Amerika Serikat » Buddhisme dan Kesehatan » Psikologi

Penelitian: Pancasila Buddhis Menahan Efek Stres dari Depresi

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Sebuah penelitian terbaru membuktikan bahwa mengamalkan Pancasila Buddhis dapat menahan dan melindungi seseorang dari efek stres dari depresi.

Penelitian: Pancasila Buddhis Menahan Efek Stres dari Depresi
Foto: shutterstock

Umat Buddha selalu dianjurkan dan didorong untuk mengamalkan Pancasila (lima sila/kemoralan) tidak hanya untuk mengurangi perbuatan jahat tetapi juga untuk mengurangi dukkha (penderitaan) khususnya penderitaan batin. Penderitaan batin itu sendiri memiliki banyak jenis, di antaranya depresi.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 322 juta orang di dunia ini hidup dengan depresi, dan hampir setengah dari orang-orang ini tinggal di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Mengamalkan Pancasila dapat mengurangi penderitaan batin bukan klaim kosong dan bukan hal yang baru dan sudah terbukti ribuan tahun lamanya. Namun, penelitian baru-baru ini memperkuat klaim tersebut.

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan di PLOS One, sebuah jurnal ilmiah dengan akses terbuka dan penelaahan sejawat (peer-review) yang diterbitkan oleh Public Library of Science, penerbit nirlaba yang berbasis di AS, telah menggarisbawahi keefektifan Pancasila Buddhis dari perilaku kemoralan dalam kehidupan sehari-hari sebagai aspek kunci untuk memelihara dan meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional.

Penelitian yang dilakukan di Thailand dari akhir 2019 hingga September 2022, telah menunjukkan bahwa orang yang mengalami neurotisme dan stres dengan tingkat yang lebih tinggi memiliki risiko lebih rendah terkena depresi jika mereka menjalankan Pancasila Buddhis.

Dan meskipun hasil menunjukkan bahwa mengamalkan Pancasila tidak secara langsung memengaruhi hubungan antara neurotisme dan depresi, para peneliti berbagi bahwa mengamalkan Pancasila secara signifikan mengurangi kemungkinan mengembangkan gejala depresi yang disebabkan oleh stres yang dirasakan.

“Mengamalkan Pancasila menawarkan bukti bahwa hal itu melindungi efek stres yang dirasakan pada depresi,” kata para peneliti dalam kesimpulan mereka seperti yang dilansir PLOS One. “Orang-orang dengan tingkat pelaksanaan Pancasila yang tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan gejala depresi. Implikasi serta kemungkinan penelitian di masa depan telah dibahas.”

Meskipun penelitian ini berukuran kecil, terdiri dari 644 responden di Thailand, dan bergantung pada hasil yang dilaporkan sendiri, para peneliti yang dipimpin oleh Nahathai Wongpakaran di Universitas Chiang Mai Thailand dan Universitas Gereja Reformed Károli Gáspár di Budapest—menyatakan keyakinan tentang penerapan yang luas dari pekerjaan mereka.

Para peneliti di Thailand mengukur tingkat stres, neurotisme, dan depresi yang dirasakan setiap responden. Mereka membandingkan temuan mereka dengan seberapa dekat setiap responden mengamalkan Pancasila Buddhis.

Para peneliti menunjukkan bahwa penelitian mereka dapat menginformasikan intervensi perilaku untuk kesehatan mental secara umum. Mereka mencatat bahwa hasilnya sejalan dengan semakin banyak penelitian yang menunjukkan semakin meningkatnya penerimaan ilmiah terhadap berkesadaran penuh (mindfulness) dan meditasi sebagai alat yang bermakna untuk kesejahteraan psikologis, bahkan di luar konteks budaya dan spiritual aslinya.

“Menjalankan Pancasila harus didorong untuk dilatih seperti meditasi berkesadaran. Berdasarkan Agama Buddha, Pancasila disarankan untuk dipraktikkan secara bersamaan,” kata para peneliti.

“Meskipun Pancasila [berasal] dari ideologi Buddhis, non-Buddhis dapat mematuhi kepatuhan ini karena perilaku pengendalian diri ini tampaknya membuat individu yang mengikutinya dianggap sebagai orang yang ‘tidak membahayakan dan aman’ bagi masyarakat. Akan menarik untuk mempelajari masalah ini dalam budaya non-Buddhis.”

Pancasila Buddhis yang merupakan lima latihan kemoralan yang menjadi pondasi dasar dari sebuah kehidupan yang baik, terdiri dari:

  1. Menghindari pembunuhan makhluk hidup (Pali: pāṇātipātā veramaṇī; Sanskerta: prāṇātipātād vairamaṇī.)
  2. Menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan (Pali: adinnādānā veramanī; Sanskerta: adattādānād vairamaṇī.)
  3. Menghindari melakukan berahi dengan cara yang salah (Pali: kāmesu micchācārā veramaṇī, Sanskerta: kāmeṣu mithyācārād vairamaṇī
  4. Menghindari ucapan yang tidak benar (Pali: musāvādā veramaṇī; Sanskerta: mṛṣāvādād vairamaṇī.)
  5. Menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (Pali: surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī; Sanskerta: surā-maireya-madya-pramāda-sthānād vairamaṇi.)

Dalam jurnal tersebut, para peneliti mencatat bahwa meskipun penelitian mereka menunjukkan manfaat potensial dari Pancasila dalam konteks depresi, diperlukan lebih banyak penelitian untuk membuktikan hubungan sebab akibatnya.[Bhagavant, 7/12/22, Sum]


Kategori: Amerika Serikat,Buddhisme dan Kesehatan,Psikologi
Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: