhis telah dibentuk atau telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut di antaranya termasuk Buddhist Ministry Initiative (Inisiatif Pelayanan Buddhis) di Harvard Divinity School dan jalur Buddhisme di Union Theological Seminary.

Monica Sanford, seorang pandita Buddhis yang telah ditahbiskan, adalah pejabat sekolah di Kementerian Multireligius di Harvard Divinity School. Dia mengatakan, “Programnya terus berkembang, jadi terlihat jelas bahwa ada peningkatan permintaan dari para mahasiswa. Dan para mahasiswa tampaknya mencari pekerjaan setelah lulus.”

Di masa lalu, kapelan Buddhis sering dipekerjakan oleh rumah sakit dan departemen kepolisian untuk bekerja dengan komunitas imigran Asia. Selama Perang Dunia II, mereka melayani tentara Jepang-Amerika di militer. Hari ini, bagaimanapun, mereka bekerja dengan banyak orang Amerika yang berbeda.

Dalam laporan pertama yang diterbitkan bulan ini, Monica Sanford dan peneliti lain mengidentifikasi ada 425 kapelan Buddhis di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Para kapelan tersebut mewakili semua tradisi utama Agama Buddha. Namun, para peneliti mengatakan kemungkinan ada lebih banyak lagi. Lebih dari 40 persen dari mereka bekerja di bidang perawatan kesehatan. Yang lain melayani di sekolah, penjara, atau sebagai konselor wiraswasta.

Leigh Miller, direktur program akademik dan publik di Maitripa College, sebuah perguruan tinggi Buddhis Tibet di Portland, telah melihat peningkatan minat dalam program Master of Divinity sejak diluncurkan 10 tahun lalu.

Rumah sakit dan institusi lain tertarik untuk mempekerjakan kapelan Buddhis, kata Miller, untuk meningkatkan keragaman staf. Kapelan Buddhis, tambahnya, juga pandai berhubungan dengan orang lain menggunakan bahasa yang inklusif dan netral, sementara orang Kristen “kembali pada bahasa tuhan, memimpin doa atau membaca kitab suci.”

Sementara itu, pelatihan dalam berkesadaran dan meditasi, serta keyakinan tentang sifat diri, realitas, dan ketidakkekalan penderitaan, memberi umat Buddha alat khusus untuk menghadapi rasa sakit dan kematian.

Providence Health & Services adalah organisasi nirlaba Katolik yang berbasis di negara bagian Washington yang menjalankan rumah sakit di tujuh negara bagian Barat. Mark Thomas, seorang kepala tugas di Oregon, mengatakan sistem rumah sakit tersebut mempekerjakan 10 kapelan Buddhis bukan karena identitas Katoliknya. Tujuannya adalah untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan spiritual yang baik namun paling cocok untuk mereka.

Thomas mengatakan banyak pasien menyukai atau merasa terhubung dengan ajaran Buddha atau praktik Buddhis. Dia mengatakan praktik seperti meditasi sangat berharga dalam membantu pasien mengatasi penderitaan.[Bhagavant30/5/22, Sum]


Kategori: Amerika,Amerika Serikat
Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: