Tiongkok

Upaya Tiongkok Tanggulangi Bhiksu Palsu

Selasa, 16 Desember 2014

Bhagavant.com,
Beijing, Tiongkok – Maraknya keberadaan para bhiksu dan tao shi (pendeta Agama Tao) palsu, membuat otoritas keagamaan Tiongkok berupaya menanggulanginya dengan mengeluarkan sertifikat resmi bagi vihara-vihara, taokwan-taokwan (道观 dàoguān – rumah ibadah umat Taois), dan kelenteng-kelenteng (bio, miào) yang ada di negara tirai bambu tersebut.

Vihara Guangji di Beijing, Tiongkok, merupakan salah satu vihara yang pertama mendapatkan sertifikat resmi dari Pemerintah Tiongkok.
Vihara Guangji di Beijing, Tiongkok, merupakan salah satu vihara yang pertama mendapatkan sertifikat resmi dari Pemerintah Tiongkok. Foto: wikipedia.org

Pemberian sertifikat resmi oleh otoritas keagamaan Tiongkok terhadap rumah-rumah ibadah tersebut diharapkan dapat membantu para umat dari agama-agama tersebut dalam membedakan tempat ibadah mereka yang asli dengan yang palsu.

Tempat-tempat ibadah tersebut dapat menggantung sertifikat itu di luar bangunan mereka untuk mengurangi kegiatan pencatutan dan penggalangan dana ilegal, sehingga dapat melindungi kepentingan kalangan agama dan para umat.

Vihara Guangji (Guǎngjì Sì) di Beijing, menjadi salah satu dari tempat-tempat ibadah yang pertama yang menerima sertifikat tersebut dari Administrasi Negara untuk Urusan Keagamaan (State Administration of Religious Affairs – SARA), yang mengawasi organisasi keagamaan.

“Terdapat beberapa situs non-agama mempekerjakan para agamawan palsu yang menipu para turis untuk menyumbangkan uang atau membeli dupa yang mahal,” kata Liu Lei, pejabat dari badan administrasi tersebut, seperti yang dilansir kantor berita Xinhua, Kamis (4/12/2014).

Bhiksu-bhiksu palsu bukan merupakan hal yang baru di Tiongkok, khususnya di daerah pedesaan tempat mereka yang menyamar sebagai bhiksu untuk menipu sering tidak terawasi. Salah satu kasus yang banyak menaruh perhatian masyarakat karena keberadaan bhiksu palsu terjadi pada tahun lalu saat dua “bio” di Gunung Wutai, Provinsi Shanxi ditutup. Enam orang juga ditangkap karena menipu para turis untuk menyumbangkan uang.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa SARA akan mempromosikan label “anti palsu” secara nasional, memberikan orang-orang kemampuan untuk memeriksa apakah rumah ibadah tersebut adalah situs keagamaan yang legal atau bukan.

Saat ini Tiongkok memiliki sekitar 33.000 vihara dan lebih dari 9.000 taokwan. Otoritas Tiongkok melarang setiap tindakan pencatutan terhadap kegiatan keagamaan setelah terjadi komersialisasi tempat-tempat ibadah dan situs-situs lainnya secara berlebihan dalam beberapa tahun terakhir. Tempat-tempat ibadah juga dilarang untuk mengumpulkan dana dengan cara mencatatkannya pada bursa saham.

Partai Komunis yang kini menguasai pemerintah Tiongkok secara resmi merupakan ateis, dan hanya mengakui lima agama: Buddhisme, Taoisme, Islam, Katolik, dan Protestan. Semua agama ini harus terdaftar dan diawasi oleh SARA. Setiap kelompok yang tidak terdaftar dianggp ilegal.[Bhagavant, 16/12/14, Sum]

Kata kunci:
Penulis: