Amerika Serikat » Pendidikan » Sains » Teknologi

Harvard Buka Kursus Agama Buddha Secara “Online” Gratis

Selasa, 20 Desember 2016

Bhagavant.com,
Massachusetts, Amerika Serikat – Universitas Harvard di Amerika Serikat membuka kursus Agama Buddha secara online dan gratis. Sebuah bentuk pemanfaatan sains dan teknologi dalam mempelajari agama.

Untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang agama, pengalaman, usia, budaya, ras, golongan dan gender dalam mempelajari Agama Buddha, Sekolah Kedewataan Harvard (Harvard Divinity School – HDS) membuka kursus Agama Buddha yang merupakan bagian dari HarvardX.

HarvardX yaitu sebuah pengembangan pendekatan pembelajaran dan perangkat-perangkat digital fakultas Universitas Harvard untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran, yang salah satu programnya adalah kursus online.

Kursus yang bertema “Buddhism Through Its Scriptures” ini dibimbing oleh Profesor Charles Hallisey dari Harvard Divinity School, yang juga Dosen Senior Yehan Numata bidang Kesusastraan Buddhis. Bukunya yang terbit tahun 2015 menyoroti tentang Therigatha, syair-syair oleh para sesepuh wanita Buddhis pertama.

Dalam kursus selama tiga hari setiap minggunya selama 4 pekan tersebut, pelajaran akan dilangsungkan dengan menggunakan video maupun teks yang dapat diselesaikan sesuai dengan waktu dari para peserta.

Profesor Charles dalam silabus kursus tersebut mengatakan bahwa para peserta akan memiliki banyak kesempatan untuk terlibat dengan peserta lainnya dalam forum diskusi dan percakapan online yang dilakukan setiap hari Jumat.

Menghargai perbedaan interpretasi atau tafsiran terhadap kepustakaan Buddhis menjadi pendekatan yang ditekankan oleh Profesor Charles dalam kursus Agama Buddha tersebut.

“Dengan cara ini, secara jelas kita tidak akan mempromosikan atau mengistimewakan satu interpretasi atau perspektif di atas yang lainnya, atau bertanya interpretasi yang mana yang “benar” atau “tepat” atau yang lainnya,” kata Profesor Charles.

“Sebaliknya, kita akan mengeksplorasi apa yang menimbulkan beragam interpretasi tersebut, dan bagaimana selama berabad-abad Buddhis sendiri telah mengantisipasi beragam interpretasi dan aplikasi dari kepustakaan Buddhis,” jelasnya. “Singkatnya, eksplorasi kita akan difokuskan pada usaha untuk lebih memahami beragam perspektif daripada memperdebatkan mana yang ‘kredibel’.”

Salah satu dari 11 orang dari tim pengajar kursus Agama Buddha secara online tersebut, adalah seorang bhikkhu cendekiawan asal Bangladesh yaitu Y.M. Upali Sramon, yang pernah menjadi mahasiswa di Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity (M.Div) bulan Mei lalu.

Dengan adanya kursus Agama Buddha secara online ini membuktikan bahwa dari sisi positif, sains dan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempermudah hidup dalam hal ini dalam bidang pendidikan dengan merapatkan jarak antara pengajar dengan siswanya, sekaligus menyebarkan pengetahuan agama.[Bhagavant, 20/12/16, Sum]

Penulis: