Situs Buddhis Ditemukan di Bondowoso

Bhagavant.com,
Jawa Timur, Indonesia – Satu lagi sebuah situs peninggalan sejarah ditemukan di lereng bukit Cermee di desa Ampel, kecamatan Cermee, kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Situs yang berjarak 10 kilometer dari kota Bondowoso dan diperkirakan berusia 800 tahun ini diyakini merupakan situs agama Buddha karena dalam situs tersebut terdapat relief berbentuk Buddha.

Selain ditemukannya relief berbentuk Buddha, di situs yang terletak di tebing dengan kemiringan 70-80 derajat di ketinggian 300 meter dari permukaan laut ini juga ditemukan relief berbentuk gajah, kerbau, kera dan wajah makhluk Butho (raksasa).

“Itu merupakan tempat penyucian bagi para bhikkhu, satu-satunya di dunia,” ujar Ketua Dewan Sesepuh Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Dhammasubho Mahathera, di Surabaya, Senin (13/08) yang dikutip oleh Bhagavant.com dari beberapa sumber.

Bhante Dhammasubho mengatakan bahwa keberadaan situs ini terungkap melalui peta yang ditulis di kulit kambing yang ditemukan oleh Raffles pada masa lalu.

“Ketika itu Raffles masuk ke Nusantara yang dia cari pertama adalah cerita rakyat, lalu dia menemukan peta yang didapat dari Suku Badui. Kemudian dari peta itu dia dapat menemukan tempat-tempat yang ada di wilayaha Nusantara, termasuk Borobudur,” kata Bhante Dhammasubho.

Situs yang disebut oleh masyarakat di sekitarnya dengan “Gua Butho” ini merupakan rangkaian dari pegunungan Ijen dan tergolong langka, karena situs Buddhis yang ada selama ini merupakan candi tempat penyucian umat Buddha yang awam, sedangkan situs ini diperkirakan digunakan sebagai tempat meditasi para bhikkhu.

“Jadi, situs Buddhis yang terletak di lereng tebing dengan kemiringan 70-80 derajat pada ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut itu, secara filosofis lebih tinggi dari Borobudur, karena situs untuk bhikkhu,” kembali Bhante Dhammasubho menjelaskan.

Situs ini merupakan rongga-rongga tebing yang di dalamnya memiliki relief sesuai dengan tingkatan dalam samadhi/meditasi.

“Ada empat tingkatan mulai dari Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat. Relief yang terpahat antara lain gambar gajah, kerbau, kera, patung Buddha yang tidak utuh lagi, dan lotus,” ucapnya.

Bhante Dhammasubho menegaskan bahwa situs tersebut ditemukan saat masyarakat mulai membangun rumah di bukit itu pada tahun 1980-an.

“Tahun 1990-an mulai ada bhikkhu yang tahu, tapi lokasinya tidak mudah dijangkau, karena berjarak 20 kilometer dengan lokasi mendaki dan banyak batu cadas yang hanya mungkin dicapai dengan berkuda atau berjalan kaki,” ungkapnya.

Namun, katanya, tahun 2003-an mulai dibangun jalan menuju lokasi dan akhirnya ada bhikkhu yang dapat menjangkaunya pada 12 Agustus 2007.

Bhante Dhammasubho berharap, pemerintah bisa menjaga kelestarian situs tersebut sesuai dengan kondisi aslinya, karena menurutnya pemandangan di situs ini lebih indah dari 13 negara yang pernah dikunjunginya.

“Karena itu, kami meminta pemerintah untuk memperhatikan situs yang langka dan merupakan satu-satunya di dunia bagi agama Buddha,” tegasnya.

Ia menambahkan, situs itu berbeda dengan temuan di India dan Srilangka, karena situs yang ditemukan di Sri Lanka tidak dilengkapi relief atau hanya berupa gua tempat samadhi, sedangkan di India hanya relief.

“Tapi, situs di Bondowoso merupakan tempat penyucian diri, sekaligus ada relief yang terpahat pada tebing. Jadi, temuan itu sangat istimewa,” katanya menambahkan.

Rekomendasikan:
ArkeologiAsia OseaniaAsia TenggaraIndonesiaSeni dan Budaya