Tak Berkategori

Deklarasi Dharamsala: Rakyat Tibet Tolak Politisasi Kandidat Dalai Lama

Senin, 2 Desember 2019

Bhagavant.com,
Dharamsala, India – Rakyat Tibet menolak politisasi oleh Tiongkok atas penentuan kandidat Dalai Lama di masa depan, dan Dalai Lama memiliki otoritas penuh atas kelahiran kembali dirinya.

14th Tibetan Religious Conference, Dharamsala, India, Rabu (27/11/2019). Foto: Youtube

Hal itu dinyatakan dalam Deklarasi Dharamsala saat Konferensi Keagamaan Rakyat Tibet Ke-14 (14th Tibetan Religious Conference) 2019 yang diselenggarakan pada Rabu (27/11/2019) di gedung-T di Gangkyi tempat kedudukan Pemerintahan Tibet Pusat (CTA) berada.

Konferensi selama tiga hari tersebut dihadiri oleh sekitar 120 viharawan dan viharawati serta kepala dan perwakilan tradisi yang berbeda dalam tradisi Agama Buddha Tibet, termasuk Rinpoche Sakya Trizin, Rinpoche Gaden Tri , Rinpoche Drikung Kyabgon Chetsang, Rinpoche Kyabje Menri Trizin , Rinpoche Taklung Matrul (mewakili Rinpoche Taklung Shabdrung), Rinpoche Namdroling Tulku Choedhar, Khenpo Ngedhon Tenzin (mewakili Gyalwang Drukchen), dan Rinpoche Jonang Gyaltsab. Para perwakilan dan lama dari tempat lain di wilayah Himalaya, para rinpoche dari institut-institut Buddhis utama di pengasingan juga hadir. Demikian pula para kepala dan perwakilan dari vihara-vihara wanita utama Tibet.

Diselenggarakan oleh Departemen Agama dan Kebudayaan CTA, konferensi tersebut mengangkat isu-isu utama termasuk masalah silsilah Dalai Lama yang semakin diperdebatkan.

Menurut CTA, hubungan antara para Dalai Lama dan rakyat Tibet sama dengan hubungan antara kepala dan leher, atau, seolah-olah, antara tubuh dan bayangannya, dan oleh karena itu tidak pernah dapat dipisahkan. Oleh sebab itu diharapkan bahwa tradisi keberlanjutan silsilah Dalai Lama melalui kelahiran kembali yang berturut-turut berdasarkan tradisi Agama Buddha Tibet harus tetap ada untuk kepentingan rakyat Tibet.

Dengan demikian, melalui konferensi ini, para kepala dan perwakilan keagamaan rakyat Tibet melihatnya sebagai keharusan untuk mengadopsi resolusi khusus berikut:

Deklarasi Dharamsala – Resolusi:

1. Ikatan Karma antara para Dalai Lama dan rakyat Tibet tidak dapat dipisahkan dan status rakyat Tibet sekarang sangat kritis, semua rakyat Tibet benar-benar berharap untuk keberlanjutan Lembaga dan Kelahiran Kembali Dalai Lama di masa depan. Karena itu kami sangat memohon kepada Yang Mulia Dalai Lama XIV untuk hal yang sama.

2. Otoritas keputusan mengenai jalan dan cara kelahiran kembali Dalai Lama XIV berikutnya harus muncul hanya berdasarkan pada Yang Mulia Dalai Lama XIV itu sendiri. Tidak ada pemerintah atau yang lainnya yang akan memiliki otoritas seperti itu. Jika Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok untuk tujuan politik memilih seorang kandidat untuk Dalai Lama, rakyat Tibet tidak akan mengakui dan menghormati kandidat itu.

3. Mengenai metode mengenali kelahiran kembali Dalai Lama di masa depan, metode tradisional Tibet yang unik yang sama, yang terus digunakan hingga sekarang, akan diikuti. Metode ini sesuai dengan filosofi dan prinsip dasar Buddha Dharma dan berasal dari Tibet lebih dari 800 tahun yang lalu.

Y.M. Dalai Lama Ke-14. Foto: Youtube

Legitimasi

Dengan deklarasi ini CTA berharap dapat menutup politisasi kelahiran kembali Dalai Lama khususnya oleh Tiongkok.

“Ini adalah sebuah masalah kredibilitas, legitimasi. Tiongkok bisa menunjuk seseorang. Tetapi orang yang ditunjuk akan memiliki kredibilitas nol. Palsu akan selalu palsu,” kata Presiden Pemerintah Tibet dalam Pengasingan, Dr. Lobsang Sangay, seperti yang dilansir Japan Times, Kamis (28/11/2019).

Bulan Oktober lalu, umat Buddhis Tibet dari seluruh dunia berkumpul di Dharamsala dan mengeluarkan resolusi pada Pertemuan Umum Khusus ke-3 yang mencari keberlanjutan dari tradisi kelahiran kembali dan memberikan hak Dalai Lama untuk memilih penerusnya sendiri.

“Sekarang terserah Yang Mulia untuk memutuskan kapan, di mana dan apa pun,” kata Dr. Lobsang Sangay.

Y.M. Dalai Lama sendiri penah mengatakan akan menentukan penerusnya saat beliau berusia 90 tahun.

Pertemuan umum khusus diadakan hanya ketika dibutuhkan. Pertemuan semacam itu pertama kali diadakan pada 2008 setelah penindasan Tiongkok atas pemberontakan di Tibet. Yang kedua diadakan pada tahun 2012 untuk mencegah para pengikut Dalai Lama melakukan tindakan membakar diri sendiri.

Sedang yang ketiga, diadakan bulan Oktober lalu, difokuskan pada upaya menentang Tiongkok yang berusaha membajak Agama Buddha tradisi Tibet dengan mengganggu proses suksesi Dalai Lama Ke-14.[Bhagavant, 2/12/19, Sum]

Kata kunci:
Penulis: