Amerika » Amerika Selatan

Menlu Bolivia Puji Disiplin dan Komitmen Pejuang Shaolin

Rabu, 8 Agustus 2018

Bhagavant.com,
La Paz, Bolivia – Menteri Luar Negeri Bolivia memuji kedisiplinan dan komitmen yang ada dalam kehidupan para pejuang dari Vihara Shaolin di Tiongkok.

Menteri Luar Negeri Bolivia Fernando Huanacuni (paling kiri) memperagakan kuda-kuda kung fu Shaolin.
Menteri Luar Negeri Bolivia Fernando Huanacuni (paling kiri) memperagakan kuda-kuda kung fu Shaolin. Foto: Asociación Internacional Shaolin Chan en Sudamérica

Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika lebih banyak orang mempelajari cara hidup para pejuang Shaolin Tiongkok, demikian kata Menteri Luar Negeri Bolivia Fernando Huanacuni.

Sebagai seorang praktisi seni bela diri yang berhasil yang telah memenangkan beberapa medali dalam kompetisi internasional, Huanacuni menghabiskan tiga tahun melakukan cara hidup tersebut.

“Pada tahun 1999, saya melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk bergabung dengan Vihara Shaolin, di mana saya menjadi anggota selama tiga tahun,” kata Huanacuni dalam sebuah pembicaraan baru-baru ini di International Book Fair di ibukota Bolivia, La Paz.

“Saya belajar bahwa filsafat hidupnya adalah disiplin,” katanya seperti yang dilansir Xinhua, Selasa (7/8/2018).

Kehadirannya adalah bagian dari program acara budaya yang diselenggarakan oleh kedutaan Tiongkok di La Paz, termasuk percontohan kuliner, pameran film, dan kuliah tentang berbagai aspek budaya Tionghoa, hubungan internasional dan sastra.

“Untuk mencapai tujuan apa pun, disiplin dan komitmen adalah hal mendasar,” kata Huanacuni, yang minatnya pada Agama Buddha membawanya mengunjungi Tiongkok pada usia 33 tahun.

Fernando Huanacuni.
Fernando Huanacuni. Foto: wikipedia.org

Di Provinsi Henan, tiongkok Tengah, Huanacuni pergi mengunjungi Vihara Shaolin yang terkenal yang didirikan pada abad ke-5 oleh seorang bhiksu. Ia berlutut selama beberapa jam di pintu masuknya, sebuah ritual yang dilaksanakan oleh mereka yang ingin diterima sebagai siswa Agama Buddha.

Setelah para bhiksu akhirnya mengizinkannya masuk, ia harus menanggung percobaan selama seminggu, termasuk latihan fisik yang berat yang berlangsung lebih dari 12 jam sehari.

Huanacuni pertama kali belajar memperbaiki teknik pernapasannya, yang sangat penting untuk melanjutkan ke tahap meditasi untuk “menemukan keseimbangan,” katanya.

Ia mengadopsi kebiasaan sehari-hari dari para viharawan tetap di sana, seperti makan makanan sederhana seperti nasi, sayuran, roti, dan teh hijau; bekerja untuk bernafas sempurna, meditasi dan disiplin; dan meninggalkan semua kekerasan.

Setelah menghabiskan waktu mempelajari filsafat Buddhis dan Kung Fu Shaolin, Huanacuni mengatakan ia mampu menunjukkan kekuatan yang tidak ia ketahui.

Dia juga mulai mencatat kesamaan antara tradisi budaya Bolivia dan Tionghoa.

Menurut Huanacuni, persembahan para bhiksu Shaolin kepada alam, karena mereka percaya alam merasa “lapar” atau “haus”, mirip dengan tradisi meja persembahan “khoa” yang dibuat penduduk asli Aymara Bolivia setiap tahun pada bulan Agustus.

Ceramahnya itu juga dihadiri oleh duta besar Tiongkok untuk Bolivia, Liang Yu, atase budaya Liu Hebao, pejabat Bolivia dan tamu istimewa lainnya.[Bhagavant, 8/8/18, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: