Kesenian » Thailand » Tokoh

Di Balik Indahnya 34 Lukisan Digital Kisah Hidup Buddha (Bagian 2)

Bhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Dicetaknya 34 lukisan digital kehidupan Sri Buddha karya Krishna Suriyagarn ke dalam buku Pathomsomphothikatha, membuat gambar-gambar tersebut tersebar luas ke seluruh dunia termasuk di internet.

Banyak orang mengagumi keindahan karya seniman muda asal Thailand tersebut. Tapi, tidak banyak orang yang mengetahui namanya, latar belakang dan referensi utama dalam menciptakan karyanya tersebut.

Setelah melakukan penelusuran, akhirnya Bhagavant.com berhasil menghubungi Krishna Suriyagarn dan melakukan wawancara sederhana dengannya. Berikut wawancara singkat Sumita dari Bhagavant.com (B) dengan Krishna Suriyagarn (KS) melalui surat elektronik (e-mail) kedua, Selasa (29/4/2014).

Krishna Suriyagarn (กฤษณะ สุริยกานต์ ), dari Thailand, seniman pencipta 34 Lukisan Digital Kehidupan Buddha. Foto: © thebuddhaartgallery.com
Krishna Suriyagarn (กฤษณะ สุริยกานต์ ), dari Thailand, seniman pencipta 34 Lukisan Digital Kehidupan Buddha. Foto: © thebuddhaartgallery.com

B:
Referensi atau buku sejarah Buddha apa yang Anda gunakan untuk membayangkan dan menciptakan 34 gambar seni digital?

KS:
Referensi utamanya adalah dari buku Pathomsomphothikatha (Pali: Paṭhama Sambodhi Kathā; Thailand: ปฐมสมโพธิกถา), kisah Buddha dari buku verbalnya dan situs web internet Buddhisme.

B:
Dari 34 gambar Lukisan Kisah Buddha yang Anda ciptakan, mana satu yang paling berkesan bagi Anda? Dan mengapa?

KS:
Gambar “Turun ke Bumi” (Coming down to the Earth) nomor 32 dari daftar pada www.thebuddhart.com adalah salah satu favorit saya. Gambar ini mendidik umat Buddhis untuk belajar bahwa alam semesta terdiri dari tiga dunia: surga, bumi dan dunia bawah. Manusia tidak lahir dan mati hanya dalam satu generasi. Kita pasti lahir dan mati berkali-kali sesuai dengan Kamma individu. Seseorang yang ingin dilahirkan di tempat yang lebih baik, harus hanya berperilaku baik saja.

B:
Apa yang Anda dapatkan mengetahui bahwa karya seni Anda (Lukisan Digital Kisah Buddha) menyebar ke seluruh dunia?

KS:
Saya telah belajar bahwa karya saya tersebar di seluruh dunia karena:
Ada dua bhikkhu dari negara Bhutan yang datang ke rumah saya di Sing Buri. Pemimpin bhikkhu tersebut mengatakan bahwa ia melihat gambar saya di Amerika Serikat dan mengapresiasinya. Kemudian ia terus mencari senimannya di India selama 2 tahun dan gagal. Pada tahun 2012, bhikkhu tersebut sakit dan datang berobat ke Thailand. Beruntungnya seorang pria awam Thailand membawanya untuk mengunjungi Vihara Phra Non Chakkrasi di Sing Buri yang dekat dengan tempat saya. Persis, ia melihat 30 gambar saya yang menghiasi vihara tersebut dan bertanya kepada seorang bhikkhu mengenai saya sehingga kami bertemu satu sama lain.

Ada seorang umat awam pria Thailand yang bekerja di Amerika Serikat menelepon saya untuk meminta izin menggunakan gambar-gambar saya untuk menampilkannya di situs webnya

Lukisan digital karya Krishna Suriyagarn "Turun ke Bumi" (Coming Down to the Earth). Kisah Sri Buddha saat turun ke bumi setelah mengunjungi Surga Tavatimsa. Gambar: Krishna Suriyagarn
Lukisan digital karya Krishna Suriyagarn: “Turun ke Bumi” (Coming Down to the Earth). Kisah Sri Buddha saat turun ke bumi setelah mengunjungi Surga Tavatimsa. Gambar: Krishna Suriyagarn

Pada tahun 2012, sekelompok bhikkhu dari Bangkok membeli 3 gambar dari saya. Mereka bertujuan untuk menyimpan gambar-gambar tersebut di vihara-vihara Thailand di Amerika Serikat.

Pada tahun 2012, seorang pedagang Thailand membeli 34 gambar untuk menghias di sebuah vihara di Taiwan.

Pada tahun 2011, sekelompok bhikkhu Vietnam dan umat awam pria datang menemui saya di Thammasapa Buddha Art Gallery di Bangkok dan membeli 2 set 68 gambar (dan) membawa kembali ke Vietnam.

Pada tahun 2012, teman ayah saya membeli 3 gambar dari saya dan membawa mereka ke Sri Lanka yang akan ditampilkan dalam sebuah vihara. Di sana, satu gambar dihadiahkan kepada Presiden Sri Lanka. Ketika ia kembali (ke Thailand), ia membawa sebuah poster kalender yang mencetak gambar saya, untuk saya. Ia mengatakan, banyak toko-toko di Sri Lanka yang mencetak gambar saya di poster-poster kalender.

Banyak webmaster menggunakan gambar saya untuk tujuan mereka tanpa izin bahkan sampai di Tiongkok.

Beberapa orang India menelepon saya untuk membeli gambar tapi gagal .

B:
Sampai sekarang, apakah ada pengakuan atau apresiasi dari organisasi mana pun untuk Lukisan Kisah Buddha anda? Jika ada, dapatkah anda menyebutkannya?

KS:
Ya, ada.
Yang pertama adalah Thammasapa, sebuah tempat percetakan yang merupakan sebuah perusahaan swasta di Bangkok. Pemiliknya yang bernama Bapak Vichawut dan Bapak Suttirak datang ke rumah saya dan mengagumi saya pada apa yang telah saya lakukan. Kemudian, mereka sepakat untuk mencetak 34 gambar saya di buku Pathomsomphothikatha. Sekarang lebih dari 10.000 eksemplar terjual. Tahun lalu pada 2 Desember 2013, Galeri Seni Buddha (Buddha Art Gallery – หอศิลป์พุทธะ) dengan banguan dua lantai dibuka di Bangkok untuk masyarakat Thailand dan dunia. 22 gambar saya berukuran besar dicetak pada kanvas menghiasi galeri tersebut. Para pemiliknya menginvestasikan lebih dari 27 juta Baht atau 900.000 USD untuk semua konstruksi.

Kedua, dua bulan terakhir, stasiun televise pemerintah (NBT) mengirimkan tim untuk mewawancarai saya dengan dua orang juru kamera video. Kemudian video tersebut disajikan pada program TV Dhammarasa Dhammarata (Thailand: ธรรมรส ธรรมรัฐ).

Ketiga, pekan lalu, tim saya dari Thammasapa di Bangkok mengumpulkan karya seni saya yang akan ditampilkan dalam sebuah kontes seni nasional yang hasilnya dapat dilihat pada September mendatang.

Keempat, ada beberapa bhikkhu suci dan terkenal di Thailand datang ke rumah saya atau menelepon saya untuk memberikan kata-kata simpatik dan mendorong saya untuk terus melakukan pekerjaan tanpa memperhatikan seseorang yang mengganggu saya .

B:
Dari situs web Anda, Anda mengatakan gambar-gambar tersebut ditampilkan di 14 vihara, dapatkah Anda menyebutkan 3 nama vihara dengan lokasi mereka?

KS:
Saya berikan Anda 4 tempat: Vihara Phra Non Chakkrasi di Sing Buri; Vihara Phikun Thong di Sing Buri; Cetiya Boddhisatva Guanyin di Bukit Kho Hong, Hat Yai, Songkhla, dan Vihara Wang Wimok (Pa Kho Wang) di Nan.

B:
Pernahkah Anda menciptakan seni digital religius lainnya atau karya digital non-religius sebelum dan sesudah 34 Lukisan Kisah Buddha?

KS:
Ya, sebelum menciptakan gambar Sri Buddha, saya pernah melukis Airbrush banyak potret dengan pewarna akrilik pada kertas poster dan dinding bangunan. Produk saya adalah foto-foto raja-raja, ratu, putri Thailand, para bhikkhu terkenal dan keluarga klien. Semenjak saya suka melukis sejarah Sri Buddha; Saya telah berhenti melukis lainnya.

Beberapa produk di "Horsilp Putta” (หอศิลป์พุทธะ - Buddha Art Gallery – Galeri Seni Buddha). Foto: thebuddhaartgallery.com
Beberapa produk di “Horsilp Putta” (หอศิลป์พุทธะ – Buddha Art Gallery – Galeri Seni Buddha). Foto: thebuddhaartgallery.com

B:
Mungkin pertanyaan yang sedikit sulit. Beberapa orang mengatakan bahwa seni dan agama tidak bisa akur karena seni kadang-kadang dapat melanggar nilai-nilai agama. Sebagai seorang seniman dan juga seorang Buddhis, apa pikiran dan pendapat Anda mengenai hal itu?

KS:
Seni dapat melanggar nilai-nilai agama atau tidak itu tergantung pada berbagai hal. Yang pertama, saya pikir ide-ide utama seniman adalah untuk menciptakan gambar-gambar yang indah yang berhubungan dengan dewa atau dewi. Mereka harus memulai dengan mengumpulkan data yang bersangkutan sebanyak yang mereka bisa dalam rangka melukis gambar-gambar secara dekat dengan bukti-bukti yang nyata. Gambar-gambar tersebut digunakan untuk menggoda orang-orang yang nampaknya hidup jauh dari mempercayai agama apa pun untuk tinggal lebih dekat. Beberapa seniman memenangkannya dan beberapa tidak. Orang yang menang akan segera menjadi terkenal dan karena itu gambar-gambarnya mahal. Kejadian ini dapat dilihat di Thailand. Seperti yang Anda ketahui saat ini orang-orang muda berperilaku lebih agresif karena globalisasi. Semakin materialisme dikembangkan penderitaan lebih meningkat. Gambar-gambar seni merupakan sebuah media yang dapat digunakan para bhikkhu dan umat Buddhis untuk membayangkan pekerjaan Sri Buddha secara lebih mudah. Secara keseluruhan, akan saya katakan, sangat sedikit seniman yang akan membuat kesengajaan untuk menurunkan nilai-nilai agama. Kecuali, mereka bukan seniman sejati.

B:
Apakah ada pesan atau saran dari Anda untuk kaum muda khususnya Buddhis yang ingin menciptakan karya religius seperti yang Anda lakukan?

KS:
Saya tidak pernah memberikan pesan apapun kepada kaum muda yang ingin berkarya dalam keagamaan, karena saya telah menjelaskan bahwa saya adalah seorang seniman baru. Tidak ada yang tahu saya kecuali teman-teman saya. Dan bahkan teman-teman saya, mereka tidak tahu bahwa saya melukis kisah Buddha. Namun, saran saya adalah bahwa siapa saja yang ingin membuat gambar-gambar mengenai keagamaan, mereka harus membangun sebuah perhatian yang kuat untuk mempelajari detai-detail utama religius, belajar bagaimana melukis gambar dengan perangkat photoshop dan berupaya keras untuk menghadapi pekerjaan tersebut.

B:
Apa rencana Anda di masa depan setelah Anda membuka “Horsilp Putta” (หอศิลป์พุทธะ – Buddha Art Gallery – Galeri Seni Buddha)?

KS:
Kami telah membentuk sebuah komite untuk mengelola “Horsilp Putta” (หอศิลป์พุทธะ) yang tersedia untuk menunjukkan pekerjaan Sang Buddha secara tetap dan berkesinambungan. Tiga tahun pertama kami menampilkan 22 gambar. Tahap kedua dari 3 tahun selanjutnya, gambar-gambar baru harus mengambil alih tempat dengan ide-ide yang berbeda, sebagai contoh: gambar-gambar 3 dimensi.

Wawancara dengan Krishna Suriyagarn diakhiri dengan beberapa konfirmasi atas informasi yang diberikan olehnya.

Untuk memesan lukisan digital kehidupan Buddha karya Krishna Suriyagarn dapat menghubungi: 66-02-081-9536129 (Anan) atau mengakses: www.thebuddhart.com atau www.thebuddhaartgallery.com.

Suatu karya seni yang indah seperti 34 lukisan digital kehidupan Buddha karya Krishna Suriyagarn dihasilkan dari sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan disertai dengan ketekunan. Untuk itu, meskipun tidak diminta, apresiasi atau penghargaan sekecil apa pun layak diberikan, seperti mencantumkan nama seniman di setiap karyanya yang kita gunakan.[Bhagavant, 8/5/14, Sum]


Kategori: Kesenian,Thailand,Tokoh
Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN BERITA INI: