Taiwan » Tradisi dan Budaya

Tzu Chi Beri Arti Sebenarnya Tradisi Bulan Hantu, Cit Gwee

Minggu, 18 Agustus 2013

Buddhisme di TaiwanBhagavant.com,
Taipei, Taiwan – Tradisi perayaan Cioko atau Yu Lan atau Festival ”Hantu Kelaparan” yang diadakan setiap tanggal 15 pada bulan ”hantu” (bulan ke-7) penanggalan Tionghoa (Imlek) oleh masyarakat Tionghoa di Asia Timur sering diidentikkan dengan kesan suasana yang penuh kesuraman dan ketidakberuntungan. Tzu Chi akan berusaha mengubah kesan suram ini.

Dalam menyambut bulan ke-7 penanggalan Imlek, Yayasan Buddha Tzu Chi berusaha mengubah pandangan tradisional yang memandang bulan ke-7 (Cit Gwee) sebagai bulan penuh kesuraman menjadi bulan penuh kebahagiaan dan berkah.

Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi, Y. M. Bhiksuni Cheng Yen, dalam ceramahnya di DAAI TV pada awal bulan, Minggu (4/8) mengkritisi tradisi mempersembahkan hewan (daging) pada bulan ketujuh penanggalan Imlek yang ditujukan untuk menyenangkan berbagai makhluk halus khususnya kepada leluhur, sehingga orang-orang berpikir bahwa bulan tersebut adalah bulan yang tidak menyenangkan.

Beliau mengatakan bahwa anggapan bahwa bulan ketujuh adalah bulan yang suram adalah tidak benar. Alih-alih sebagai bulan yang suram, Bhiksuni Cheng Yen atau sering disebut dengan Master Cheng Yen mengatakan bahwa bulan tersebut adalah bulan penuh berkah karena merupakan akhir dari retret pengembangan diri para bhiksu.

Master Cheng Yen mengatakan bahwa bulan ketujuh penanggalan Imlek merupakan waktu penuh berkah saat Sang Buddha sangat berbahagia karena banyak para pengembang diri mendapatkan wawasan dan merealisasikan Dharma saat retret tersebut.

Uang kertas Jinzhi untuk dibakar saat Festival Hantu Kelaparan. Foto: Wikipedia.org
Uang kertas Jinzhi untuk dibakar saat Festival Hantu Kelaparan. Foto: Wikipedia.org

”Sebenarnya, jika kita benar-benar ingin memberi manfaat kepada leluhur kita, kita seharusnya melakukan kebajikan. Dan sesungguhnya, ajaran Sang Buddha mengatakan kepada kita bahwa setelah meninggal, manusia dilahirkan kembali di tempat lain, sehingga pembunuhan hewan yang Anda persembahkan dan uang kertas yang anda bakar tidak ada gunanya sama sekali bagi leluhur Anda,” jelas Master Cheng Yen.

”Saat Anda membakar uang kertas, akan menimbulkan karbon dioksida dan mencemarkan udara, juga membuang sumber daya. Kita perlu menggunakan kebijaksanaan terhadap praktik-praktik tradisional.”

”Para relawan Tzu Chi seluruh Taiwan telah mulai mempromosikan praktik puja bakti dengan melaksanakan pelatihan vegetarian dan tidak membakar uang kertas. Selama batin kita damai dan tenang, kita akan aman dan baik,” kata Master.

Festival Hantu Kelaparan atau Cioko atau juga disebut sebagai Sembahyang Rebutan, pada dasarnya merupakan kepercayaan rakyat Tiongkok yang mempercayai bahwa pada bulan ketujuh penanggalan Imlek, pintu neraka akan terbuka dan hantu-hantu kelaparan dari neraka bebas berkeliaran di bumi.

Dengan masuknya Buddhisme Mahayana ke Tiongkok, yang juga memperkenalkan ajaran membalas budi orang tua, khususnya yang dikisahkan dalam Ullambana Sutra, membuat Festival Cioko menjadi terkait dengan perayaan Ullambana yang dirayakan Buddhis tradisi Mahayana.

Ullambana Sutra berisi mengenai Yang Arya Maudgalyāyana (Pali: Moggallāna), salah satu Siswa Utama Sang Buddha yang menolong ibunya yang terlahir di alam hantu kelaparan. Dengan nasihat Sang Buddha, Maudgalyāyana dapat menolong ibunya dengan cara mempersembahkan dana kepada sangha bhiksu pada akhir masa varsa (retret musim hujan) atau pravarana yaitu pada tanggal 15 bulan 7.

Untuk menetapkan bulan ke-7 yang dimaksud dalam sutra, Buddhis Mahayana Tiongkok menggunakan penanggalan Tionghoa (Imlek) alih-alih menggunakan penanggalan dari daerah di mana Sutra Ullambana tersebut berasal atau di mana peristiwa di Ullambana Sutra tersebut terjadi.

Perayaan Festival Hantu Kelaparan juga dirayakan di Jepang yang dikenal dengan nama Festival O-Bon, sedangkan di Vietnam dikenal dengan nama Tết Trung Nguyên.[Bhagavant, 18/8/13, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: