Sangha Vietnam Imbau Buddhis Perhatikan Lingkungan Saat Fang Sheng
Bhagavant.com,
Hanoi, Vietnam – Sangha Vietnam mengimbau umat Buddha untuk menjalankan tradisi pelepasan satwa atau phóng sinh (fang sheng) sesuai dengan ajaran Buddha, namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Hal tersebut disampaikan oleh Y.M. Thich Thien Nhon, Ketua Dewan Eksekutif Sangha Vietnamdalam perayaan Vu Lan (Ullambana) atau Festival Bakti kepada Orang Tua tahun ini.
Beliau mengatakan bahwa phóng sinh merupakan praktik tradisional dalam agama Buddha yang mencerminkan penghormatan dan kepedulian terhadap kehidupan.
Menurutnya, makna utama praktik tersebut adalah menyelamatkan makhluk hidup yang berada dalam bahaya atau terancam dibunuh, kemudian memberikan kesempatan kepada mereka untuk melanjutkan kehidupan di habitat alami yang sesuai.
Y.M. Thich Thien Nhon mengingatkan agar praktik pelepasan satwa tidak berubah menjadi sekadar kegiatan yang mengejar jumlah, simbolisme, atau dikaitkan dengan upaya memperoleh keberuntungan dan menghindari ketidakberuntungan.
Dalam arahan yang disampaikan pada 18 Agustus, ia meminta seluruh vihara, bhiksu, bhiksuni, dan umat Buddha untuk tidak memesan, mengumpulkan, ataupun membeli satwa dalam jumlah besar sebelum perayaan Vu Lan. Satwa yang dimaksud antara lain burung, hewan darat, dan satwa air yang nantinya akan dilepaskan. Menurutnya, praktik semacam itu justru berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap ekosistem.
“Kebutuhan untuk melakukan perbuatan amal tidak boleh menjadi alasan meningkatnya penangkapan, pengurungan, dan perdagangan satwa untuk memenuhi kebutuhan pelepasan hewan,” ujarnya.
Sangha Vietnam juga mengingatkan umat agar tidak melakukan pelepasan satwa dengan cara yang mencemari lingkungan. Umat diminta tidak membuang kantong plastik, kemasan, sangkar, maupun limbah lainnya ke sungai atau habitat alami setelah melakukan pelepasan.
Sebagai alternatif, umat dianjurkan mengalokasikan sumber daya untuk menyelamatkan satwa yang terluka, mendukung pusat penyelamatan satwa liar, menanam dan merawat pohon, menjaga sumber air, mengurangi penggunaan plastik, melindungi habitat satwa, menerapkan pola makan vegetarian, mengurangi penyembelihan hewan, serta mendorong masyarakat untuk menghormati kehidupan.
Perayaan Vu Lan atau Ullamabana tahun ini jatuh pada 27 Agustus, bertepatan dengan hari ke-15 bulan ketujuh dalam kalender lunar. Pada momentum tersebut, umat Buddha biasanya mengunjungi vihara untuk melakukan puja bagi kedamaian, melakukan pelepasan satwa, serta menjalankan berbagai kebajikan sebagai bentuk pengumpulan pahala yang kemudian dipersembahkan untuk orang tua.
Menjelang Vu Lan, aktivitas perdagangan burung di sejumlah pasar juga meningkat karena masyarakat membeli burung untuk dilepaskan.
Pada 19 Agustus, aparat kepolisian di Pasar Burung Vinh Hoang, Hanoi, menyita 15 sepeda motor yang membawa sangkar berisi lebih dari 1.000 ekor burung. Satwa tersebut antara lain burung murai, hwamei, dan white-cheeked laughingthrush.
Truong Le, warga Ho Chi Minh City, menilai praktik tersebut mengandung kontradiksi. Menurutnya, membeli burung yang sebelumnya ditangkap dan dikurung hanya untuk kemudian dilepaskan justru dapat memperpanjang rantai perdagangan satwa liar. Ia pun menyerukan agar perdagangan tersebut dilarang.
Sementara itu, otoritas di Da Nang mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penangkapan, pemeliharaan, dan perdagangan satwa liar secara ilegal. Peringatan juga mencakup praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan serta pelepasan spesies invasif secara sembarangan.
Hung Nguyen, seorang umat Buddha, mengatakan bahwa sebagian orang bahkan memesan burung dan satwa air dalam jumlah besar untuk keperluan phóng sinh. Menurutnya, permintaan tersebut justru mendorong penangkapan satwa dan berkontribusi terhadap perdagangan satwa liar yang merusak.
Ia juga menyoroti kemungkinan satwa yang telah dilepaskan kembali ditangkap dan dijual.
“Saya pernah membeli banyak burung, tetapi mereka hanya bertahan sekitar satu minggu karena kelelahan dan mengalami luka,” katanya. Ia menggambarkan praktik tersebut sebagai sebuah siklus yang terus berulang: “menangkap, menjual, membeli, melepaskan, kemudian menangkap kembali.”
Data otoritas menunjukkan bahwa sepanjang enam bulan pertama tahun ini ditemukan 1.274 pelanggaran terkait satwa liar. Kasus tersebut mencakup 120 perkara pidana dengan 202 tersangka serta 978 kasus administratif. Total denda yang dijatuhkan mencapai lebih dari 6,8 miliar dong Vietnam atau sekitar 4,5 miliar rupiah.[Bhagavant, 22/8/26, Sum]
