Tiongkok

Para Bhiksu Pandu Shaolin Raih Citra Baru

Rabu, 28 Maret 2012

Buddhisme di ChinaBhagavant.com,
Henan, China – Untuk beberapa tahun terakhir citra Vihara Shaolin sebagai situs terkemuka mengalami penurunan yang cukup memprihatinkan khususnya di bidang pariwisata.

Namun, seperti pepatah lama yang mengatakan: “Perubahan terjadi dari dalam”, nampaknya juga akan terjadi di dalam Vihara Shaolin saat para bhiksu yang tinggal di vihara tersebut berusaha meningkatkan citra situs suci tersebut setelah tahun kemarin menuai badai kritikan akibat manajemen yang buruk.

Seperti yang dilaporkan oleh An Baijie di Dengfeng, Henan, China untuk China Daily (26/2), sejak Februari lalu setidaknya 20 orang bhiksu di vihara yang terkemuka di dunia tersebut bekerja sebagai pemandu sukarela bagi para wisatawan.

Gerbang Utama atau Gerbang Gunung Vihara Shaolin
Gerbang Utama atau Gerbang Gunung Vihara Shaolin (Sbr: wikimedia.org)

Bhiksu Zheng Shumin, kepala publikasi vihara tersebut mengatakan bahwa di antara para bhiksu tersebut ada yang berasal dari perguruan tinggi Buddhis, dan masing-masing mendapat pelatihan selama dua minggu.

Layanan panduan baru tersebut hanyalah merupakan pelatihan tambahan vihara tersebut yang meminta para bhiksu untuk memimpin beberapa kelompok saat kunjungan tokoh-tokoh penting atau pada saat acara-acara utama Buddhisme, demikian jelas Bhiksu Zeng.

“Suatu kehormatan untuk memperkenalkan sejarah mulia dari vihara tersebut kepada para pengunjung,” kata Yan Xin, seorang bhiksu berusia 20 tahun.

Saat Bhiksu Yan Xin memandu dua kelompok, ia menginterpretasikan syair-syair kuno yang terpahat pada loh batu, dan menceritakan kisah-kisah mengenai beragam karya kaligrafi dan lukisan.

“Saya berlatih seni bela diri setiap hari dan menjaga kondisi tubuh dengan baik, sehingga saya tidak merasa lelah,” katanya.

Layanan panduan wisata gratis tesebut dilakukan setelah adanya krisis kehumasan pada bulan Desember tahun lalu, saat vihara tersebut dikritik oleh Asosiasi Pariwisata Nasional karena kondisi dan pelayanan yang buruk.

Asosiasi tersebut mengatakan bahwa para petugas inspeksi asosiasi telah menemukan fasilitas parkir yang tidak tertib, terlalu banyaknya jumlah para pedagang buah tangan, dan juga banyaknya orang yang berpakaian seperti bhiksu yang menawarkan layanan ataupun produk-produk ramalan.

Setelah kritikan tersebut, People’s Daily melaporkan bahwa polisi di Dengfeng telah menahan lebih dari 63 orang karena mereka melanggar peraturan kepariwisataan, sementara empat pegawai Vihara Shaolin dipecat. Sepuluh pemandu wisata juga diberhentikan.

Seorang mahasiswa, Yang Chaofei, yang dipandu oleh Bhiksu Yang mengatakan bahwa dengan panduan dari Bhiksu Yan telah membuat perjalanan yang tidak terlupakan bagi dirinya.

“Para bhiksu tersebut sangat sabar, dan introduksi mereka selalu mencerahkan saya karena saya berkeyakinan pada agama Buddha,” katanya. “Terasa sangatlah berbeda dibandingkan dengan panduan yang digunakan oleh kebayakan perusahaan pariwisata komersial.”

Yang mengatakan bajwa layanan tersebut telah meningkatkan keterkesanannya terhadap Vihara Shaolin, ia juga menambahkan bahwa ia percaya hal tersebut akan “memperpendek jarak antara para bhiksu dan masyarakat.”

Meskipun ada pujian dari para pengunjung, namun beberapa orang tetap merasa skeptis bahwa layanan panduan tersebut benar-benar gratis. Pikiran skeptis ini sebagian besar disebabkan oleh kenyataan bahwa di masa lalu mereka bertemu dengan orang yang berpakaian seperti para bhiksu yang berusaha untuk memungut biaya.

“Para bhiksu mengatakan layanan tersebut gratis, namun saya khawatir mereka akan menagih kepada kami pada akhir tur, atau berusaha agar kami membeli buah tangan,” kata Ren Juan, wanita berusia 43, yang berkunjung bersama teman-temannya.

“Kami tidak ingin merusak pengalaman dengan berkonflik dengan para bhiksu.”

Seorang pengemudi bus umum yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan jumlah keluhan dari para wisatawan dan penduduk kota mengenai Vihara Shaolin telah banyak berkurang semenjak peringatan dari otoritas pariwisata.

“Dibandingkan dengan masa lalu, Vihara Shaolin nampaknya telah mengembangkan citra yang sama sekali berbeda dalam beberapa bulan belakangan,” katanya. “Pemerintah kota terus mengawasi secara ketat terhadap kegiatan yang ilegal ataupun tidak tertib apapun.”

Akhir tahun 2011 Vihara Shaolin terancam turun peringkat dari kelas 5A dalam daftar kepariwisataan di China. Komite Peringkat Kualitas Nasional Objek Wisata memberi batas hingga sebelum akhir Maret 2012 agar pihak manajemen Vihara Shaolin memperbaiki pengelolaan situs Buddhis tersebut.[Bhagavant, 28/3/12, Sum]

Kata kunci:
Penulis: