India

Usaha Supremasi China Atas Dunia Buddhis

Rabu, 22 Februari 2012

Buddhisme di IndiaAsian Sentinel,
Bodh Gaya, India – Agama sebagai geopolitik. Situs suci Buddhis Bodh Gaya di India dan Lumbini di Nepal merupakan dua lokasi ziarah agama yang sangat suci telah menjadi dua pusat Permainan Besar antara India dan China.

Bodh Gaya merupakan jantung dari dunia Buddhis yang tidak terbantahkan. Namun, kemuliaan Bodh Gaya sedang ditantang oleh Yayasan Pertukaran dan Kerja Sama Asia Pasifik (Asia Pacific Exchange and Co-operation Foundation -APCEF) dari Hong Kong, yang menyokong Lumbini sebagai tepat kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama. Wakil ketua eksekutif yayasan tersebut, Xiao Wunan kelahiran Beijing, telah menjelaskan pengembangan Lumbini menjadi sebuah ‘Mekkah’ sebagai bagian dari rencana investasi China sebesar 3 milyar Dolar Amerika Serikat di Nepal.

Selama ratusan tahun para umat berdatangan ke Bodh Gaya, sebuah kota kecil sekitar 100 kilometer sebelah selatan Patna, ibukota Bihar – India bagian Timur Laut yang berbatasan dengan pegunungan Himalaya. Pada masa kehidupan Sang Buddha dikenal dengan nama Uruvela, tepat dimana Petapa Gautama mencapai pencerahan.

Di sinilah Pangeran Siddhartha Gautama dikatakan duduk di bawah sebuah pohon ara suci (Inggris: sacred fig – ed) dan masuk dalam meditasi yang mendalam menjadi Buddha, setelah sebelumnya selama enam tahun mengembara. Pohon ara suci, sebuah spesies dari pohon ara, kemudian dikenal sebagai pohon Bodhi atau Bo – pencerahan. Kini pohon yang berada di situs tersebut dikatakan merupakan keturunan dari pohon Bodhi yang asli. Bagi beberapa umat, sebuah lempengan batu pasir merah yang menandai tempat meditasi pertama Sang Buddha dikatakan menjadi pusat dunia.

Berkembangnya pengaruh China merupakan sesuatu yang diakui dan ditakuti oleh New Delhi dan Moskow. Ketidaksenangan China sudah cukup untuk memaksa membatalkan rencana pidato Perdana Menteri India, Manmohan Singh di konferensi Kongregasi Buddhis Global di Delhi pada November 2011 (bersama dengan seluruh anggota Parlemen India), meskipun Delhi menggaris bawahi bahwa pembatalan acara tersebut sama sekali bukan merupakan apa yang Beijing benar-benar inginkan.

Lumbini, 171 km, di tenggara Kathmandu, merupakan sebuah komponen kunci dalam tujuan China untuk mengeluarkan Nepal dari kekuasaan India sebagai sebuah “negara satelit”. Investasi China tersebut didesain untuk mengubah kota yang kini tertidur tersebut menjadi sebuah tujuan wisata kelas satu termasuk sebuah bandar udara dan jalan bebas hambatan baru, hotel-hotel, sebuah pusat konvensi, sebuah universitas Buddhis, dan tempat ziarah bagi umat Buddha dari seluruh dunia.

Menurut Xinhua News Agency, pada bulan Juli 2011, Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations Industrial Development Organization) dan Yayasan Pertukaran dan Kerja Sama Asia Pasifik menandatangi sebuah nota kesepahaman di Beijing untuk memulai pengembangan Lumbini.

Pemerintah Nepal yang merasa terganggu karena hal tersebut tidak dikonsultasikan, akhirnya mendesak Beijing untuk menyangkal laporan-laporan dalam media massa di Nepal atas sebuah pakta rahasia dengan unsur-unsur kelompok Maois (kaum komunis di Nepal) negara tersebut dan sebagai gantinya mengatakan bahwa mereka telah menandatangani nota kesepahaman dengan menteri pariwisata Khagda Bahadur, juga dengan seorang pemimpin Maois, Pushpa Kamal, yang memiliki nama perang Prachanda, ketua partai Maois yang merupakan salah seorang wakil ketua APECF bersama dengan Steven Clark Rockefeller Jr, seorang anggota keluarga Rockefeller generasi kelima; Jack Rosen, ketua Kongres Yahudi Amerika, dan Leon Charney, seorang taipan real estate dan mantan penasihat kepresidenan Amerika Serikat.

Wakil ketua eksekutif Xiao mengatakan secara terbuka bahwa ia berharap Lumbini akan mempertemukan semua tradisi Buddhis – Mahayana yang di praktikan di China, jepang, dan Korea Selatan, non-Mahayana yang dipraktikkan di Asia Tenggara, dan Buddhisme Tibet.

Tampaknya, bagaimana juga, menurut laporan media, salah seorang Buddhis yang menjadi tujuan Beijing yang tidak ada hubungannya dengan proyek Lumbini yang mungki paling berpengaruh di dunia saat ini adalah pempimpin Tibet di pengasingan, Dalai Lama, yang mengepalai Buddhisme tradisi Tibet (Vajrayana) aliran Gelug atau Topi Kuning. Nampaknya tak seorang pun yang berhubungan dengan proyek Lumbini tersebut telah menghubungi Dharmasala (Dharlamsala), kantor pimpinan Buddhis tersebut di India untuk mengundang beliau ikut berpartisipasi. China menganggap beliau sebagai seorang pelanggar hukum dan pemberontak yang memicu pemberontakan di Tibet.

Setelah puluhan tahun mengakui atheisme sebagai kebijakan resmi negara oleh Partai Komunis, yang sikap resminya menyatakan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, Presiden Hu Jintao menyatakan sebuah kebijakan “kehidupan sosial yang harmonis” pada tahun 2006. Sejak saat itu, pengaruh China dalam agama kian berkembang, dengan catatan bahwa Beijing secara efektif dapat memilih para pemimpin agama tersebut, seperti yang terjadi dengan cabang Gereja Katolik di China. Dengan demikian, pengaruh Beijing dalam urusan-urusan Buddhis pada khususnya telah berkembang. Partai Komunis telah memilih sendiri Panchen Lama, jabatan tertinggi kedua di Buddhisme tradisi Tibet, setelah menyingkirkan anak kelahiran kembali dari tokoh agama Tibet tersebut, dan dengan sia-sia mencoba untuk mendidik Karmapa Lama dengan doktrin sosialis sampai akhirnya ia melakukan pelarian diri yang dramatis dari China dan bergabung bersama Dalai Lama di India.

Ini merupakan sebuah asas pasca Revolusi Kebudayaan, sebuah asas penyelamatan ‘muka’ untuk ”bersekutu dengan Beijing, maka anda akan menikmati kebebasan dan manfaat.” Hal ini berhasil diterapkan pada sebagian besar organisasi Buddhis di China. Tawar-menawar untuk mengooptasi keyakinan Buddhis dianggap sebagai bagian dari penguasaan terhadap wilayah Himalaya yang dianggap penting bagi Beijing jika China terus mengambil keuntungan dari pengaruhnya atas Organisasi Kerjasama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization – SCO), sebuah organisasi keamanan bersama yang didirikan tahun 2001 oleh China, Kazakhstan, Kirgizstan, Rusia, Tajikistan, Uzbekistan. Meskipun secara nominal Rusia merupakan anggota yang setara, Moskow khawatir kehilangan daya tarik ekonomi sekali waktu dan soft power-nya[1].

Hal ini terjadi secara khusus dengan berdirinya Institusi Konfusius di banyak negara Asia Tengah kecuali Tajikistan, dan melatih para kaum muda yang cerdas dan menjanjikan di negara-negara tersebut berbahasa Mandarin. Dalam kilas balik pada masa dominasi Dinasti Han dan Tang terhadap Jalur Sutra dan imperialis Qing, pengaruh pembangkit listrik tenaga air dari manufaktur China di negara-negara pasca bubarnya Soviet mendorong Rusia untuk menarik perhatian kembali terhadap kekuatan blok-blok Asia Tengah dan Eropa Timur.

Bersama negara-negara Asia Tengah, China menikmati keuntungan dari menyanggah zona miskin Xinjiang yang sepertinya akan bergejolak secara politik pada masa yang akan datang karena pencampuran antara Buddhis Tibet dan Muslim Uighur (pasukan elit anti-pemberontakan China, Snow Leopard, saat ini digelar di daerah tersebut).

Buddhisme juga membentuk bagian depan kedua dari diplomasi keagamaan antara China dan sebuah blok kekuasaan yang berbeda, yaitu blok Pasifik-Atlantik negara adidaya Amerika Serikat. Sejak pendudukan China terhadap Tibet, Dalai Lama telah menjadi promoter bagi nilai-nilai “universal” – sebuah kata yang diterjemahkan oleh penguasa Beijing sebagai “Dunia Barat” atau “Amerika”.

Hal ini telah mengasilkan sebuah skenario buruk bagi umat Buddha di China juga masyarakat China yang mempraktikkan Buddhisme Tibet, yaitu: harus memilih antara mengecam seorang pemimpin keagamaan Tibet yang sangat sah atau jatuh pada perangkap media yang menyebut Tibet sebagai sebuah Shangri-la[2] yang tercerahkan dengan para bodhisattva-nya sebelum pendudukan Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army – PLA).

Pilihan ini berkembang menjadi lebih menyakitkan dengan adanya warga Tibet yang membakar dirinya sendiri. Setelah mengangkat Panchen Lama-nya sendiri, sekarang seluruh kelahiran kembali para pemimpin Buddhis Tibet harus disetujui oleh pemerintah China, yang menambah kekhawatiran bahwa ini berarti Dalai Lama yang akan datang harus dipilih oleh Beijing. Dari sisi pihak Tibet kisah ini tentu saja jauh lebih kompleks dan bersifat pribadi, dan Dalai Lama jauh lebih berpikir jangka panjang daripada kemauan Beijing terhadap diri beliau.

Dilihat dari sudut ini, paranoia China terhadap Tibet bukan merupakan pilihan yang dipikirkan dengan tidak baik tetapi sebuah keengganan dan keraguan yang dibuat oleh pihaknya meskipun tahu hal tersebut membuat mereka terlihat tidak dewasa dan tidak mencerminkan kebenaran. Hal ini cukup sesuai dengan gambaran yang lebih besar yang dapat kita lihat di abad ini.

Permainan catur yang aneh ini telah membawa sebuah pengamatan ironis dari saya pada konferensi Kongregasi Buddhis Global di Delhi yang berusaha dihentikan oleh China, dimana banyak Buddhis dari Taiwan juga ada dari Malaysia, Siangapura, dll., hampir semua dari mereka adalah Buddhis etnis Tionghoa, namun hampir tidak ada satu pun Buddhis dari China daratan. Saya adalah salah satu dari sedikit Buddhis dari Hong Kong.

Institusi vihara – sangha – berada di atas nasib yang selalu berfluktuasi dari dunia politik sekuler. Mengawasi makhluk hidup selama 2600 tahun adalah apa yang akan sangha lakukan untuk selamanya. Sementara itu, bagaimana pun juga, orang-orang tak bersalah telah mati sebagai korban dalam Permainan Besar negara-negara adidaya. Umat Buddha berjuang sebesar umat lainnya untuk menemukan solusi, menjadi bidak-bidak diplomatik yang bisa menyekakmat sang raja atau setidaknya memerangkap sang ratu.[Raymond Lam, Asian Sentinel, 17/2/12, tr & ed: Bhagavant]

[1]soft power: kekuatan lunak – kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan melalui daya tarik daripada melalui paksaan – Joseph S. Nye.
[2]Shangri-la: dalam istilah modern mengacu pada Shambhala, sebuah kerajaan mistis dalam tradisi Tibet.

Kata kunci: , ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: