Asia Timur » Pilihan » Tiongkok

Mantan Aktris Hong Kong Bongkar Bhiksu Palsu di Jalan

Sabtu, 26 Maret 2016

Bhagavant.com,
Hong Kong, Tiongkok – Aksi seorang bhiksu palsu yang mengemis di sebuah jalan di Hong Kong, Tiongkok, dibongkar oleh seorang mantan aktris yang kini menjadi seorang pengacara.

Seorang pria berpakaian bhiksu palsu menunjukkan sebuah sertifikat kepada Mary Jean Reimer (Yung Jing-Jing).
Seorang pria berpakaian bhiksu menunjukkan sebuah sertifikat kepada Mary Jean Reimer (Yung Jing-Jing). Foto: video Youtube

Sebuah video mengenai Mary Jean Reimer (51) atau juga dikenal benama Yung Jing-Jing (Mandarin: Wēng Jìngjīng – 翁靜晶), seorang mantan aktris Hong Kong yang menghadapi seorang pria berjubah bhiksu yang sedang meminta-minta di sebuah jalan di luar stasiun MTR Tai Po, menjadi bahan pembicaraan khususnya oleh netizen Hong Kong.

Di awal video yang juga diunggah di Youtube pada Selasa (15/3/2016) oleh akun 金濤博藏 (Jīntāo bó cáng), sebuah akun dari museum folklor dan kepustakaan, nampak seorang pria berbahasa Mandarin dan berjubah bhiksu ditanya oleh seorang pria mengenai vihara tempat ia berasal. Kemudian Yung Jing-Jing yang berada di sana mendekati pria berjubah itu dan bertanya sedang apa ia di sini. Pria berjubah bhiksu itu menjawab bahwa ia sedang mencari sumbangan.

Pria berjubah bhiksu berkilah bahwa dirinya adalah memang seorang bhiksu saat Yung menandaskan bahwa pria itu bukan seorang bhiksu. Ketika ditanya dari vihara mana ia berasal, pria itu mengeluarkan sebuah buku sertifikat berwarna merah dan menyatakan dirinya dari Vihara Shaolin di Henan, Tiongkok Daratan.

Tapi Yung tidak cepat percaya begitu saja, ia membuka dan membaca sertifikat itu. Ia kemudian memberitahukan kepada pria itu apa yang ia baca dalam sertifikat yang menyatakan bahwa pria itu hanyalah seorang Wu Jie Ju Shi (Wǔjiè jūshì – 五戒居士) – umat awam yang mempraktikkan Pancasila Buddhis, bukan seorang bhiksu, bahkan sertifikat tersebut juga tidak asli.

“Saya juga seorang Wu Jie Ju Shi,” kata Yung. “Anda bukan seorang bhiksu. Anda palsu.”

Pria itu tetap berkilah dan kembali mengklaim dirinya sebagai bhiksu sarjana meskipun bukan bhiksu kung-fu. Tapi saat Yung menanyakan apakah pria itu bisa melafalkan mantra dan memintanya untuk melafalkan Maha Karuna Dharani (Dàbēi Zhòu), pria itu mengatakan bahwa ia tidak mengetahui mantra apapun.

“Tolong jangan berakting seperti ini. Apa yang Anda lakukan menyebabkan dampak buruk terhadap citra Agama Buddha. Semoga Anda memahaminya,” kata Yung yang pernah berperan sebagai Xiaolongnü di film Little Dragon Maiden (Yáng Guò Yǔ Xiǎo Lóng Nǚ – Gadis Naga Kecil) tahun 1983.

“Lihat Anda. Mudah untuk mengenali Anda palsu dengan pengamatan yang sederhana,” jelas Yung. “Anda bahkan tidak bisa melafalkan sebuah mantra. Bagaimana mungkin Anda seorang Bhiksu?” ujar Yung saat pria itu kembali berkilah.

Dalam video tersebut Yung mengatakan bahwa pria itu melanggar hukum Hong Kong dengan mencoba mencari uang di kota tersebut dengan menggunakan visa turis.

“Agama Buddha Tiongkok kami tidak meminta sumbangan seperti ini,” jelas Yung.

“Kami melakukan ini di Tiongkok Daratan,” bantah pria itu.

“Kalau begitu silahkan Anda kembali ke Tiongkok Daratan. Hal ini tidak diperbolehkan di Hong Kong,” jawab Yung.

Di penghujung video berdurasi 5 menit 10 detik tersebut, Yung mengatakan bahwa dirinya seorang Buddhis dan melihat pria itu berpakaian seperti bhiksu, ia tidak mempercayainya apalagi pria itu tidak bisa melafalkan mantra apapun. Dan pria itu mengatakan ia tidak ingin berbicara dengannya lagi dan kemudian pergi dari tempatnya mengemis.

Yung Jing-Jing yang aktif di organisasi Buddhis sekaligus ketua pengelola Vihara Ting Wai di Tai Po juga menarik perhatian warga Hong Kong pada Oktober tahun lalu, setelah ia membongkar skandal penipuan dan penggelapan uang yang melibatkan bhiksuni kepala viharanya itu.

Seperti yang dilansir South China Morning Post, Jumat (18/3/2016), Martin Cheung Ngai-ping, ketua eksekutif Asosiasi Buddhis Hong Kong mengatakan, bhiksu yang asli di Hong Kong tidak akan berkeliaran di jalanan untuk mengumpulkan uang karena mereka telah didukung oleh vihara-vihara yang memiliki kaitan dengan mereka.

Cheung mengatakan para bhiksu yang dicurigai tersebut mulai muncul di kota itu lebih dari satu dekade yang lalu dan karena itu asosiasi tersebut telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk memberikan materi pendidikan kepada masyarakat untuk lebih mengenali para bhiksu yang resmi.

Ia menambahkan bahwa jika warga melihat para biksu meminta uang secara acak, mereka tidak harus memberi mereka uang dan bisa melaporkannya ke polisi. Ia mengatakan penanganan yang dilakukan Yung Jing-Jing untuk yang diduga bhiksu palsu itu sudah benar.

Fenomena bhiksu palsu yang berdampak buruk bagi citra Agama Buddha muncul di berbagai daerah dan negara termasuk di Hong Kong. Sejumlah netizen Buddhis Hong Kong yang prihatin akan hal ini pun akhirnya membentuk sebuah grup yang berupaya membongkar kedok para bhiksu palsu.

Salah satunya adalah grup di laman Facebook Buddhist Alert International (佛門警訊) yang bertujuan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan keberadaan bhiksu-bhiksu palsu di sekitar mereka. Para anggota yang tergabung dalam grup tersebut mengunggah foto-foto para bhiksu palsu yang mereka temukan berkeliaran di jalan-jalan.

Sepertinya aksi berani mengungkap bhiksu palsu ini perlu ditiru oleh umat Buddhis lainnya mengingat maraknya bhiksu/bhikkhu palsu yang kian marak. Pembelajaran untuk mengenali bhiksu palsu atau asli perlu ditanamkan tidak hanya kepada kalangan umat Buddha awam tetapi juga non-Buddhis agar mereka tidak tertipu oleh aksi-aksi bhiksu gadungan tersebut.[Bhagavant, 26/3/16, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis: