Arkeologi » India

Situs Sri Buddha Membabarkan Dhamma Pertama Kali Direncanakan Masuk Warisan Dunia UNESCO

Rabu, 25 Desember 2019

Bhagavant.com,
Uttar Pradesh, India – Pemerintah India berencana mengajukan dan memasukkan situs tempat Sri Buddha membabarkan Dhamma untuk pertama kalinya di Sarnath (Benares) sebagai Warian Dunia UNESCO.

Situs Sri Buddha Membabarkan Dhamma Pertama Kali Direncanakan Masuk Warisan Dunia UNESCO
Stupa Dhamek di Sarnath, India. Foto: YouTube

Hal itu terungkap setelah Lembaga Survei Arkeologi India (ASI) baru-baru ini mengajukan proposal terperinci mengenai hal tersebut kepada Kementerian Kebudayaan India.

Seperti yang dikutip dari India Times, arkeolog pengawas, ASI (cabang Varanasi), Neeraj Kumar Sinha mengatakan: “Ini adalah upaya pertama untuk membuat Sarnath mendapat tempat dalam daftar permanen. Kita bisa mendaftar karena Sarnath berhasil masuk ke daftar tentatif pada 2003.”

Jika terdaftar, Sarnath akan menjadi monumen keempat dari Uttar Pradesh untuk mendapatkan titel tersebut. Taj Mahal, Fatehpur Sikri, dan Benteng Agra di Agra sudah termasuk dalam daftar UNESCO. Dari 1.121 monumen di seluruh dunia yang berhasil masuk ke daftar UNESCO, 38 berasal dari India.

India berada di peringkat keenam dalam hal jumlah monumen dalam daftar warisan dunia. Menurut sejumlah sumber, Perdana Menteri Narendra Modi tertarik dengan inisiatif ini. “Sarnath adalah kasus yang sesuai untuk titel UNESCO. Sarnath adalah warisan nyata dengan sejumlah fitur unik untuk membentuk kasus yang kuat (untuk diajukan – red), ”kata Sinha.

Sekitar delapan kilometer dari kota Varanasi, Sarnath merupakan tempat Sri Buddha membabarkan ajaran pertamanya, Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma).

Hari ini, Sarnath merupakan rumah bagi situs arkeologi besar yang mencakup Stupa Dhamekh yang mengesankan, yang merupakan situs peringatan pembabaran Dhamma pertama kalinya oleh Sri Buddha, beberapa vihara modern yang mewakili tradisi Buddhis dari seluruh dunia, dan Museum Sarnath, menampung ribuan umat Buddhis dan umat agama lainnya serta tempat benda-benda antik budaya dari daerah tersebut.

Menurut para pakar, nilai universal yang menonjol adalah kriteria paling penting untuk masuk ke daftar UNESCO.

“Dalam hal ini, Sarnath memiliki keunggulan alami. Sarnath adalah tempat kelahiran Agama Buddha. Sarnath berbagi ikatan agama, sejarah dan emosional dengan masyarakat di Thailand, Myanmar, Tiongkok, Jepang, Korea, Sri Lanka dan Bhutan,” kata Sinha.

Kriteria penting lainnya adalah nilai pentingnya dan keunikan struktur sebuah monumen. Pada hal ini, ASI telah menyampaikan dokumen yang rumit untuk menyoroti pentingnya tujuh bangunan dalam monumen tersebut.

Daftar situs yang akan dicantumkan dimulai dengan ‘Stupa Dhamek’, tempat di mana Sang Buddha menyampaikan khotbah pertamanya. Stupa ini dibangun untuk mengenang peristiwa besar itu dan sebagai pengingat bahwa pesan Buddha harus disebarkan untuk kebaikan masyarakat yang lebih besar.

Bangunan kedua adalah ‘Stupa Dharmarajika’ yang menandai pembentukan ‘Dhamma’ dan ‘Sangha’. Ini berkaitan dengan episode-episode di mana 60 orang siswa Sri Buddha diminta untuk pergi ke berbagai penjuru dunia dan menyebarkan Dhamma.

Dan bangunan ketiga adalah Mula Gandha Kuti atau kamar atau ruangan harum tempat Sri Buddha tinggal.

Menurut para sarjana, banyak tempat yang dikunjungi oleh Sri Buddha memiliki ‘gandha kuti’ tetapi yang ada di Sarnath adalah ‘gandha kuti’ yang paling awal.

Gandha Kuti yang sering disebut sebagai kamar harum, menurut salah satu versi kisah yang disampaikan Fa-hsien, bhiksu asal Tiongkok (337 – c. 422), bermula dari Raja Prasenajit (Pasenadi). Suatu saat, ketika Sri Buddha melakukan perjalanan ke Surga Tavatimsa, Raja Prasenajit meminta izin-Nya untuk membuat rupaka di Sravasti yang disetujui Buddha. Prasenajit mendapat rupaka cendana menyerupai wujud Buddha yang menyebarkan harum secara alami.

Kemudian, di mana pun tempat tinggal Sri Buddha disebut ‘gandha kuti’ bahkan jika Ia tinggal di sana dalam waktu singkat. Sementara yang di Sarnath disebut ‘mula gandha kuti’ karena Sri Buddha benar-benar tinggal menetap di sana.

Tujuh vihara di sekitar stupa Dhamek menandakan bahwa para bhikkhu diajarkan dan dilatih di Sarnath.

Kehadiran pilar Ashoka dengan empat singa dan Dhamma Chakra di Sarnath adalah bangunan kelima yang sedang disorot.[Bhagavant, 25/12/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: