Asia Oseania » Asia Tenggara » Seni dan Budaya » Seremonial » Thailand » Tradisi dan Budaya

Tradisi Tahun Baru Umat Buddha di Thailand

Senin, 27 Desember 2010

Buddhisme di ThailandBhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Setiap bangsa memiliki kebudayaan dan tradisi sendiri dalam menyambut suatu momen yang disepakati sebagai penggantian tahun. Demikian pula dengan masyarakat Buddhis di Thailand. Apakah Tahun Baru Internasional, Tahun Baru Lunar China (Imlek – ed) ataupun Tahun Baru Solar Thailand, peralihan dari satu tahun ke tahun lainnya selalu menawarkan kesempatan bagi masyarakat Buddhis di Thailand untuk melakukan kebajikan dengan mengunjungi tempat-tempat suci.

Bahkan bukanlah hal yang aneh bagi beberapa pribadi untuk mengambil manfaat dari ketiga momen tahun baru tersebut untuk mengunjungi situs-situs suci seperti vihara dan stupa di seluruh negeri “gajah putih” tersebut. Demikian fakta yang dilaporkan oleh Thailand Business News (23/12).

Layaknya para peziarah Tahun Baru, apakah mereka mengunjungi hanya satu situs atau banyak situs, mereka melakukan persembahan untuk menghormati Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Para pengunjung dapat tiba di awal pagi untuk mendanakan makanan kepada para bhikkhu yang tinggal di sana, atau mereka dapat tiba kapan pun dan mendanakan hal lain seperti lilin, bunga dan dupa yang akan diletakkan di altar vihara, atau di dasar dari sebuah stupa yang dihormati. Sumbangan berupa uang tunai untuk vihara juga dapat menjadi bagian dari berdana. Beberapa pengunjung vihara akan melakukan pekerjaan sukarela dalam rangka melakukan kebajikan pada Tahun Baru.

Tahun Baru dianggap sebagai sebuah waktu untuk membuat sebuah bab baru dalam “buku besar” karma seseorang, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Tahun Baru merupakan sebuah waktu khusus yang penuh harapan untuk melakukan kebajikan atau bun (bahasa Thailand yang berasal dari dari istilah bahasa Pali yaitu puñña). Kumpulan kebajikan diyakini memiliki pengaruh yang kuat pada kehidupan masa depan seseorang dan juga kelahiran kembali pada masa mendatang apabila memiliki dedikasi yang sepatutnya.

Memperoleh kebajikan juga bisa disalurkan kepada orang-orang yang disayangi atau individu-individu lain yang kita peduli padanya, termasuk mereka yang mungkin telah meninggal. Menyalurkan kebajikan seperti itu, yang merupakan cerminan dari semangat kedermawanan dan kesetiaan keluarga masyarakat Thailand, dapat secara resmi dimohonkan ketika berdana kepada para bhikkhu dan vihara-vihara, atau secara pribadi dinyatakan saat seseorang melakukan tindakan-tindakan kebajikan.

Sembilan Vihara Suci di Bangkok
Sembilan dari lebih dari 400 vihara ibukota secara khusus dianggap sebagai situs suci Buddhis. Banyak warga Thailand akan mengunjungi kesembilan vihara tersebut selama membuat kebajikan pada Tahun Baru. Hal ini tidak terpisahkan dari anggapan angka sembilan sebagai angka keberuntungan, dan karena faktanya angka sembilan mewakili jumlah tiga kali tiga, dimana tiga mengacu pada Tiga Permata Buddhisme (Buddha, Dhamma, Sangha), hal inilah yang membuat angka kelipatan tiga tersebut merupakan keberuntungan. Lebih lanjut, kata sembilan dalam bahasa Thailand adalah ‘kao’ terdengar mirip dengan kata ‘maju’, atau ‘melangkah maju’ (kaao), dan oleh karena itu angka tersebut dianggap mewakili kemajuan baik spiritual maupun material.

Wat Phra Si Rattana Satsadaram (Wat Phra Kaew – Vihara Buddha Zamrud), Bangkok, Thailand
Wat Phra Si Rattana Satsadaram (Wat Phra Kaew – Vihara Buddha Zamrud), Bangkok, Thailand. Foto: Wikipedia.org

Kesembilan vihara tersebut merupakan situs bersejarah yang diberikan title kerajaan, dan dipimpin oleh kepala vihara dari bhikku berperingkat tertinggi dalam sangha – komunitas Buddhis. Semua vihara tersebut memiliki setidaknya satu rupang Buddha yang terkenal akan kekuatan spiritualnya. Untuk alasan-alasan inilah sumbangan dan meditasi dilaksanakan pada kesembilan vihara tersebut yang dianggap memberikan berkah tersendiri.

Kesembilan vihara tersebut adalah Wat Phra Si Rattana Satsadaram (Wat Phra Kaew – Vihara Buddha Zamrud), Wat Phra Chetuphon Wimonmangkhalaram (Wat Pho), Wat Arunratchawararam Ratchaworamahawihan (Wat Arun — Vihara Fajar), Wat Suthat Thepwararam Ratchaworamahawihan, Wat Saket Ratchaworamahawihan, Wat Bowonniwet Vihara, Wat Chana Songkhram Ratchaworamahawihan, Wat Rakhangkhositaram Woramahawihan, dan Wat Kanlayanamit Woramahawihan.

Wat Phra Kaew sangat dikenal oleh pengunjung Thailand dan luar negeri sebagai Vihara Buddha Zamrud, dan sebagai rumah bagi rupang Buddha yang paling dihormati di negeri itu. Dipahat dari batu jasper hijau (bukan zamrud) dengan gaya Lanna yang indah, dengan tinggi 66 cm, rupang tersebut dipercaya memiliki kekuatan supranatural yang melindungi kedaulatan negeri tersebut.

Wat Pho, salah satu vihara tertua di Bangkok, memiliki luas area 80.000 meter persegi dan merupakan rumah bagi lebih dari seribu rupang Buddha, termasuk yang paling dihormati yaitu rupang Buddha Berbaring sepanjang 46 meter, salah satu rupang Buddha terbesar di Asia.

Ziarah ke Stupa Suci
Di luar Bangkok, sebuah rute ziarah yang lebih luas menghubungkan 12 stupa (phra that dalam bahas Thailand), dimana masing-masing berhubungan dengan hewan yang berbeda dalam sip-song rasee, siklus astrologi 12 tahunan yang dipercaya oleh kebudayaan masyarakat Thailand dan China. Banyak masyarakat Thailand percaya adalah penting bagi mereka untuk mengunjungi vihara yang berhubungan dengan tanda zodiak kelahiran mereka setidaknya satu kali dalam kehidupan mereka, atau lebih banyak lagi, pada hari peringatan setiap siklus 12 tahunan (pada usia 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84, 96, dan seterusnya).

Stupa-stupa mewakili peringatan terhadap kehidupan Sang Buddha dan enkapsulasi (pengkapsulan) ajaran-ajaranNya. Menurut Thupavamsa (Sejarah Stupa), Raja Ajatasattu dari Magadha dan seorang Brahmana bernama Drona mengambil hak pengasuhan terhadap sisa-sisa kremasi jasad Sang Buddha pada tahun 543 SM. Relik-relik tersebut, menurut legenda, terbagi menjadi delapan bagian yang ditempatkan dalam stupa-stupa di delapan lokasi yang berbeda yang saat ini berada di India utara dan Nepal selatan. Verifikasi sejarah dari stupa Buddhis tersebut dimulai pada masa pemerintahan Raja Ashoka (269-232 SM), kerajaan terbesar dari dinasti Maurya di India utara dan raja Buddhis pertama yang tercatat dalam sejarah.

Legenda mengatakan bahwa Ashoka memiliki delapan peti relik asli yang terbuka sehingga ia bisa membagi isinya dan relik-relik tersebut berada di 84.000 stupa (untuk menghormati 84.000 unsur-unsur Dhamma yang tersebar di Asia Selatan dan Tenggara. Meskipun jumlah ini mungkin bersifat apokrif (diragukan kebenarannya), 12 stupa tersuci di Thailand terinspirasi dari masa bersejarah pembangunan stupa oleh Raja Ashoka.[Thailand Business News,23/12, tr:Sum]

Kata kunci: , , , , ,
Penulis: