Tiongkok » Tokoh

Mumi Buddhis 1.000 Tahun Ini Tetap dalam Kondisi “Sehat”

Jumat, 21 Juli 2017

Bhagavant.com,
Heibei, Tiongkok – Hasil pemindaian citra tomografi berkomputer (CT Scan) terhadap mumi seorang Master Buddhis dari 1.000 tahun yang lalu, menunjukkan kondisi tulang yang “sehat” dan otak yang lengkap.

Tubuh Master Cí Xián Sānzàng yang diawetkan menjalankan pemindaian dengan CT scan pekan lalu di Tiongkok. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)
Tubuh Master Cí Xián Sānzàng yang diawetkan menjalankan pemindaian dengan CT scan pekan lalu di Tiongkok. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

Penemuan itu terjadi pekan lalu setelah dilakukan pemeriksaan medis terhadap relikui tubuh emas Master Cí Xián Sānzàng (慈賢三藏) di Vihara Dinghui di Wu’an, Provinsi Hebei, Tiongkok Utara.

Master Cí Xián Sānzàng (penamaan Tionghoa) merupakan bhiksu asal India yang telah melakukan perjalanan dari India kuno ke Tiongkok kuno untuk menyebarkan Agama Buddha.

Pihak medis melakukan pengaturan CT scan untuk mumi Master Cí Xián pada 8 Juli.
Pihak medis melakukan pengaturan CT scan untuk mumi Master Cí Xián pada 8 Juli. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

CT scan dilakukan pada 8 Juli lalu dengan disaksikan oleh para bhiksu, media, dan umat.

Orang-orang terkejut saat dokter mengatakan bahwa mumi Master Cí Xián masih memiliki kerangka yang utuh, dan otak yang lengkap.

Setelah pemindaian Dr. Wu Yongqing mengatakan kepada Pear Video, “Kita bisa melihat tulangnya sama sehatnya dengan orang normal”.

Pihak medis menjelaskan kondisi di dalam tubuh Master Cí Xián.
Pihak medis menjelaskan kondisi di dalam tubuh Master Cí Xián. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

“Rahang atas, gigi bagian atas, tulang rusuk, tulang belakang dan semua sendi semuanya lengkap,” kata Dr. Wu seperti yang dilansir Daily Mail, Jumat (14/7/2017). “luar biasa melihat hal ini.”

Hasil sinar-X menunjukkan tulang tengkorak di dalam tubuh Master Cí Xián.
Hasil sinar-X menunjukkan tulang tengkorak di dalam tubuh Master Cí Xián. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)
Tampak tulang punggung mumi Master Cí Xián yang masih utuh.
Tampak tulang punggung mumi Master Cí Xián yang masih utuh. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

Menurut catatan sejarah, Master Cí Xián berasal dari India. Beliau melakukan perjalanan ke Kerajaan Khitan (916-1125) di bagian utara-timur Tiongkok modern di dekat Semenanjung Korea untuk menyebarkan filsafat Buddhis.

Beliau menerjemahkan 10 Sutra utama ke dalam huruf Tionghoa. Kemudian, beliau diberi nama Maaster Buddhis Nasional Khitan oleh raja.

Beberapa karya terjemahannya diukir menjadi tablet batu dan bisa dilihat hingga hari ini.

Mumi Master Cí Xián sebelum dilakukan penyepuhan dengan emas.
Mumi Master Cí Xián sebelum dilakukan penyepuhan dengan emas. Foto: foguangshengyin.com
Sebelum dilakukan penyepuhan emas tubuh Master Cí Xián dipernis terlebih dulu.
Sebelum dilakukan penyepuhan emas tubuh Master Cí Xián dipernis terlebih dulu. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

Setelah Master Cí Xián wafat, para siswanya mengawetkan jenazahnya yang kemudian hilang selama bertahun-tahun.

Jenazahnya ditemukan kembali pada tahun 1970 di dalam sebuah gua.

Pada 2016 mumi Master Cí Xián disepuh dengan emas.
Pada 2016 mumi Master Cí Xián disepuh dengan emas. Foto: Vihara Ding Hui (Daily Mail)

Y.M. Bhiksu Du dari Vihara Dinghui mengatakan bahwa tubuh Master Cí Xián yang diawetkan telah dihormati di Vihara Dinghui sejak 2011.

Vihara tersebut memutuskan untuk menyepuh relikui tersebut dengan emas pada tahun lalu.

Mumi Master Cí Xián setelah dilakukan penyepuhan dengan emas.
Mumi Master Cí Xián setelah dilakukan penyepuhan dengan emas. Foto: foguangshengyin.com

Tubuh Master Cí Xián diperkirakan akan dipindahkan dari Vihara Dinghui ke Vihara Shendu di Gunung Xiangtang, yang sedang dibangun.

Y.M. Bhiksu Du mengatakan bahwa masyarakat masih bisa memberikan penghotmatan kepada Master Cí Xián di Vihara Dinghui sampai akhir 2017.

Mengenai bagaimana jenazah Master Cí Xián diawetkan, menurut Y.M. Bhiksu Du, para bhiksu Tiongkok kuno mengawetkan tubuh guru mereka dengan cara alami.

Menurut Y.M. Bhiksu Du, biasanya seorang guru Buddhis bisa mengetahui waktu ia akan meninggal dunia. Ia kemudian akan memberitahu para siswanya apakah dirinya ingin agar tubuhnya dikremasi atau diawetkan.

Setelah sang guru wafat, para siswanya akan meletakkan jenazahnya ke dalam sebuah guci besar yang diisi dengan zat-zat antikorosi alami.

Jika sang guru telah mencapai tingkat spiritual tertentu, maka tubuhnya tidak akan membusuk.

Para siswa kemudian akan menutup jenazah tersebut dengan pasta khusus yang dibuat dari beras ketan.[Bhagavant, 21/7/17, Sum]

Kata kunci:
Penulis: