Amerika » Amerika Serikat

Buddhis Diaspora Myanmar Bangun Stupa di Akron, Ohio, AS

Rabu, 5 September 2018

Bhagavant.com,
Ohio, Amerika Serikat – Komunitas diaspora Buddhis etnis Mon Myanmar mendirikan stupa di Akron, Ohio, Amerika Serikat.

Pemasangan chatta Stupa Akron komunitas etnis Mon, di Ohio, Amerika Serikat, Minggu (26/8/2018).
Pemasangan chatta Stupa Akron komunitas etnis Mon, di Ohio, Amerika Serikat, Minggu (26/8/2018). Foto: ohio.com

Sebuah stupa emas bersinar di bawah perancah yang dibangun tangan pada Minggu (26/8/2018) saat seorang bhikkhu menaiki tangga, selangkah demi selangkah, yang bersandar padanya.

Bhikkhu tersebut dan beberapa orang lain mengambil tempat di tengah perancah yang menjulang beberapa tingkat di atas kerumunan lebih dari 300 orang yang berkumpul di halaman belakang Vihara Komunitas Akron Mon di Jalan Sherman 665.

Saat genta dan sangkakala berbunyi warga mulai menarik seutas tali katrol panjang, memulai pendakian perlahan potongan-potongan emas yang merupakan “mahkota” stupa. Sejumlah orang dan bhikkhu ikut mendaki saat “mahkota” stupa itu dipasang.

Pemberian “mahkota” stupa itu tidak hanya menandai kehadiran komunitas etnis Mon Myanmar di Akron, tetapi juga menjadi pusat baru di kota tersebut bagi para pengungsi dari wilayah Asia Selatan.

“Kami benar-benar hanya ingin membangun komunitas kami di sini di Akron supaya orang-orang dapat melihat kami ada di sini,” kata Htaw Mon, seorang anggota Vihara Komunitas Akron Mon, seperti yang dilansir Akron Beacon Journal, Minggu (26/8/2018). “Ini hanya mewakili persatuan yang coba kami tunjukkan.”

Komunitas etnis Mon adalah bagian dari masuknya imigran Asia yang telah menetap di Akron sejak 1992. Sebagian besar di komunitas Mon adalah umat Buddhis Theravada yang beremigrasi dari Myanmar (Birma) atau Thailand.

Meskipun lingkungan North Hill dikenal dengan komunitas Nepal, Bhutan, dan Myanmar, populasi etnis Mon juga menonjol di lingkungan University Park, di mana Vihara Komunitas Akron Mon berada.

Pembangunan stupa.

Soe Htike dari Vihara Komunitas Akron Mon mulai memimpin pembangunan stupa dua tahun lalu. Anggota komunitas etnis Mon tidak menggunakan kontraktor luar untuk melakukan pekerjaan karena biayanya yang sangat besar.

Sebaliknya, mereka membangun stupa hanya dari sumbangan masyarakat, bersama dengan beberapa bantuan keuangan dari organisasi luar lainnya.

Stupa Akron – lebih spesifik disebut “dhatu cetiya” yang merupakan tempat suci menyimpan relikui Sri Buddha yang otentik – adalah yang pertama dari jenisnya di negara bagian tersebut. Stupa tersebut diklaim menyimpan relikui Buddhis asli dari Sri Lanka.

Pemahkotaan stupa adalah upacara tradisional yang berasal dari berabad-abad yang lalu. Hampir semua stupa Birma dihiasi dengan sebuah ornamen hias disebut “hti” (Pali: chatta; Skt: chatra), yang berarti payung, yang dihiasi dengan berlian atau batu berharga lainnya.

Soeng Kha Mahn, seorang sekretaris Vihara Komunitas Akron Mon, mengatakan hti mewakili Nibbana dalam Agama Buddha. Berlian di atasnya merepresentasikan pemurnian, “seperti kita harus memurnikan langkah demi langkah” dalam Agama Buddha, kata Mahn.

Para bhikkhu saat upacara.

Upacara pada hari Minggu menarik orang-orang dari seluruh dunia. Beberapa bhikkhu senior terbang dari Myanmar dengan relikui, dan mereka bergabung dengan para bhikkhu lainnya yang melakukan perjalanan dari seluruh Amerika Serikat.

Perayaan dimulai hari Sabtu dan berlanjut sepanjang malam dan memasuki Minggu pagi, ketika masyarakat berkumpul untuk bermeditasi dan kemudian berpawai menuju stupa untuk pemahkotaan.

Pada hari Minggu sore, kerumunan masyarakat berlutut di depan 20 bhikkhu untuk melakukan puja bakti dan pemberkatan stupa.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pengangkutan hti di mulai sebagian demi sebagian.

Setelah para bhikkhu dan yang lainnya membantu berada di perancah di atas stupa, serpihan emas itu diangkut dengan sistem katrol dalam kereta buatan tangan yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan payung putih.

Rakitan yang teliti memakan waktu hampir dua jam untuk diselesaikan. Setelah selesai, perayaan dilanjutkan hingga malam dengan lebih banyak puja bakti, makanan, dan hiburan dari komunitas Mon.

Simbol budaya.

Bagi sebagian orang di komunitas Mon, pemahkotaan tersebut adalah pendirian kembali tradisi, simbol perbedaan dari komunitas pengungsi Asia lainnya di daerah tersebut.

“Ini mengingatkan saya ketika kami di rumah,” kata Yunmimi Khaing, seorang remaja berusia 17 tahun yang keluarganya beremigrasi dari Thailand pada tahun 2012.

Yunmimi mengatakan keluarganya sering mengunjungi sebuah stupa setiap minggu untuk puja bakti. Dia mengharapkan menghidupkan kembali tradisi itu sekarang karena stupa itu dibangun.

“Ini adalah sebuah kehormatan yang terjadi di sini, terutama begitu dekat dengan rumah kami,” tambah Yunmimi.

Yang lain, seperti Mahn dan Htaw Mon, berharap stupa tersebut menjadi tempat di mana orang-orang dari semua tradisi Agama Buddha, dan semua budaya, dapat datang untuk menikmati dan bermeditasi.

“Ini menunjukkan apa yang bisa kita lakukan jika kita bekerja bersama. Rasanya sangat, sangat bagus bagi kami untuk membangun semuanya sendiri,” kata Htaw Mon. “Saya hanya merasa itu menambah sedikit budaya pada kota ini.”[Bhagavant, 5/9/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: