India

Konklaf Media Buddhis Asia yang Pertama Digelar di India

Jumat, 31 Agustus 2018

Bhagavant.com,
New Delhi, India – Sebuah konferensi yang pertam akalinya tentang hubungan antara media dan prinsip-prinsip Buddhis, diadakan di India.

Konklaf Media Buddhis Asian, 27–28 Agustus 2018, New Delhi, India.
Asian Buddhist Media Conclave, 27–28 Agustus 2018, New Delhi, India. Foto: twitter.com

Konklaf atau konferensi yang diselenggarakan oleh International Buddhist Confederation (IBC) dan Vivekananda International Foundation (VIF) diselenggarakan pada 27-28 Agustus 2018 di New Delhi, India.

Acara tersebut mengambil judul: “Asian Buddhist Media Conclave – Mindful Communication for Conflict Avoidance and Sustainable Development” (Asian Buddhist Media Conclave – Komunikasi Berkesadaran untuk Menghindari Konflik dan Pembangunan Berkelanjutan).

Seperti yang dilansir Adaderana, Senin (27/8/2018) banyak cendekiawan Asia, praktisi media, perwakilan agama dan komunikator lainnya bertemu di sini. Acara tersebut mencakup pembicara utama, sesi panel, lokakarya, pemutaran film dan presentasi budaya.

Selama pertemuan dua hari tersebut, serangkaian pembicara tidak hanya membahas karya media Buddhis, tetapi juga bagaimana paradigma jurnalisme yang terinspirasi Agama Buddha dapat dikembangkan untuk masyarakat Asia, terutama dalam konteks krisis global dan meningkatnya ketidakpercayaan lembaga dan metodologi media tradisional.

Direktur VIF, Arvind Gupta membuka konferensi dengan menitikberatkan bahwa di zaman globalisasi, meningkatnya ketidaksetaraan, dan migrasi massal dan krisis pengungsi, “peradaban Buddhis di India” dapat berkontribusi pada prinsip pengorganisasian baru untuk media di abad ke-21.

Sekretaris jenderal IBC, Y.M. Dhammapiya mempertanyakan beberapa praktik yang berlaku di media komersial, mengatakan bahwa jurnalis “seharusnya tidak selalu fokus pada kegelapan, tetapi pada menyalakan lilin yang membawa cahaya.”

Ia juga memberikan perspektif tentang istilah “pembangunan berkelanjutan,” mengatakan bahwa banyak orang berpikir tentang pencakar langit yang menjulang tinggi dan kereta api berkecepatan tinggi. Namun, ia mengamati, jika pikiran manusia tidak berkembang, tetapi tetap penuh kebencian, keserakahan, dan delusi, maka pertanyaan tentang apa yang sedang dikembangkan akan tetap dalam keraguan etis.

Konferensi media Buddhis tersebut berlanjut dengan berbagai panel, dengan pembicara mulai dari wartawan hingga penasihat media.

Kalinga Seneviratne, seorang jurnalis yang produktif dalam tradisi postkolonial, mengatakan bahwa umat Buddha perlu membangun jaringan komunikasi strategis, memulai lebih banyak interaksi global untuk mendorong persatuan dan kolaborasi, dan membangun narasi untuk melawan apa yang sering dianggapnya sebagai pemberitaan negatif.[Bhagavant, 31/8/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: