Jepang » Sosial

Ratusan Vihara Jepang Manfaatkan Sisa Lilin Puja untuk Amal

Minggu, 12 Agustus 2018

Bhagavant.com,
Kyoto, Jepang – Ratusan vihara di Jepang bergabung untuk menerangi daerah-daerah di Asia yang dirundung kegelapan dengan memanfaatkan sisa lilin puja.

Wa-rousoku, lilin puja tradisi Jepang.
Wa-rousoku, lilin puja tradisi Jepang.

Sekitar seratus ribu lilin yang berasal dari lilin puja (wa-rousoku) yang telah dipakai, dimanfaatkan oleh ratusan vihara di Jepang untuk disumbangkan kepada anak-anak di negara-negara yang belum memiliki akses listrik.

Lilin-lilin tersebut masih bisa digunakan untuk beberapa jam lamanya, tetapi tidak ada permintaan untuk lilin itu di dalam Jepang sendiri.

Kobori Inc., perusahaan Jepang dan pemasok aksesoris Buddhis di Distrik Shimogyo, Kyoto, berada di belakang prakarsa yang telah melibatkan ratusan vihara selama bertahun-tahun, terutama dari tradisi Buddhis Tanah Suci.

Seperti yang dilansir The Asashi Shimbun, Senin (6/8/2018), pada bulan Juni lalu, lebih dari 7.800 lilin yang sebagian telah digunakan dari 169 vihara dimasukkan ke dalam 69 kardus dan diangkut dengan truk ke Pelabuhan Yokohama. Di sana mereka dikirim untuk dibagikan kepada anak-anak yang membutuhkan di Afghanistan oleh Organisasi Nonpemerintah Jepang untuk Kerjasama Internasional dalam Keluarga Berencana (JOICFP ).

Lilin tradisional Jepang yang digunakan di vihara di Jepang umumnya lebih tebal daripada yang bergaya Eropa. Lilin tersebut juga cenderung memiliki sumbu yang lebih tebal, yang berarti menghasilkan nyala api yang lebih besar yang tidak mungkin berkedip dan padam karena sedikit angin.

Anak-anak di negara berkembang memegang lilin puja dari JOICFP.
Anak-anak di negara berkembang memegang lilin puja dari JOICFP. Foto: asahi.com

Selama puja bakti di vihara di Jepang yang diadakan untuk memperingati mereka yang meninggal, lilin dinyalakan selama tidak lebih dari satu jam, dan meninggalkan sekitar 80 persen dari batang yang tidak terbakar. lilin-lilin itu tidak digunakan kembali.

Program donasi tersebut dimulai setelah pada tahun 2004 sebuah vihara berkonsultasi dengan perusahaan Kobori yang juga menjual lilin. Perusahaan berusaha mencari cara untuk mendaur ulang lilin bekas tersebut karena menjadi hal yang “mubazir” untuk membuangnya ketika masih bisa digunakan.

Perusahaan tersebut memiliki gagasan mengirimkan lilin yang telah digunakan tersebut ke negara-negara berkembang dengan pasokan listrik yang tidak stabil untuk digunakan kembali sebagai sumber cahaya harian.

Dalam 15 tahun sejak itu, perusahaan tersebut telah mengirimkan lebih dari 100.000 lilin dari vihara-vihara di seluruh Jepang ke Afghanistan, Nepal, Kamboja, Myanmar dan negara-negara miskin lainnya.

Menurut LSM, banyak penduduk desa pertanian atau masyarakat miskin yang hampir tidak mampu membeli minyak tanah atau lampu. Lilin-lilin itu berharga bagi anak-anak yang menerima sumbangan.

Tadashi Kobori, 67, presiden Kobori 11-generasi, mengatakan bahwa aspek amal pengiriman lilin-lilin yang telah digunakan untuk anak-anak miskin di luar negeri “juga merupakan kesempatan bagi kita untuk mempraktekkan gagasan Buddhis tentang belas kasih.” Ia berharap untuk melanjutkan amal tersebut selama mungkin.[Bhagavant, 12/8/18, Sum]

Kata kunci:
Penulis: