Asia Tenggara » Indonesia

Dikaitkan Isu Rohingya, Buddhis Jakarta Jadi Target Teroris

Selasa, 11 September 2012

Buddhisme di IndonesiaBhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Umat Buddha di Indonesia umumnya dan di Jakarta khususnya perlu meningkatkan kewaspadaan mereka terkait adanya rencana teroris untuk melakukan serangan bom bunuh diri dengan salah satu targetnya adalah komunitas Buddhis di Jakarta.

Seorang pria bernama Muhammad Thoriq (32) menyerahkan diri ke pos Polisi Jembatan Lima pada Minggu (9/9) sore setelah sebelumnya sempat diburu oleh pihak polisi karena bahan peledak yang disimpannya di rumahnya di Jembatan Lima, Tambora, pada Rabu (5/9) sore, mengeluarkan asap.

Dalam keterangan persnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (10/9), Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, mengungkapkan bahwa terduga teroris, Muhammad Thoriq, berencana melakukan aksinya tersebut pada Senin 10 September 2012 dengan empat pilihan sasaran, yaitu Markas Korps Brimob Kelapa Dua Depok, Markas Datasemen Khusus Densus 88 di Mabes Polri, Pos Polisi Salemba, dan komunitas Buddhis termasuk vihara. Khusus yang terakhir, belum jelas lokasi mana yang dimaksud.

Komunitas Buddhis menjadi salah satu target terduga teroris karena anggota jaringan tersebut ingin membalas dendam terhadap permasalahan yang terjadi pada etnis Rohingya di Birma (Myanmar) yang mereka anggap mengalami ketidakadilan, jelas Brigjen Pol Boy Rafli Amar, seperti yang dilaporkan oleh Vivanews (10/9).

Anggapan terduga teroris tersebut disinyalir disebabkan terpengaruh oleh biasnya berita-berita yang beredar di media massa baik media dalam negeri maupun media asing yang mengaitkan permasalahan antara etnis Rohingya di Birma dengan agama, yang justru sebenarnya merupakan permasalahan kependudukan/kewarganegaraan dan etnis.

Manipulasi foto-foto di situs-situs dan jejaring sosial di internet oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang berusaha mendiskreditkan komunitas Buddhis juga ikut membentuk dan mengotori opini publik. Opini publik yang kotor dan bias inilah yang menjadi landasan bagi teroris dengan mengatasnamakan agama, khususnya agama Islam, untuk berusaha melakukan tindakan buruk terhadap komunitas Buddhis.

Permasalahan etnis Rohingya sendiri merupakan permasalahan kependudukan dan etnis di Birma yang mayoritas penduduknya Buddhis (namun bukanlah negara Buddhis). Etnis Rohingya yang sebenarnya adalah etnis Bengali yang kini banyak tinggal di provinsi Rakhine (Arakan), berbatasan dengan Bangladesh, dianggap oleh pemerintah Birma sebagai etnis pendatang dari Bangladesh dan tidak diakui sebagai bagian dari etnis yang ada di Birma.

Pembiaran masalah kependudukan para pendatang dan pengungsi etnis Bengali dari Bangladesh yang berlarut-larut di perbatasan negara tersebut menimbulkan konflik komunal antara etnis pendatang dengan etnis lokal (etnis Rakhine). Puncak konfik terjadi dengan adanya kerusuhan massal pada 9 Juni 2012 yang dipicu oleh diperkosanya seorang wanita etnis Rakhine oleh 3 pria etnis Rohingya pada 28 Mei 2012. Dalam kerusuhan tersebut korban jatuh dikedua belah pihak (lihat beritanya).

Aksi teroris yang menjadikan komunitas umat Buddha sebagai sasaran dengan alasan persoalan etnis Rohingya merupakan aksi yang salah alamat karena tidak memahami duduk persoalan yang terjadi pada etnis Rohingya yang pada dasarnya bukan permasalahan agama. Aksi teroris yang mengatasnamakan agama ini perlu dikecam oleh seluruh umat beragama. Dan pihak kepolisian diharapkan dapat menuntaskan kasus ini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan termasuk jatuhnya korban.

Dengan adanya ancaman teroris yang menjadikan komunitas Buddhis sebagai salah satu sasarannya, maka umat Buddha dihimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan diri termasuk peningkatan keamanan di vihara-vihara serta fasilitas keagamaan lainnya. Meskipun meningkatkan kewaspadaan diri, umat Buddha juga diharapkan untuk tidak menjadi takut melakukan aktivitas khususnya beribadah, karena dengan menjadi takut maka akan menjadi peluang bagi merajalelanya terorisme.[Bhagavant, 11/9/12, Sum]

Kata kunci:
Penulis: