Indonesia » Perdamaian

Pernyataan Yogyakarta – KTT Pemimpin Buddhis dan Muslim

Kamis, 12 Maret 2015

Bhagavant.com,
Yogyakarta, Indonesia – Konferensi tingkat tinggi (KTT) antara pemimpin Buddhis dan Muslim yang telah diselengarakan pada 3-4 Maret 2015 di Yogyakarta dan Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia, dengan mengangkat tema: “Mengatasi Ekstremisme dan Mendorong Perdamaian dengan Keadilan” (Overcoming Extremism and Advancing Peace with Justice), menghasilkan sebuah pernyataan bersama.


KTT Pemimpin Buddhis dan Muslim di Yogyakarta dan Candi Borobudur, Indonesia, 3-4 Maret 2015.
KTT Pemimpin Buddhis dan Muslim di Yogyakarta dan Candi Borobudur, Indonesia, 3-4 Maret 2015. Foto: inebnetwork.org/

KTT yang diselenggarakan oleh Forum Internasional Hubungan Buddhis-Muslim (International Forum on Buddhist- Muslim Relations – BMF) dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai tuan rumah, berakhir dengan mengeluarkan Yogyakarta Statement atau Pernyataan Yogyakarta. Berikut isi dari Yogyakarta Statement atau Pernyataan Yogyakarta.

Pernyataan Yogyakarta
Pernyataan Akhir: Berbagi Nilai-nilai dan Komitmen

Kami, para pemimpin Buddhis dan Muslim, mengetahui bahwa para pengikut kami telah mengembangkan bersama-sama sebuah hubungan yang harmonis, yang telah menjadi dasar untuk membangun perdamaian dan kemakmuran di berbagai belahan di dunia. Dalam masing-masing teks-teks kitab suci dan teks-teks kanon lainnya, Agama Buddha dan Islam mengambil bagian dalam pentingnya perdamaian positif dan meyeluruh, yang meliputi pengertian dari perdamaian batin, perdamaian antara sesama manusia dan perdamaian dengan alam.

Kami kembali menegaskan bahwa Agama Buddha dan Islam adalah agama belas kasih dan pengampunan yang berkomitmen untuk keadilan bagi seluruh umat manusia. Kedua tradisi menghormati kesucian kehidupan dan martabat yang melekat pada eksistensi manusia, yang merupakan dasar dari semua hak asasi manusia tanpa membedakan ras, warna kulit, bahasa, atau agama.

Kami menolak penyalahgunaan agama kami dalam mendukung diskriminasi dan kekerasan. Agama Buddha dan Islam telah disalahgunakan oleh beberapa pihak untuk tujuan politik mereka sebagai penyebab prasangka dan stereotip dan untuk memicu diskriminasi dan kekerasan. Dengan tegas kami menolak penyalahgunaan tersebut dan berkomitmen untuk menangkal interpretasi-interpretasi dan aksi-aksi keagamaan yang ekstrim dengan narasi otentik utama kami mengenai perdamaian.

Kami juga mengetahui kebutuhan untuk memperkuat upaya pemerintah untuk mencegah diskriminasi dan kekerasan yang bermotivasi agama. Berdasarkan instrumen hukum yang telah diterima secara universal seperti Artikel 20 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) dan Resolusi Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Human Rights Council Resolution) 16/18, kami menyerukan kepada seluruh negara untuk mengambil upaya bagi pemenuhan tanggung jawab mereka untuk melindungi warga negaranya dari kebencian berdasarkan agama dan suku, dan hasutan untuk diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Kebebasan berekspresi mencakup kewajiban untuk menghormati satu sama lain.

Kami kembali menegaskan nilai-nilai dasar umum yang dimiliki teks-teks kitab suci dan teks-teks kanon lainnya dari kami sebagai berikut:

I. Keberagaman Agama dan Kehidupan Bersama yang Damai

Agama Buddha

“Semua agama harus berada di mana-mana, bagi mereka semua yang menginginkan pengendalian diri dan kemurnian batin.””Hubungan (antar agama) adalah baik. Seseorang harus mendengarkan dan menghormati ajaran yang dianut orang lain. Raja Piyadasi yang dikasihi oleh para dewa, menginginkan agar semua orang harus mempelajari dengan baik ajaran-ajaran yang baik dari agama lain.””Anda membenarkan keyakinan Anda sendiri jika Anda memberikan perlakuan baik kepada penganut agama lain. Anda menyakiti agama Anda sendiri dengan melecehkan pengikut kepercayaan lain. “(Dekret Kaisar Ashoka, 269-232 SEU)

Agama Islam

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.(Al-Qur’an 49:13). Hal ini mengingatkan manusia bahwa mereka berasal dari satu keluarga, dengan set orang tua yang sama, karenanya memungkinkan keluarga yang beragam. Hal ini adalah pengingat bahwa keragaman dalam kesatuan dan kesatuan dalam keragaman adalah hal yang memungkinkan.

Hal ini lebih diperkuat oleh pernyataan bahwa keragaman merupakan bagian dari rencana ilahi dan dalam kenyataannya merupakan cara untuk menguji manusia. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya.”(Al-Qur’an 5:48).

II. Belas Kasih dan Pengampunan Universal

Agama Islam

Hal ini penting bahwa setiap dari 114 bab dari Al-Qur’an — kecuali satu — dimulai dengan pernyataan “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Penyayang dan pemurah adalah atribut Allah yang paling ditinggikan. Inilah sebabnya mengapa Al-Qur’an mengatakan “Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.” (Al-Qur’an 21:107).

Agama Buddha

“Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya melindungi anaknya yang tunggal, demikianlah terhadap semua makhluk dipancarkannya pikiran (kasih sayangnya) tanpa batas. Biarkan kasih sayangnya dipancarkannya ke segenap alam semesta tanpa batas ke atas, ke bawah dan ke sekeliling tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.” (Sutta Nipata 149-150)[versi PTS]

III. Keadilan Universal

Agama Buddha

“Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan.”(Dhammapada 131)

“Meskipun menjadi sepenuhnya taat akan hukum, beberapa orang telah dipenjara, diperlakukan dengan kasar dan bahkan dibunuh tanpa alasan sehingga banyak orang menderita. Oleh karena itu niat/tujuan anda harus dijalankan dengan ketidakberpihakan. Karena hal-hal ini – iri, kemarahan, kekejaman, kebencian, ketidakpedulian, kemalasan atau kelelahan – maka hal seperti itu tidak terjadi. Oleh karena itu Anda harus berharap: “Semoga hal-hal ini tidak ada dalam diriku.” Dan akar dari hal ini adalah kesabaran dan tanpa kemarahan.” (Dekret Kaisar Ashoka, 269-232 SEU)

Agama Islam
“Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang sentiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya. Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Al-Qur’an 4:135)

“Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al-Qur’an 57:25)

IV. Martabat Manusia dan Tanpa Kekerasan

Agama Islam

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”(Al-Qur’an 17:70)

“… siapa yang membunuh seorang manusia, …maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”(Al-Qur’an 5:32)[baca ayat selengkapnya]

Agama Buddha

“Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa tidak dapat dikatakan sebagai orang adil Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah. Orang yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, pantas disebut orang adil.” (Dhammapada 256-257)

“Walau digoda dengan cara bagaimanapun, tetapi bila seseorang dapat menjaga ketenangan pikirannya, damai, mantap, terkendali, suci murni dan tidak lagi menyakiti makhluk lain, sesungguhnya ia adalah seorang brahmana, seorang samana, seorang bhikkhu.” (Dhammapada 142)

V. Hidup Harmonis dengan Lingkungan Hidup

“Bagaikan seorang kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna dan baunya; demikian pula hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa.” (Dhammapada 49)

Suatu hari satu dewa bertanya kepada Sri Buddha, “Bagi siapakah jasa selalu meningkat, pada siang dan malam hari, siapakah orang yang benar dan moral yang menuju ke alam kebahagiaan?” Sri Buddha menjawab, jasa dari orang-orang yang menanam hutan, taman, membangun jembatan, membuat kolam, tempat tinggal, dan lainnya, tumbuh siang dan malam, dan orang-orang religius seperti pergi ke surga. (Vanaropa Sutta)[baca ayat selengkapnya]

Agama Islam
“Bagi para hamba sejati dari Yang Maha Pemurah adalah hanya orang-orang yang berjalan lembut di bumi — (Al-Qur’an 25:63) Ini berarti bahwa dengan mengurangi dampak ekologi seseorang beriman kepada Allah.[baca ayat selengkapnya]

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Al-Qur’an 13:4). Ini merupakan ajakan jelas untuk menghormati lingkungan hidup sebagai ciptaan Allah.

VI. Pluralisme, Toleransi, dan Kebebasan Beragama

Agama Islam
“Tidak ada paksaan dalam agama …” (Al-Qur’an 2:256).[baca ayat selengkapnya]

“Apakah kamu kemudian memaksa manusia supaya mereka percaya? Tidak ada jiwa percaya, kecuali dengan kehendak Allah.”(Al-Qur’an 10:99-100)[baca ayat selengkapnya]

Ada banyak contoh toleransi Nabi terhadap agama lain. Islam mengakui bahwa ada pluralitas agama di muka bumi ini, dan memberikan hak kepada individu untuk memilih jalan yang mereka yakini benar. Agama tidak akan, dan tidak pernah, dipaksakan pada seseorang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri.

Agama Buddha

“Oleh karenanya janganlah ia berpikir dirinya lebih baik (daripada yang lain atau) rendah atau sama (kepada orang lain); dipertanyakan oleh orang yang berbeda janglah ia memuja dirinya.” (Sutta Nipata 918)[baca ayat selengkapnya]

Sri Buddha mengatakan, “melekat pada sebuah pandangan tertentu dan meremehkan pandangan orang lain sebagai hal yang rendah – ini yang disebut oleh orang bijaksana sebagai sebuah belenggu.(Sutta Nipata 798)[baca ayat selengkapnya]

Membimbing siswa-Nya bernama Upali tentang bagaimana memperlakukan pengikut agama lain, Sri Buddha dengan jelas menyatakan bahwa Ia memperlakukannya dengan penghargaan yang sama. Sepanjang hidupnya Buddha mendesak masyarakat untuk menghormati semua orang beragama meskipun ada perbedaan pendapat di antara mereka.

VII. Menolak Kebencian, Perkataan Kebencian, Pembalasan Dendam, dan Pentingnya Introspeksi-Diri

Agama Buddha

“‘Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya.’ Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir. ‘Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya.’ Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, maka kebencian akan berakhir. Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir, Bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.” (Dhammapada 3-5)

“Perkataan buruk menyalahkan orang lain. Perkataan angkuh mempermalukan orang lain. Dari perilaku tersebut datanglah kebencian dan dendam. … Oleh karena itu konflik muncul, terbentuk pada orang berpikiran jahat.” (Dhammapada 8) [versi Tripitaka Taisho 4:210]

“Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.” (Dhammapada 4.7)[Dhammapada 50]

Agama Islam

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an 5:8)

Berdasarkan nilai-nilai inti bersama kami tersebut diatas,

Kami berkomitmen, melalui fasilitasi kelompok inti International Forum on Buddhist Muslim Relations (BMF: International Network of Engaged Buddhists, International Movement for a Just World, Muhammadiyah dan Religions for Peace), untuk mengimplementasikan rencana aksi dan bekerja sama melanjutkan penguatan BMF untuk:

a) bertindak sebagai platform pelayanan bagi prakarsa-prakarsa intra-agama dan antar-agama dalam bidang pendidikan dan advokasi;
b) membantu reaksi cepat /kunjungan solidaritas /peringatan dini / pencegahan konflik pada situasi-situasi konflik;
c) mengembangkan dan menyediakan peralatan dan bahan untuk pelibatan konstruktif dan aksi bersama yang strategis, dan;
d) mengembangkan penggunaan efektif media untuk pesan-pesan positif, khususnya melalui media sosial dan alternatif.

Kami menghargai tuan rumah Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dan Majelis Ulama Indonesian (MUI) untuk keramahan dan kehangatan mereka dalam mengupayakan kesempatan berharga untuk berdialog diantara kita semua.

Yogyakarta/Candi Borobudur, 4 Maret 2015

Pemimpin Buddhis dan Muslim

Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Drs. Slamet Effendy Yusuf, Ketua MUI, Ketua PB Nahdlatul Ulama
Ir. Arief Harsono, PLT Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI)
Prof. Dr. Philip K. Widjaja, Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI)
Mr. Harsha Kumara Navaratne, Chairman, International Network of Engaged Buddhists (INEB)
Dr. Chandra Muzaffar, President, International Movement for a Just World (JUST)
Rev. Kyoichi Sugino, Deputy Secretary General (Wakil Sekretaris Jenderal), Religions for Peace

Sumber: A High-Level Summit of Buddhist and Muslim Leaders

——

[Editor:bhagavant.com, 12/3/15, Sum]

Kata kunci:
Penulis: