Sains » Tradisi dan Budaya

Upaya Mengungkap Kembali Tradisi Buddhis Tamil

Rabu, 12 Juni 2019

Bhagavant.com,
Tamil Nadu, India – Sekelompok intelektual asal India meluncurkan sebuh platform penelitian bertajuk Tamil Buddha Araichi Palli, mengenai tradisi Buddhis dari etnis Tamil.

Rupaka Buddha di sebuah kuil Hindu di Perambalur, Tamil Nadu, dipuja sebagai dewa bernama “Muni”. Foto: wikipedia

Rupaka dewa yang disebut sebagai “Muni” banyak dijumpai dan dipuja di daerah Tamil Nadu. Stalin Rajangam, seorang penulis dan peneliti India mengatakan bakwa leksikon Tamil yang diterbitkan oleh Universitas Madras mencantumkan ‘Muni’ sebagai nama lain dari Buddha. Arti lain dari kata ini termasuk ‘Theerthangara‘ dan ‘Arugan,’ yang semuanya berseberangan dengan makna yang lazim.

“Misalnya, di distrik Salem, ada Kuil Thalavetti Muneeswarar, di mana rupaka dewa itu adalah rupaka Buddha yang terpotong, yang wajahnya sendiri telah dimodifikasi,” katanya Stalin seperti yang dilansir The Hindu, Selasa (4/6/2019).

Hal itu hanyalah satu contoh dari tradisi Buddhis yang berbeda yang pernah tumbuh subur di ranah berbahasa Tamil, yang kemudian hilang karena distorsi sejarah, dan sekarang tetap sebagai endapan tak terlihat dalam tradisi, ritual, nama, dan kepercayaan.

Stalin mengatakan hampir 150 rupaka Buddha, yang sebagian besar sudah rusak atau terpotong kepalanya telah ditemukan di berbagai bagian Tamil Nadu dalam beberapa tahun terakhir, yang sekali lagi menunjukkan kelaziman bagi Agama Buddha di sini di masa lalu.

Terutama untuk menemukan kembali sejarah ini, sekelompok intelektual India berkumpul di Madurai untuk meluncurkan Tamil Buddha Araichi Palli, sebuah platform penelitian untuk melihat sejarah melalui lensa alternatif tanpa hanya mengandalkan teks dan bukti nyata lainnya.

Stalin mengatakan idenya menggunakan pendekatan unik yang digunakan oleh Iyothee Thass Pandithar, polymath, reformis dan revolusioner abad ke-19, yang membayangkan sejarah alternatif Dalit berdasarkan Agama Buddha.

“Iyothee Thass Pandithar, melalui berbagai contoh, memberi tahu kita bagaimana sejarah terdistorsi dari waktu ke waktu karena diceritakan kembali oleh kekuatan yang ada dan bagaimana hal itu dapat ditelusuri kembali dengan menganalisis tradisi, ritual dan bahkan nama dengan cermat,” katanya.

Namun, ia menyoroti bahwa baik agama Buddha dan karya-karya Iyothee Thass Pandithar saat ini hanya terlihat dalam konteks perjuangan anti-kasta. “Melihat berbagai hal secara politis adalah penting. Tetapi memandang mereka secara budaya juga sama pentingnya, jika kita ingin menghidupkan kembali Agama Buddha sebagai lawan hegemoni kasta,” katanya.

Menyatakan bahwa platform tersebut adalah kumpulan dari para peneliti yang berkomitmen, Stalin mengatakan bahwa metodologi penelitian mereka akan melibatkan kerja lapangan yang luas.

“Hal ini berbeda dari studi cerita rakyat, yang memiliki kecenderungan untuk menempatkan tradisi lisan di atas teks. Kami percaya bahwa ada interaksi antara keduanya, dan mereka saling memengaruhi,” tambahnya.

Ia mengatakan platform tersebut berniat untuk menyelenggarakan setidaknya dua konferensi setiap tahun untuk membahas dan mempublikasikan temuan penelitian tersebut.

B. Jambulingam, mantan Asisten Panitera Universitas Tamil, yang telah menemukan sekitar 50 rupaka Buddha di Tamil Nadu, dan V. Geetha, penulis dan peneliti, meresmikan Tamil Buddha Araichi Palli di Madurai baru-baru ini.[Bhagavant, 12/6/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: