Eropa » Sosial

Pemimpin Buddhis Ikut Deklarasi Penghapusan Perbudakan Modern

Sabtu, 6 Desember 2014

Bhagavant.com,
Kota Vatikan – Dua tokoh pemimpin umat Buddhis bersama dengan sepuluh tokoh pemimpin agama lainnya, menandatangani deklarasi bersama untuk membantu menghapuskan perbudakan modern hingga tahun 2020, yang diselenggarakan di Kota Vatikan pada Selasa (2/12/2014).

Pemimpin Buddhis Ikut Deklarasi Penghapusan Perbudakan Modern yang diselenggarakan di Kota Vatikan, Selasa (2/12/2014).
Pemimpin Buddhis Ikut Deklarasi Penghapusan Perbudakan Modern yang diselenggarakan di Kota Vatikan, Selasa (2/12/2014). Foto: video yutube.

Bertepatan pada Hari Penghapusan Perbudakan Internasional, para tokoh pemimpin umat dari Agama Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, Anglikan, Ortodoks, dan Yahudi dipersatukan dalam sebuah deklarasi bersama yang diselenggarakan di pusat Akademi Ilmu Pengatahuan Kepausan di Taman Vatikan oleh Global Freedom Network (GFN).

Para tokoh pemimpin agama yang hadir menandatangani deklarasi tersebut yaitu:
1. Paus Fransiskus (sebagai tuan rumah) dari Katolik.
2. Y.M. Mata Amritanandamayi dari Hindu.
3. Y.M. Master Zen Thich Nhat Hanh (diwakili oleh Y.M. Bhiksuni Thich Nu Chan Khong) dari Buddhisme.
4. Y.M. Bhikkhu K. Sri Dhammaratana Maha Thera (Ketua Sangha Nayaka Malaysia) dari Buddhisme.
5. Rabi Dr. Abraham Skorka dari Yahudi.
6. Rabi Dr. David Rosen dari Yahudi.
7. Y.M. Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartolomeus I dari Ortodoks (diwakili oleh Y.M. Emmanuel Metropolitan dari Perancis).
8. Mohamed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar (yang diwakili oleh Dr. Abbas Abdalla Abbas Soliman, Wakil Menteri Luar Negeri Al Azhar Alsharif) dari Islam.
9. Grand Ayatollah Mohammad Taqi al-Modarresi dari Islam.
10. Grand Ayatollah Sheikh Basheer Hussain al Najafi (yang diwakili oleh Sheikh Naziyah Razzaq Jaafar) dari Islam.
11. Sheikh Omar Abboud dari Islam.
12. Y.M. Uskup Agung Canterbury Justin Welby dari Anglikan.

Mewakili Buddhisme, Master Thich Nhat Hanh (Thay) yang berhalangan hadir karena sakit, mengirimkan teks pidatonya yang dibacakan oleh Y.M. Bhiksuni Thich Nu Chan Khong.

Dalam pidatonya, Thay mengingatkan bahwa pekerjaan untuk mengakhiri perbudakan modern, para pemimpin agama juga perlu meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri dan menjaga momen kekinian.

“Dalam pekerjaan kita untuk mengakhiri perbudakan modern, kita harus menemukan waktu untuk merawat diri sendiri, dan untuk menjaga momen kekinian. Dengan demikian, kita dapat menemukan beberapa kedamaian relatif dalam tubuh dan pikiran kita untuk melanjutkan pekerjaan kita,” kata Thay di dalam teks pidatonya.

“Kita perlu mengenali dan merangkul penderitaan kita sendiri, kemarahan kita, ketakutan, dan keputusasaan sehingga energi belas kasih dapat dipertahankan di dalam batin kita. Ketika kita memiliki lebih banyak kejernihan dalam pikiran kita, kita akan memiliki belas kasihan tidak hanya untuk para korban, tetapi untuk para pedagang manusia itu sendiri. Saat kita melihat bahwa para pedagang manusia tersebut telah menderita, kita dapat membantu mereka untuk sadar dan menghentikan apa yang mereka lakukan. Kasih sayang kita dapat membantu mengubah mereka menjadi teman dan sekutu dari tujuan kita,” lanjutnya.

Thay juga mengingatkan bahwa untuk menopang pekerjaan belas kasih tersebut, kita semua memerlukan sebuah komunitas spiritual yang mendukung dan menjaga kita – sebuah komunitas sejati, dengan persaudaraan, belas kasih, dan pemahaman sejati.

Berikut isi Deklarasi Penghapusan Perbudakan Modern:

Kami, yang bertandatangan di bawah ini, berkumpul bersama di hari ini untuk mewujudkan sebuah prakarsa bersejarah yang menginspirasi seluruh umat manusia dimanapun untuk mengambil tindakan baik secara spiritual maupun praktik guna memberantas perbudakan modern di seluruh dunia hingga tahun 2020 dan untuk selamanya.

Di mata Tuhan*, tiap manusia merdeka dan sama kedudukannya, baik itu wanita, pria, tua, muda, kaya ataupun miskin, dan ditakdirkan untuk setara dan sederajat. Perbudakan modern, yang mencakup perdagangan manusia, buruh dan prostitusi paksa, perdagangan organ tubuh manusia, dan segala tindakan yang merusak keyakinan fundamental bahwa semua manusia itu memiliki harkat, martabat, dan kebebasan yang sama, merupakan kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Hari ini, kami berikrar untuk berjuang sekuat tenaga kami, di dalam agama kami masing, untuk bekerjasa sama mewujudkan kemerdekaan semua orang yang menjadi korban perbudakan dan perdagangan manusia sehingga mereka dapat kembali mengukir masa depan mereka yang cerah. Hari ini, kami memiliki kesempatan, kesadaran, kebijaksanaan, inovasi, dan teknologi untuk meraih tujuan yang sangat penting bagi kemanusiaan.

*Imam Besar Al-Azhar menggunakan “agama”


Hari Penghapusan Perbudakan Internasional diperingati setiap tanggal 2 Desember dan ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hari Penghapusan Perbudakan Internasional untuk pertama kali diperingati pada tahun 1986.

Berdasarkan Indeks Perbudakan Global 2014 (The Global Slavery Index 2014) yang terbit 18 November lalu, terdapat sekitar 35,8 juta orang yang menjadi korban perbudakan modern pada tahun 2014. Ini berarti jumlah korban meningkat dari tahun 2013 yang berjumlah sekitar 29,8 juta orang.[Bhagavant, 6/12/14, Sum]

Kata kunci: