Asia Oseania » Asia Tenggara » Bodhi Yātrā » Indonesia » Travel

Uji Wacana Pembatasan Lantai Borobudur

Sabtu, 24 Juli 2010

Candi Borobudur - Jawa TengahBhagavant.com,
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia – Sebuah uji coba terhadap wacana pembatasan bagian Candi Borobudur yang boleh dikunjungi oleh para wisatawan dilakukan oleh Pengelola Taman Wisata Candi Borobudur, pada 23/7.

Bertepatan dengan diadakannya puja bakti dalam rangka peringatan Hari Asadha 2554 B.E, uji coba tersebut dilakukan dengan lantai delapan hingga sepuluh dari Candi Borobudur yang merupakan tingkat Arupadhatu tertutup untuk para wisatawan. Para wisatawan hanya bisa menyaksikan puja bakti tersebut dari lantai tujuh.

Selama masa penutupan tingkat Arupadhatu yang berlangsung hingga menjelang siang, para wisatawan diarahkan untuk melihat-lihat beberapa objek seperti Museum Karmawibangga dan Museum Kapal Samudraraksa dan fasilitas lainnya.Pujo Suwarno, Kepala Unit Taman Candi Borobudur mengatakan bahwa bahwa dalam pelaksanaan puja bakti Asadha kali ini sekaligus diadakan uji coba terutama pada lantai delapan hingga sepuluh sebagai upaya untuk melestarikan Candi Borobudur serta untuk menghormati umat Buddha.

“Pembatasan bagian yang boleh dikunjungi wisatawan dalam peringatan Hari Suci Asadha ini, sebagai uji coba upaya pelestarian Candi Borobudur. Mengingat umur batu candi sudah ratusan tahun,” demikian kata Pujo Suwarno, Kepala Taman Wisata Candi Borobudur, kepada media massa.

Selain itu Pujo Suwarno mengatakan wacana pembatasan ini muncul juga karena sering terjadinya kecelakaan di lantai delapan hingga sepuluh karena saat sampai di atas para pengunjung ingin menaiki stupa ataupun meroggoh stupa yang dikenal dengan mitos “kunto bimo”.

Baru-baru ini, sebulan yang lalu (26/6), seorang anak balita terjepit kepalanya di salah satu stupa karena ingin meroggoh rupang Buddha. Selama kurang lebih setengah jam sejumlah Petugas Balai Konservasi Peninggalan Borobudur secara perlahan-lahan mengeluarkan kepala anak itu dari stupa. Meskipun peristiwa ini tidak terjadi di “kunto bimo”, namun sempat mengundang perhatian.

Pihak Pengelola Taman Wisata Candi Borobudur berdalih bahwa petugas sebenarnya sudah secara intensif mengingatkan pengunjung agar tidak memanjat dinding candi dan stupa, serta tidak berdesak-desakan di tangga candi. Namun tidak diindahkan oleh para pengunjung.

Dengan peristiwa terjepitnya kepala seorang balita tersebut, bukankah sudah saatnya Pengelola Taman Wisata Candi Borobudur menerapkan peraturan secara maksimal dengan menepis mitos “kunto bimo” dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar peraturan demi keselamatan para pengunjung itu sendiri?[Sum]

Kata kunci: , ,
Penulis: