Tzu Chi Kirim Bantuan Darurat ke Jepang Pasca-Gempa 7,1 Magnitudo
Bhagavant.com,
Kumamoto, Jepang — Yayasan Buddhis Tzu Chi Taiwan mengirimkan bantuan darurat ke Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Senin (3/8/2026)

Tzu Chi mengirimkan bantuan darurat tersebuy setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang wilayah tersebut pada 28 Juli 2026. Bencana itu sedikitnya menewaskan 38 orang.
Dalam laporan hingga Minggu, selain korban meninggal, sebanyak 13 orang dilaporkan mengalami luka serius. Sementara itu, sedikitnya 8.556 warga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi akibat gempa.
Bantuan Tzu Chi tiba di Jepang pada Senin (3/8/2026). Pengiriman tersebut mencakup 148 tempat tidur lipat multifungsi dan 40 tenda sekat dari lini produk Jing Si milik yayasan. Bantuan dikirim menggunakan pesawat China Airlines dari Taiwan menuju Fukuoka pada Sabtu sebelum diteruskan ke wilayah yang terdampak bencana.
Sebanyak 10 relawan Tzu Chi dari Taiwan dan Jepang berkumpul di Bandara Fukuoka pada Minggu untuk meninjau kondisi lapangan sekaligus mengoordinasikan penyaluran bantuan. Selain perlengkapan untuk tempat pengungsian, tim juga membawa dua unit pemurni air portabel guna membantu masyarakat yang berpotensi mengalami kesulitan memperoleh air minum layak.
Tzu Chi menjelaskan, tempat tidur lipat dan tenda sekat tersebut dirancang khusus untuk digunakan di lokasi pengungsian. Penggunaan keduanya secara bersamaan diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus memberikan ruang pribadi bagi warga yang harus tinggal sementara di fasilitas evakuasi umum.
Menurut yayasan tersebut, tempat tidur yang ditinggikan dari lantai dapat membantu melindungi warga lanjut usia dari udara dingin dan kelembapan lantai. Sementara itu, tenda sekat memberikan ruang pribadi bagi pengungsi di tengah kondisi tempat penampungan yang padat.
Bantuan tersebut dijadwalkan dibawa ke Kota Yatsushiro pada Senin. Relawan Tzu Chi cabang Jepang akan bertanggung jawab atas pengaturan logistik dan distribusinya kepada warga terdampak.
Berawal dari Pengalaman Bencana di Pakistan dan Taiwan
Tzu Chi menyebut pengembangan tempat tidur lipat bermula dari permintaan pendirinya, sekaligus tokoh kemanusiaan Y.M. Master Cheng Yen. Pada 2010, Master Cheng Yen menyaksikan langsung kondisi para korban banjir besar di Pakistan yang harus bertahan dalam situasi pengungsian yang serba terbatas.
Beberapa tahun kemudian, Tzu Chi mengembangkan tenda sekat setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Hualien, Taiwan timur, pada Februari 2018. Saat itu, para relawan menemukan bahwa korban dan petugas darurat yang tinggal di tempat penampungan sementara memiliki ruang pribadi yang sangat terbatas.
Didirikan Master Cheng Yen di Taiwan pada 1966, Tzu Chi kini berkembang menjadi organisasi kemanusiaan Buddha internasional. Organisasi tersebut bergerak dalam berbagai bidang, termasuk penanggulangan bencana, layanan kesehatan, pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pengentasan kemiskinan.
Dalam menjalankan operasi kemanusiaan, Tzu Chi tidak hanya menyalurkan bantuan material pada masa darurat, tetapi juga memberikan dukungan jangka panjang kepada masyarakat yang terdampak. Para relawannya telah terlibat dalam penanganan berbagai bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, hingga topan di sejumlah wilayah Asia dan berbagai negara lainnya.
Jepang Dilanda Cuaca Panas Ekstrem
Jepang merupakan salah satu negara yang rawan gempa karena berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik. Prefektur Kumamoto sendiri pernah mengalami rangkaian gempa dahsyat pada April 2016, termasuk gempa utama berkekuatan magnitudo 7,0 yang menyebabkan kerusakan luas dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Pasca-gempa terbaru, petugas darurat dan organisasi kemanusiaan terus melakukan pendataan kerusakan, menyediakan tempat berlindung, serta mengidentifikasi kebutuhan warga yang belum dapat kembali ke rumah.
Lebih dari 46.000 rumah tangga di Jepang dilaporkan mengalami kekurangan air, sementara kelangkaan bahan bakar juga terjadi di sejumlah wilayah terdampak. Kondisi tersebut diperburuk oleh cuaca panas ekstrem. Suhu di wilayah selatan Jepang mencapai hingga 40 derajat Celsius pada Senin.
Gubernur Kumamoto Takashi Kimura menyoroti kondisi yang disebutnya sebagai “panas yang tidak normal”. Ia mengatakan sejumlah pusat evakuasi masih kekurangan air bersih dan kebutuhan medis.
Pemerintah Jepang menyatakan akan mempertimbangkan permintaan pemerintah daerah serta segera menentukan langkah yang dapat dilakukan untuk membantu wilayah dan masyarakat yang terdampak bencana.
Sementara itu, Tzu Chi mengatakan para relawannya akan terus bekerja sama dengan petugas setempat untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Mereka juga akan menilai apakah bantuan tambahan diperlukan dalam beberapa hari mendatang.[Bhagavant, 11/8/26, Sum]
