Korea Selatan

Tiga Bhiksu Korea Meminta Izin Masuk Khusus ke Myanmar

Bhagavant.com,
Seoul, Korea Selatan – Peduli kepada warga Myanmar, tiga orang bhiksu Korea Selatan mengajukan izin masuk khusus ke Myanmar kepada Kedutaan Besar Myanmar untuk Korea.

Tiga Bhiksu Korea Meminta Izin Masuk Khusus ke Myanmar
Anggota Komite Urusan Sosial dan Perburuhan dari sangha tradisi Jogye memberikan penghormatan tiga jari selama konferensi pers yang diadakan di depan Kedutaan Besar Myanmar untuk Korea di Yongsan, Seoul, pada hari Kamis. (Song Seung-hyun / The Korea Herald)

Y.M. Jimong, ketua Komite Urusan Sosial dan Perburuhan dari sangha tradisi Jogye, tradisi Buddhis terbesar di Korea Selatan, berjalan ke Kedutaan Myanmar untuk Korea di Yongsan, Seoul, Kamis (1/4/2021) dini hari, memegang amplop besar yang bertuliskan “Request for Assistance with Obtaining a Special Entry Permit to Myanmar” (Permintaan Bantuan untuk Memperoleh Izin Masuk Khusus ke Myanmar.)

Komite tersebut menjelaskan bahwa amplop berisi dokumen yang meminta Kedutaan Besar Myanmar di Korea mengeluarkan izin masuk khusus untuk tiga bhiksu Korea yaitu Y.M. Jimong, Y.M. Hyedo dan Y.M. Jongsu.

Komite di bawah Sangha Jogye tersebut menjelaskan bahwa setelah diskusi mendalam, telah memutuskan untuk mengirim para bhiksu ke Myanmar dan mengadakan puja di Stupa Shwedagon di Yangon, situs paling suci di negara itu, serta lokasi konflik untuk menghentikan kekerasan dan pembunuhan yang terjadi setelah kudeta militer pada 1 Februari 2021.

“Duta besar tidak ada di sana karena jadwal lain. Saya menyerahkan dokumen tersebut kepada sekretarisnya,” kata Y.M. Jimong setelah keluar dari gedung kedutaan sekitar lima menit kemudian, seperti yang dilansir The Korea Herald, Kamis (1/4/2021). “Sekretarisnya bilang ini kasus khusus, jadi mungkin berbeda, tapi prosesnya biasanya memakan waktu sekitar satu bulan.”

Sebelum memasuki kedutaan, anggota komite tersebut mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan pemikiran mereka tentang apa yang terjadi di Myanmar.

Konferensi dimulai dengan anggota komite memberikan penghormatan tiga jari, yang melambangkan perlawanan terhadap kudeta militer di Myanmar.

“Ketika kami memikirkan warga Myanmar yang menderita kesedihan, kemarahan, dan isolasi yang ekstrem, kami merasa malu dan bersalah sebagai seorang praktisi,” kata Y.M. Jimong. “Kami ingin berpuja dengan sungguh-sungguh dengan harapan senjata di tangan tentara akan berubah menjadi bunga teratai.”

Selain itu, ia menyatakan penyesalan tentang peran terbatas yang dimainkan Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai organisasi sipil internasional dan mendesak para bhikkhu di Myanmar untuk keluar dan mengajarkan kepada para tentara tentang kesalahan mereka.

Y.M. Jimong juga meminta pengertian pemerintah Korea Selatan dan masyarakat atas keputusan mereka.

“Kami memahami posisi dan perhatian pemerintah, karena mereka harus mempertimbangkan keselamatan masyarakat,” kata Y.M. Jimong. “Meskipun demikian, kami tidak dapat mengesampingkan sebagai praktisi Buddhis ketika orang-orang di Myanmar menderita. Kami berharap orang-orang dapat memahami ini.”

Selama konferensi, Hay Man, salah satu dari tiga pemimpin dari Aksi Pemuda untuk Myanmar, sebuah kelompok yang dibentuk di Korea oleh mahasiswa dari Myanmar untuk memberi tahu orang-orang tentang apa yang terjadi di negara mereka, juga menunjukkan dukungan atas keputusan para bhiksu tersebut.

“Kami berharap puja para bhiksu dapat membawa perdamaian ke Myanmar,” kata pemimpin pemuda itu.[Bhagavant, 1/4/21, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN