Asia Oseania » Asia Tenggara » Gerakan Buddhis » Indonesia » Jepang » Pelayanan Buddhis » Solidaritas Buddhis

Karuna Buddhis Bagi Korban Gempa di Jepang

Selasa, 15 Maret 2011

Solidaritas Kemanusiaan BuddhisBhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Gempa berkekuatan 9,0 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Tohoku, Jepang, Jumat (11/3/2011) dan disusul dengan tsunami dahsyat, telah memakan korban manusia yang tidak sedikit. Korban diperkirakan mencapai 10.000 orang dan diperkirakan akan terus meningkat mengingat masih banyak yang belum ditemukan.

Gempa yang secara resmi diberi nama Gempa Tohoku Chiho Taiheiyo-oki (Gempa Lepas Pantai Wilayah Tohoku Samudera Pasifik) ini mengejutkan dan menimbulkan keprihatinan masyarakat dunia termasuk umat Buddhis.

Dalai Lama XIV yang berdomisili di Dharamsala, India, mengekspresikan keprihatinannya dalam surat yang dikirimkannya kepada Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan . Beliau pun akan mengadakan upacara pelafalan Prajñāpāramitā Hṛdaya Sutra (Sutra Hati) sebanyak 100.000 kali untuk para korban bencana.

“Akan sangatlah baik jika umat Buddhis Jepang melafalkan Sutra Hati pada kesempatan ini. Melakukan pelafalan tersebut mungkin tidak hanya membantu bagi mereka yang telah kehilangan kehidupan mereka yang berharga, tetapi juga mungkin dapat membantu mencegah bencana lebih lanjut di masa yang akan datang,” demikian pesan Dalai Lama kepada masyarakat Jepang, yang dikutip Bhagavant.com dari IANS.

Di wilayah lain di India, para bhikkhu/su juga melakukan puja bakti di Vihara Mahabodhi yang terletak 100 km dari Patna.

“Kami melakukan puja bakti untuk berkah bagi keselamatan dan keamanan masyarakat di Jepang dari kemarahan alam,” kata seorang bhante bernama Prayagsheel.

Puja bakti juga dilakukan di sebuah vihara Mahayana di Quincy, Massachusetts, Amerika Serikat. Para bhiksu memimpin puja bakti tersebut sepanjang hari. Pengumpulan dana juga dilakukan untuk membantu para korban. Begitu juga komunitas umat Buddhis Jepang di Chicago, melaksanakan puja bakti untuk keluarga dan sahabat mereka di Jepang. Mereka juga prihatin akan keadaan keluarga mereka disana yang tidak jelas.

“Tentu saja, saya sudah beberapa malam tidak tidur nyenyak, tapi bangun di pagi hari, saya berpikir, ‘mungkin ini hanyalah mimpi yang mengerikan, mungkin ini tidak terjadi’. Tapi ketika saya menyalakan TV dan kemudian ada berita itu lagi, dan menyadari kembali bahwa hal itu memang terjadi,” kata Joanne Tohei, seorang wanita anggota vihara di Chicago tersebut yang beruntung karena semua keluarga dan teman-temannya baik-baik saja, tetapi mereka merasa sangat berduka bagi mereka yang terluka ataupun tewas.

Sementara pada hari Minggu (13/3), ratusan remaja bercelana putih dan berbaju biru bersama-sama dengan 300 orang relawan dari Yayansan Buddha Tzu Chi di Milpitas, California, Amerika Serikat, melakukan pengumpulan dana di jalan-jalan di daerah Silicon Valley untuk korban bencana di Jepang.

“Saya tidak dapat pergi ke Jepang dan membantu, tapi saya dapat melakukan pengumpulan dana,” kata Jasmine Tsai, 16, remaja yang ikut dalam penggalangan dana tersebut.

Dalam beberapa jam setelah gempa terjadi, Yayasan Buddha Tzu Chi mendirikan sebuah pusat koordinasi darurat di kantor pusat internasionalnya di Hualien, Taiwan.

Mulai pada saat gempa, cabang Tzu Chi di Tokyo telah membuka kantornya sebagai tempat mengungsi, dan juga menyediakan makanan panas serta koneksi internet bagi orang-orang untuk menghubungi anggota keluarga mereka. Sejauh ini Tzu Chi cabang Tokyo telah menyediakan 500 barang untuk mereka yang terjebak di jalan-jalan Tokyo dan tidak dapat pulang ke rumah pada malam hari.

Para relawan Tzu Chi telah mengkaji kebutuhan para warga yang tinggal di pengungisan darurat di bawah koordinasi petugas Jepang. Sementara itu, markas pusat Tzu Chi di Hualien telah menerbangkan 5.000 selimut dari bahan botol PET daur ulang yang hangat dan ringan, menyediakan 35.000 kg nasi siap saji yang siap dihidangkan setelah 40-50 menit berada di suhu kamar atau 20 menit di air panas, dan 1.000 kg kacang-kacangan menuju Jepang pada 13 Maret kemarin.

Saat ini seluruh relawan Tzu Chi di Jepang dalam keadaan siaga untuk memberikan bantuan dan menyalurkan serangkaian kampanye penggalangan dana di seluruh Amerika Serikat untuk membantu penderitaan masyarakat di Jepang. Yang Mulia Cheng Yen sebagai pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi menghimbau semua orang untuk ‘berdoa’ secara tulus bagi masyarakat Jepang yang menderita. Demikian yang dilaporkan oleh situs yayasan tersebut.[Bhagavant, Sum]

Kata kunci: , , ,
Penulis: