Kamboja

Relik Buddhis Dicuri Dari Stupa Oudong Kamboja

Sabtu, 14 Desember 2013

Bhagavant.com,
Oudong, Kamboja – Relik yang dianggap sebagai relik Sang Buddha dan satu-satunya di Kamboja telah dicuri dari stupa di Oudong (Odong), bekas ibukota kerajaan Kamboja di provinsi Kandal, lokasi yang dikatakan di mana rambut, gigi dan tulang Sang Buddha ditempatkan pada tahun 2002, demikian kata pihak otoritas.

Enam penjaga di situs tersebut sedang diinterogasi atas pencurian itu, kata polisi.

Sok Oeun, kepala Departemen Kebudayaan dan Seni Halus provinsi Kandal mengatakan bahwa relik-relik yang tersimpan dalam sebuah guci emas di sebuah stupa di atas bukit setinggi 42 meter tersebut, telah dicuri pada Senin malam atau pada Selasa dini hari pagi (10/12/2013).

Stupa di Bukit Oudong dimana relik yang dianggap milik  Sang Buddha dicuri, pada Selasa pagi (10/12/2013)
Stupa di Bukit Oudong dimana relik yang dianggap milik Sang Buddha dicuri, pada Selasa pagi (10/12/2013). Foto: wikipedia.org

“Guci emas berisi relik Buddha telah hilang, dan pihak berwenang kami sedang menyelidiki kasus ini,” kata Oeun pada Kamis (12/12/2013)

Pada sekitar jam 2 pagi pada hari Selasa, Oeun terbangun karena panggilan telepon dari salah satu penjaga di Oudong, yang memberitahukannya bahwa seseorang telah merusak kunci dari stupa di mana relik-relik tersebut disimpan.

“Penjaga tersebut mengatakan bahwa kunci pintu telah terbuka, jadi seseorang telah merusaknya,” kata Oeun seperti yang dilansir The Cambodia Daily pada Jumat (13/12/2013)

“Saya hampir mengalami serangan jantung ketika saya mendengar berita ini,” katanya, menambahkan bahwa ia segera memberitahu gubernur provinsi, kepala polisi provinsi dan otoritas lainnya.

Ia mengatakan bahwa relik-relik tersebut adalah satu-satunya relik-relik Buddha yang dikenal di Kamboja, dan merupakan nilai budaya yang penting.

“Benda-benda ini merupakan semangat dari agama kami dan bangsa kami, dan mewakili kebudayaan bangsa kamu,” kata Oeun.

Phay Bunchhoeun, gubernur provinsi Kandal, telah mengonfirmasikan pencurian tesebut dan mengatakan bahwa enam dari sembilan penjaga situs tersebut saat ini sedang ditanyai.

“Polisi telah memanggil enam penjaga untuk diperiksa …. Jika mereka tidak terlibat dalam kejahatan tersebut, mereka akan dibebaskan, “kata Bunchhoeun.

Sekitar tahun 1950-an, relik-relik tersebut dibawa dari Sri Lanka ke Phnom Penh untuk memperingati 2.500 tahun kelahiran Sang Buddha. Pada tahun 1989, relik-relik tersebut disimpan di sebuah stupa di depan stasiun kereta api di Phnom Penh hingga akhirnya Raja Norodom Sihanouk memutuskan untuk memindahkan relik-relik tersebut ke bekas ibukota kerajaan di Oudong.

Sebuah stupa megah didirikan pada tahun 1995, dan Raja Norodom Sihanouk sendiri memindahkan relik-relik tersebut pada tahun 2002, disertai oleh Perdana Menteri Hun Sen.

Philippe Delanghe, kepala unit kebudayaan UNESCO, mengatakan bahwa meskipun ia tidak menyadari pencurian tersebut, kehilangan artefak seperti itu sangat merusak warisan budaya Kamboja.

“Apa pun yang akan hilang dari situs ini akan dianggap sebagai penderitaan besar pada warisan Kamboja, jadi saya pikir terserah kepada pemerintah Kamboja untuk mengambil tindakan yang diperlukan dalam hukum dan untuk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang melakukan hal ini,” kata Delanghe, yang menambahkan bahwa relik-relik yang dicuri tersebut kemungkinan besar ditujukan ke pasar gelap.

Y. M. Bhikkhu Khim Sorn, ketua sekretariat sangha tradisi Mahanikaya Kamboja, mengatakan bahwa pelaku pencurian tersebut akan menerima buah karmanya.

“Jika mereka melakukan hal ini, mereka melukai diri mereka sendiri,” kata Bhante Khim Sorn.

“Saya meminta orang yang mencurinya, bawalah relik Sang Buddha kembali …. Relik tersebut sangat penting bagi agama Buddha dan untuk bangsa kita,” tambahnya.[Bhagavant, 14/12/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: