Arkeologi » Sri Lanka

Kembalinya Rupaka Buddha Sri Lanka Setelah Pergi 100 tahun

Selasa, 21 Januari 2020

Bhagavant.com,
Kandy, Sri Lanka – Sebuah rupaka Buddha kecil akhirnya kembali ke tempatnya berasal di Kandy, Sri Lanka setelah pergi dan menetap di Inggris selama 100 tahun.

Kembalinya Rupaka Buddha Sri Lanka Setelah Pergi Hampir 100 tahun
Rupaka Buddha kayu yang dikembalikan ke Vihara Sri Dalada Maligawa. Foto: Facebook Sri Dalada Maligawa

Pendeta Kenneth Bell, bersama putrinya Fiona Davis, menemani kembalinya sebuah rupaka Buddha yang penting ke Vihara Sri Dalada Maligawa (Vihara Relikui Gigi Suci), di Kandy, Sri Lanka, pada 17 Desember 2019 lalu.

Pendeta Kenneth Bell yang merupakan cucu arkeolog dan penjelajah terkenal asal Inggris, Harry Charles Purvis Bell — lebih dikenal sebagai HCP Bell (1851–1937) — mengembalikan rupaka itu ke Sri Lanka setelah benda itu dimiliki keluarganya selama 100 tahun.

Rupaka Buddha yang memiliki tinggi 14 sentimeter, diambil dari situs arkeologi pada tahun 1919 oleh HCP Bell, yang terkenal sebagai “bapak arkeologi” di Sri Lanka. Bell menjabat sebagai komisaris arkeologi pertama Sri Lanka (kemudian disebut Ceylon) dari tahun 1890–1912, dan melanjutkan pekerjaannya hingga pensiun, meninggal di Sri Lanka pada tahun 1937. Jubah dan hiasan kepala pada rupaka tersebut menunjukkan bahwa rupaka itu kemungkinan besar berasal dari Periode Kandyan (abad 15-19).

Gifted Buddha Statue to HCP Bell in 1919& returned in 17 Dec, 2019 to the Temple of Toothby his Grandson Kenneth Bell.- Media Bureau Sri Dalada Maligawa

Posted by Sri Dalada Maligawa on Tuesday, December 17, 2019

Menurut sepengetahuan keluarga, HCP Bell diberi izin untuk mengambil sebuah rupaka kayu kecil oleh seorang bhikkhu di Vihara Relikui Gigi Suci.

“Ia (HCP Bell) membawa saya ke Vihara Gigi dan dengan tenang mengambil rupaka Buddha dari sebuah altar. ‘Anda tidak keberatan?’ Katanya (HCP Bell) kepada seorang pendeta Buddhis dengan jubah safronnya. ‘Oh tidak,’ jawabnya. ‘Big Master mengambil apa saja yang dia inginkan. Big Master melakukan banyak hal untuk kami menerjemahkan Ola (manuskrip daun palem) kami’,” cerita keluarga Bell berdasarkan ingatan dari Dorris Murray, ibunya Pendeta Kenneth Bell seperti yang dilansir Sunday Times, (13/12/2019).

Setelah 100 tahun dalam kepemilikannya keluarga Bell memutuskan sudah waktunya untuk mengembalikan rupaka itu kepada pemilik historisnya. Anggota keluarga melakukan perjalanan ke Sri Lanka dari rumah mereka di Hampshire, Inggris, pada bulan Desember untuk mengambil bagian dalam upacara yang menandai kembalinya mereka.

“Kami percaya inilah saatnya bagi (rupaka) Buddha kecil untuk kembali ke rumah,” kata Pendeta Bell, yang berusia 90 tahun pada 8 April. Ia mengatakan bahwa sesudahnya ia merasa mungkin tidak dapat melakukan banyak perjalanan. Pendeta Bell menambahkan: “Ini adalah aksi damai dan persatuan antara Agama Buddha dan Kristen kita, yang dikhotbahkan oleh dua orang besar — Buddha dan Kristus.”

Saat ini, pada dudukan baru rupaka itu terdapat sebuah tulisan berbunyi, “Diberikan kepada HCP Bell pada 1919 dan dikembalikan pada 2019 ke Vihara Gigi oleh cucunya, Kenneth Bell. Stan perak disumbangkan oleh Keluarga Ondaatjie.”[Bhagavant, 21/1/20, Sum]

Kata kunci:
Penulis:

REKOMENDASIKAN: