Kanada » Sosial

Natal, Buddhis di Kanada Ikut Bagikan Semangat Berbagi

Jumat, 23 Desember 2016

Bhagavant.com,
Pulau Pangeran Edward, Kanada – Buddhis atau Umat Buddha tidak merayakan Hari Natal, namun tidak serta-merta menjadi antipati terhadap pernak-pernik Natal apalagi antipati terhadap semangat berbagi yang ada di dalam hari raya umat Kristiani tersebut.

Y.M. Bhiksu Xing-Xun (kanan) mengamati empat viharawan yang bekerja keras membuat rumah-rumah kue jahe khusus untuk warga senior sebagai hadiah pada jamuan Natal di Great Enlightenment Buddhist Institute Society, pada Sabtu (17/12/2016) di Murray Harbour.
Y.M. Bhiksu Xing-Xun (kanan) mengamati empat viharawan yang bekerja keras membuat rumah-rumah kue jahe khusus untuk warga senior sebagai hadiah pada jamuan Natal di Great Enlightenment Buddhist Institute Society, pada Sabtu (17/12/2016) di Murray Harbour. Foto: theguardian.pe.ca

Hal tersebut ditunjukkan oleh para viharawan dari organisasi Great Enlightenment Buddhist Institute Society (GEBIS) dan viharawati dari Great Wisdom Buddhist Institute (GWBI) di Pulau Pangeran Edward (PPE), Kanada, yang keduanya berencana ikut membagikan semangat berbagi sebagai cara mereka berterima kasih kepada masyarakat atas kedermawanan mereka.

Para viharawan GEBIS telah menetap di pulau tersebut selama tujuh tahun terakhir sementara para viharawati GWBI telah menetap di sana selama empat tahun terakhir.

Meskipun tidak merayakan Natal, mereka melakukan persembahan cahaya sebagai simbol kebijaksanaan. Mereka melakukan persembahan lilin dan memasang lampu-lampu di pohon-pohon, yang diperuntukkan bagi semua makhluk agar mereka mencapai kebijaksanaan dan menyingkirkan kegelapan. Mereka juga melakukan banyak kebajikan selama masa Natal.

“Kami sangat menghargai apa yang para warga pulau lakukan untuk kami sehingga kami ingin membalas kembali para warga, dan satu peristiwa khusus yang kami lakukan tahun ini adalah memberikan hidangan Natal,” kata Y.M. Bhiksu Xing-Xun kepada The Guardian, Sabtu (17/12/2016) melalui seorang penerjemah di vihara di Little Sands.

Hidangan Natal tersebut telah dibagikan kepada para warga senior di Pelabuhan Murray, pada Sabtu pekan lalu.

Saat kunjungan The Guardian ke vihara tersebut, empat viharawan bekerja keras membuat rumah-rumah roti jahe untuk diberikan sebagai hadiah saat perjamuan makan. Ini bukanlah rumah roti jahe yang biasa. Membutuhkan hampir empat jam selama lima hari untuk masing-masing viharawan menyelesaikan roti jahe berbentuk rumah-rumahan tersebut, dan dibuat dari bahan-bahan lokal.

Para viharawan juga menyambut para warga pulau ke kediaman mereka di Little Sands pada malam Tahun Baru dari pukul 14.30 hingga 15.30 untuk datang ke aula puja bakti mereka, membunyikan bel dan melakukan puja untuk mendapatkan berkah di Tahun Baru.

Para viharawati telah memasang pohon Natal di luar vihara mereka di Uigg, dihiasi dengan lampu yang berwarna-warni.

Y.M. Bhiksuni Sabrina mengatakan para biarawati menikmati semangat dan kesukacitaan perayaan tahun ini di PPE.

“Kami ingin berbaur dengan warga pulau dan juga semacam membalas kembali tetangga kami,” kata Y.M. Sabrina. “Kami sudah menggantung beberapa lampu Natal. Itu benar-benar indah. Kami memiliki pohon yang sangat besar di luar dan kemudian kami menaruh lampu-lampu di atasnya dan kami sudah membagikan suguhan kepada tetangga kami dan teman-teman kami, ini karena kami sangat menyukai bagian dari Natal berupa memberikan hadiah.”

Para viharawan dan viharawati akan mengikuti jadwal rutin dan harian yang sama pada Hari Natal seperti hari lainnya di sepanjang tahun. Puja bakti pagi dan sore didedikasikan untuk kedamaian dan kebahagiaan semua orang.

Berbicara mengenai kelahiran Yesus dan maknanya, Y.M Bhiksuni Yvonne mengatakan bahwa dengan memiliki keberadaan Yesus di dunia ini akan membawa pengaruh positif bagi orang-orang.

“Kami ingin (jadi hal yang sama), membuat perubahan positif dan pengaruh yang berbeda untuk dunia. Saya pribadi ingin melakukan itu,” katanya.

Y.M. Bhiksuni Yvonne mengatakan bahwa harapannya dapat melakukan apa pun yang bisa ia lakukan untuk membuat orang tuanya dan semua orang di sekelilingnya bahagia.

“Setelah saya sarapan (pada Hari Natal) saya berharap bahwa apa pun yang saya lakukan. . . saya dapat mengirimkan harapan terbaik kepada masyarakat (PPE),” harapnya.

Mengambil bagian yang ada dalam perayaan agama lain seperti Natal, tidak serta-merta membuat umat Buddha kehilangan keyakinannya kepada ajaran Buddha. Tetapi dengan memandang bahwa adanya nilai-nilai positif yang sesuai dengan ajaran Buddha pada perayaan keagamaan agama lain, umat Buddha dapat mengambil bagian itu sebagai praktik pengembangan batinnya.

“Ini mungkin hanya seperti hari lain bagi saya tapi kelahiran (Yesus), menginspirasi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik bagi dunia. Ini juga praktik yang baik bagi kita,” kata Y.M. Bhiksuni Yvonne.[Bhagavant, 23/12/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: