KorSel Tetapkan 2 Pagoda Era Goryeo Jadi Harta Nasional
Bhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Dua buah pagoda Buddhis terbuat dari batu ditetapkan menjadi harta nasional Korea Selatan.

Lembaga Warisan Budaya Korea (KHS) mengumumkan pada hari Kamis (30/10/2025) bahwa dua pagoda batu warisan Buddhis yang berasal dari Dinasti Goryeo Korea (918–1392) akan ditetapkan sebagai Harta Karun Nasional.
Kedua monumen tersebut adalah pagoda lima tingkat yang dibangun pada abad ke-10 di Vihara Bowon (Bowonsa), sebuah vihara di Seosan, sebuah kota di provinsi barat daya Chungcheong Selatan, dan pagoda lima tingkat yang berasal dari tahun 1011 M di Vihara Gaesim (Gaesimsa), sebuah vihara yang telah lama menghilang di Kabupaten Yecheon, provinsi timur Gyeongsang Utara.
Harta Karun Nasional adalah sebutan resmi tingkat nasional yang diterapkan pada objek warisan benda yang menegaskan signifikansi artistik, budaya, dan sejarahnya. Harta Karun Nasional mencakup karya seni, artefak, serta situs, bangunan, dan struktur warisan.
Pagoda di Bowonsa dibangun pada pertengahan abad ke-10 dan berdiri di depan aula utama vihara. Informasi penanggalan yang jelas diberikan oleh prasasti pada prasasti untuk Guru Negara Beopin, pencetus Sagulsanmun, salah satu dari sembilan tradisi Seon (Zen) yang terbentuk di Korea antara akhir periode Silla dan awal periode Goryeo.
Prasasti tersebut menunjukkan bahwa bhiksu bernama Tanmun (900–974 M) mendirikan sebuah rupaka Buddha dan pagoda untuk Raja Gwangjong (memerintah 949–975), raja keempat dari dinasti Goryeo.
Menurut seorang pejabat KHS, “konstruksi yang jelas tanggalnya dan pengerjaan yang halus memberikan wawasan berharga tentang perlindungan kerajaan terhadap agama Buddha selama awal Goryeo, menjembatani tradisi artistik dari Silla Bersatu ke era gaya baru.”
Pagoda di situs Vihara Gaesim dibangun pada tahun 1010, pada masa pemerintahan Raja Hyeonjong (memerintah 1009–1031), dan memuat prasasti 190 karakter yang merinci proses pembangunan, para sponsor, dan iklim keagamaan pada masa itu—dianggap sebagai catatan yang luar biasa lengkap untuk sebuah monumen batu.
Pagoda yang berdiri di tengah sawah ini memiliki alas dua tingkat yang menopang lima tingkat. Setiap sisi lapisan bawah alas diukir dengan 12 hewan zodiak. Keempat sisi lapisan atas dihiasi dengan delapan dewa pelindung. Struktur utamanya menampilkan ukiran para prajurit Vajra yang gagah dalam urutan ikonografi vertikal, dari duniawi hingga ilahi, yang menurut KHS merupakan keunikan dalam seni Buddhis Korea.
KHS mengamati bahwa kombinasi detail epigrafi dan pahatan pagoda ini “secara gamblang mencerminkan kosmologi Buddhis dan menawarkan contoh langka integrasi naratif dalam arsitektur batu.”[Bhagavant, 8/11/25, Sum]
