Dalai Lama Jadi Tuan Rumah Dialog tentang AI
Bhagavant.com,
Dharamshala, India – Y.M. Dalai Lama menjadi tuan rumah bagi dialog Mind and Life ke-39 yang kali ini fokus membahas mengenai kecerdasan buatan (AI).

Lebih dari 120 ilmuwan, akademisi, praktisi spiritual, dan pemimpin dunia berkumpul dalam Dialog Mind and Life ke-39 yang digelar di Perpustakaan dan Arsip Dalai Lama, Dharamshala, pada 14–16 Oktober 2025. Forum tahunan yang dihadiri langsung oleh Y.M. Dalai Lama ini mengusung tema “Pikiran, Kecerdasan Buatan, dan Etika.”
Acara yang diselenggarakan oleh Mind and Life Institute, Mind and Life Europe, dan Dalai Lama Trust ini bertujuan menjembatani kebijaksanaan Timur dengan penemuan ilmiah Barat. Direktur Dalai Lama Library, Jamphel Lhundrup, menyebut dialog ini sebagai kelanjutan dari visi Dalai Lama untuk mempertemukan sains dan spiritualitas, sebagaimana telah dimulai sejak pertemuan pertama pada tahun 1987.
Ketua Dewan Mind and Life, Thupten Jinpa, menegaskan bahwa diskusi tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan ulang tahun ke-90 Dalai Lama, yang diperingati sebagai Tahun Welas Asih. Ia mengingatkan kembali bahwa forum ini lahir dari gagasan ilmuwan Chile Francisco Varela dan pengusaha Adam Engle, yang ingin mempertemukan ilmu pengetahuan dengan tradisi Buddhis melalui dialog terbuka.
Sepanjang enam sesi berdurasi dua jam, para pembicara dari berbagai universitas dan lembaga ternama—termasuk University of Washington, Google DeepMind, Kyoto University, Princeton University, serta sejumlah biara Tibet—membahas tiga isu utama: potensi AI untuk mengurangi penderitaan manusia, risiko teknologi terhadap kesejahteraan sosial, dan pentingnya membangun kecerdasan buatan yang berlandaskan etika serta welas asih.
Dalam audiensi khusus pada 17 Oktober, Dalai Lama menyampaikan apresiasinya atas forum tersebut. “Dialog seperti ini sangat bermanfaat, bahkan lebih dari sekadar ritual,” ujarnya seperti yang dilansir The Tibet Post, Senin (20/10/2025). Ia menekankan bahwa pemikiran kritis dalam Agama Buddha sejalan dengan pendekatan ilmiah, dan dapat memperkaya penelitian tentang kesadaran manusia.
Dalai Lama juga berbagi praktik pribadinya dalam menumbuhkan bodhicitta—niat tulus untuk kebahagiaan semua makhluk—serta menegaskan bahwa seluruh hidupnya didedikasikan untuk kesejahteraan orang lain. “Sejak lahir kita telah memiliki pengalaman dan kesadaran. Karena itu, memahami bagaimana pikiran bekerja menjadi kunci memahami kehidupan,” tuturnya.[Bhagavant, 26/10/25, Sum]
