India » Tradisi dan Budaya

Perpustakaan Harvard Bantu Lestarikan Pustaka Warisan Buddhis Tibet

Sabtu, 14 Juni 2014

Bhagavant.com,
Dharamsala, India – Sebuah kemitraan antara Perpustakaan Harvard Amerika Serikat dan Pusat Referensi Buddhis Tibet – Tibetan Buddhist Resource Center (TBRC) akan melakukan pengunggahan 10 juta halaman kepustakaan Tibet yang selamat dari Revolusi Kebudayaan Tiongkok ke dalam sistem penyimpanan digital pada bulan Juli 2014.

Koleksi digital TBRC meliputi sekitar 20.000 jilid kepustakaan Tibet yang berasal dari abad kedelapan hingga abad kedua puluh.
Koleksi digital TBRC meliputi sekitar 20.000 jilid kepustakaan Tibet yang berasal dari abad kedelapan hingga abad kedua puluh. Foto: Harvard Magazine

TBRC adalah sebuah organisasi non-profit yang berbasis di alun-alun Harvard yang telah memperoleh, memindai, dan melestarikan secara digital berjilid-jilid kepustakaan Tibet sejak TBRC didirikan pada tahun 1999.

Sejumlah besar teks-teks Tibet menghilang selama Revolusi Kebudayaan di Tiongkok yang memberikan pengaruh banyak bagi daerah dataran tinggi Tibet dan juga bagi seluruh Tiongkok. Leonard van der Kuijp, profesor dari studi kebudayaan Tibet dan Himalaya di Harvard berkata, “Tapi banyak buku yang entah bagaimana terselamatkan oleh warga lokal Tibet, para bhiksu dan umat awam yang mengubur buku-buku tersebut, menempatkan mereka di dalam kotak, membungkusnya dengan kain, dan mengubur mereka di tanah ,” tambahnya. “Dan sekarang, perlahan-lahan, buku-buku ini bermunculan.” Demikian seperti yang dilansir The Tibet Post, Selasa (10/6/2014).

Para narasumber mengatakan bahwa pelestarian jangka panjang dari kepustakaan Tibet bukan hanya sebagai sebuah layanan untuk komunitas cendekiawan tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan. TBRC sejauh ini telah memperoleh sekitar 20.000 jilid yang berasal dari abad kedelapan hingga kedua puluh, yang meliputi pokok bahasan mulai dari ajaran dan teoris Buddhis hingga filsafat, sejarah, puisi, arsitektur, dan pengobatan.

Peter Suber, kepala Proyek Open Access Harvard dan kepala Dinas Komunikasi Ilmiah menyatakan, “bahasa Tibet terancam bahaya, bukan hanya karena alasan politik tetapi karena penutur utamanya menyusut. Bahkan terlepas dari memberi pengajaran Buddhisme Tibet untuk orang-orang yang peduli untuk mempelajarinya, kita harus melestarikan budaya ini dari bahaya, dari kepunahan.”[Bhagavant, The Tibet Post, 14/6/14, Sum]

Kata kunci:
Penulis: