Tradisi dan Budaya

Tradisi dalam Cap Go Meh Ini Berhubungan dengan Tradisi Buddhis

Senin, 18 Februari 2019

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Salah satu tradisi dalam perayaan Cap Go Meh dalam kebudayaan Tionghoa memiliki hubungan dengan tradisi Buddhis.

Tradisi menyalakan lentera pada perayaan Cap Go Meh memiliki hubungan dengan tradisi Buddhis.
Tradisi menyalakan lentera pada perayaan Cap Go Meh memiliki hubungan dengan tradisi Buddhis.

Perayaan Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa ditutup dengan perayaan Cap Go Meh (malam ke-15) saat Purnama. Perayaan ini umumnya disebut sebagai Yuánxiāo Jié (元宵节) yang secara harfiah berarti Festival Malam Pertama – dengan pengertian malam pertama saat Purnama muncul dalam penanggalan lunar. Cap Go Meh juga disebut sebagai Festival Lentera karena salah satu tradisi yang dilakukan pada perayaan ini adalah menyalakan lentera atau pelita.

Awal Mula

Ada beberapa versi mengenai awal munculnya tradisi menyalakan lentera atau pelita dalam perayaan Cap Go Meh di Tiongkok.

Menurut Chinese Festival Culture Series -The Lantern Festival oleh Li Song, salah satunya terkait dengan tradisi Agama Buddha yang mulai berkembang di Tiongkok pada masa Kaisar Ming dari Han (28-75).

Kaisar Ming mengutus delegasinya ke India untuk mencari ajaran Buddha setelah ia bermimpi mengenai sosok yang diartikannya sebagai Sri Buddha. Delegasi tersebut berhasil membawa teks-teks keagamaan dan dua orang bhiksu asal India bernama Kasyapa Matanga (Jia Yemoteng 迦葉摩騰) dan Dharmaratna (Zhu Falan 竺法蘭) ke Tiongkok.

Selain itu, delegasi tersebut juga membawa kabar bahwa di India pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan lunar merupakan hari yang baik untuk melakukan puja bakti kepada Sri Buddha. Pada saat itu semua bhiksu akan menyalakan lampu mentega (酥油灯 – sūyóu dēng) untuk menghormati relikui Sri Buddha.

Catatan Tiongkok tidak merinci momen apa yang dirayakan pada hari yang baik tersebut di India. Tetapi yang pasti, setiap Purnama (biasanya tanggal 15 penanggalan lunar), umat Buddhis memperingati hari Uposatha (memurnikan diri atau puasa), saat umat Buddhis melakukan perenungan dan pengamalan sila (kemoralan).

Keterkaitan

Namun ada kalanya tanggal 15 bulan 1 penanggalan lunar bertepatan dengan perayaan Hari Magha Puja. Hari Magha Puja yang merupakan salah satu hari raya Agama Buddha yang jatuh pada Purnama di bulan Magha (bulan ke-11 penanggalan India kuno). Berdasarkan penanggalan internasional, bulan Magha pada umumnya juga jatuh pada bulan Februari. Dengan demikian ada kemungkinan (meski perlu ditelusuri lebih lanjut) momen tersebut merupakan Hari Magha Puja.

Jejak tradisi menyalakan lampu mentega pada pada tanggal 15 bulan 1, juga dapat dilihat pada Festival Keajaiban (Chotrul Düchen) oleh umat Buddhis di Tibet hingga sekarang. Chotrul Düchen merupakan salah satu dari 4 hari raya Agama Buddha (versi Tibet), untuk memperingati peristiwa saat Sri Buddha memperlihatkan keajaiban ganda.

Saat mendengar kabar bahwa adanya tradisi menyalakan lampu mentega di India pada tanggal 15 bulan 1, untuk menghormati tradisi tersebut Kaisar Ming memerintahkan untuk menyalakan pelita di vihara-vihara, istana, rumah pejabat, dan rumah-rumah masyarakat untuk menghormati Sri Buddha pada hari tersebut.

Menyalakan lampu mentega.
Menyalakan lampu mentega. Foto: wikipedia.org
Perkembangan

Tradisi menyalakan lampu mentega kemudian mengalami pengembangan terutama dalam bentuknya disesuaikan dengan kondisi setempat. Lampu mentega digantikan dengan lampu minyak, lilin hingga akhirnya lentera.

Disebutkan dalam Catatan Awal Mula Hal dan Peristiwa atau Shiwu jiyuan (事物紀原 – Shìwù jì yuán – 1085) karya Gao Cheng (高承), Kota Chang’an, ibu kota Dinasti Han Barat dan Timur saat itu melakukan jam malam setiap malam kecuali malam ke-15 dari bulan pertama Imlek. Bahkan pada malam ke-14 dan 16, masyarakat diizinkan untuk ke luar rumah dan menonton lentera-lentera di bawah Bulan Purnama.

Secara bertahap tradisi menyalakan lentera menjadi sebuah perayaan besar bagi masyarakat umum. Di rumah-rumah pada masa itu, masyarakat umum akan menyalakan lentera, dupa (hio), mempersembahkan buah untuk menghormati Sri Buddha.

Saling memengaruhi antara tradisi budaya Tionghoa terkait perayaan akhir Tahun Baru Imlek dengan tradisi Buddhis, memengaruhi kisah di balik tradisi menyalakan lampu mentega atau lentera yang kemudian disebut sebagai Festival Lentera.

Tradisi menyalakan lampu mentega yang bertepatan pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan lunar, tidak serta merta menandakan awal terbentuknya perayaan Cap Go Meh secara keseluruhan. Cap Go Meh yang ada saat ini terbentuk dari perpaduan kompleks berbagai tradisi dan kepercayaan.

Kini, berbagai bentuk dan warna lentera digunakan untuk memeriahkan perayaan Cap Go Meh yang menandakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.[Bhagavant, 18/2/19, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: