Australia » Oseania » Pendidikan

Permintaan Pendidikan Agama Buddha di NSW, Australia Meningkat

Sabtu, 17 Desember 2016

Bhagavant.com,
New South Wales, Australia – Permintaan terhadap pendidikan Agama Buddha di New South Wales (NSW), Australia, meningkat. Hal ini tercermin dari meningkatnya permintaan akan guru-guru Agama Buddha di sekolah-sekolah umum di NSW.

Permintaan pendidikan Agama Buddha meningkat. Sekitar 150 siswa di Sekolah Umum Byron Bay mempelajari Agama Buddha.
Permintaan pendidikan Agama Buddha meningkat. Sekitar 150 siswa di Sekolah Umum Byron Bay mempelajari Agama Buddha. Foto: abc.net.au

Ketua Dewan Buddhis NSW, Brian White mengatakan ada lebih dari 3.000 siswa sekolah umum di seluruh negara bagian tersebut yang mempelajari Agama Buddha, dan jumlahnya telah berkembang pesat.

“Hal ini didorong oleh beberapa hal – peningkatan secara umum kesadaran dalam meditasi di seluruh masyarakat dan bagaimana hal itu dapat bermanfaat, dan kesadaran bahwa bahkan usia enam dan tujuh tahun bisa bermeditasi selama beberapa menit dan mendapatkan manfaat darinya,” kata Brian seperti yang dilansir ABC News pada Rabu (14/12/2016).

“Tetapi Agama Buddha itu sendiri juga memiliki citra yang cukup baik di masyarakat sebagai jalan hidup yang damai dan praktis.”

Brian mengatakan dewan Buddhis yang melatih para guru Agama Buddha, memiliki 70 guru relawan di sekolah-sekolah umum New South Wales, tapi setidaknya masih 60 orang guru lagi yang diperlukan.

“Kami memiliki daftar tunggu sekolah-sekolah di seluruh negara bagian dan kami telah dihubungi setiap saat oleh berbagai sekolah yang membutuhkan guru-guru Buddhis untuk kelas mereka,” katanya.

Salah satu sekolah yang mengalami permintaan tinggi untuk kelas Agama Buddha adalah Sekolah Umum Byron Bay di utara NSW.

Lebih dari 150 anak-anak yang telah mendaftar untuk belajar Agama Buddha di sekolah tersebut, ini mewakili lebih dari seperempat dari populasi siswa di sekolah itu.

Emily Colelin, koordinator program sekolah tersebut, telah mengirimkan info dalam buletin orang tua untuk meminta lebih banyak lagi guru-guru relawan untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan Agama Buddha tersebut.

“Saya pikir kemungkinan kami berada di daerah Northern Rivers yang berpikiran cukup terbuka, dan Agama Buddha adalah agama yang berkembang pesat,” kata Emily.

Keterbukaan pikiran masyarakat terutama para orang tua di daerah Northern Rivers terhadap berbagai agama digambarkan Emily dengan banyaknya anak-anak di sekolahnya yang pergi dari satu kelas agama yang satu ke kelas yang lain termasuk ke kelas Agama Buddha.

Perkembangan pesat Agama Buddha di Australia menurut dosen senior sosiologi Universitas Deakin, Dr. Anna Halafoff, tercermin dalam data sensus 2011 yang menunjukkan Agama Buddha sebagai agama terbesar kedua di Australia setelah Nasrani (Kristen).

“Terdapat jumlah yang signifikan dari masyarakat yang telah beralih keyakinan ke Agama Buddha atau yang mempraktikkan apa yang telah beberapa sarjana disebut sebagai ‘nightstand Buddhism‘, sebagaimana kemungkinan Anda tidak mengatakan bahwa Anda seorang Buddhis tetapi Anda mungkin tertarik pada meditasi, atau Anda mungkin membaca buku-buku dari Dalai Lama,” kata Dr. Anna.

“Saya pikir Buddhisme memiliki popularitas yang luas di Australia dan saya pikir bagian dari itu berhubungan dengan profil umum dari Yang Mulia Dalai Lama yang dipandang sangat positif di Australia.”

Dr. Anna juga mengatakan ketidakpuasan dengan agama Barat aliran utama telah memberikan kontribusi terhadap minat terhadap Agama Buddha.

“Agama arus utama saat ini sedang dikritik oleh para individu dan juga sejumlah kelompok – kita memiliki kelompok tersebut seperti Komisi Kerajaan (Royal Commission),” katanya.

“Kita tahu bahwa orang-orang sekarang tertarik dengan pendekatan yang lebih individual untuk agama, orang-orang suka memilah dan memilih dan menggabungkan hal yang berbeda.”

“Ada banyak hal yang terjadi di sini mengapa orang bisa berpaling dari Kekristenan arus utama dan juga bisa tertarik ke kelompok-kelompok agama lain, tetapi mungkin juga menjadi tidak beragama sama sekali.”

Peraturan pendidikan agama di sekolah-sekolah pemerintah bervariasi di setiap negara bagian Australia. Negara bagian Victoria contohnya, menghapus Pelajaran Khusus Agama dari kurikulum sekolah pada awal tahun ini.

Namun, presiden Federasi Dewan Buddhis Australian, Cecilia Mitra, mengatakan permintaan di New South Wales akan dapat ditiru seluruh negeri jika Agama Buddha tersedia di seluruh sekolah pemerintah.

“Ada banyak minat dalam studi Agama Buddha, namun di bawah Pendidikan Khusus Agama, yaitu 30 menit seminggu dan dengan kebijaksanaan kepala sekolah, misalnya di Australia Barat, Agama Buddha tidak banyak terwakili di sekolah-sekolah tersebut,” kata Mitra.

“Para kepala sekolah tidak benar-benar menghubungi sentra-sentra Buddhis, bagi saya, studi agama-agama yang berbeda sangat penting di sekolah,” ujarnya.

Dr. Anna Halafoff mengatakan permintaan atas pendidikan Agama Buddha tersebut sebenarnya dapat menentang pendapat yang mengatakan bahwa agama sebaiknya tidak diajarkan di sekolah-sekolah.

“Dalam sebuah sistem yang ideal, dengan kepustakaan atau pelajaran khusus agama, mungkin Anda bisa menganjurkan delapan atau sembilan pilihan untuk setiap sekolah di negeri ini sehingga masyarakat benar-benar bisa membuat pilihan,” katanya.

“Tapi hal itu tidak mungkin untuk dilakukan di mana saja. Masalah utamanya, dan apa yang kita lihat di sini, adalah bahwa untuk kelompok agama minoritas, banyak dari mereka yang kekurangan sumber daya sehingga mereka tidak mungkin bisa menyediakan banyak program,” jelasnya.

Dr. Anna juga berpendapat bahwa lebih baik untuk para siswa Australia untuk memiliki semua kesempatan belajar tentang semua sudut pandang agama dan non-agama yang beragam.[Bhagavant, 17/12/16, Sum]

Kata kunci:
Penulis: