Birma » Sosial

Usaha Tanggulangi Bhikkhu-Bhikkhu Palsu di Birma

Minggu, 28 Juli 2013

Buddhisme di BirmaBhagavant.com,
Ayeyarwady, Birma – Keberadaan bhikkhu-bhikkhu palsu di Birma (Myanmar) yang berkeliaran di jalan-jalan dengan mengemis meminta-minta membuat sebagian orang menjadi resah.

Sangha Gonesaung Yahantaw, sebuah organisasi Buddhis di wilayah Ayeyarwadi telah mengeluarkan tindakan tegas terhadap para penipu agama dan menganggap dewan sangha negara tersebut telah gagal untuk mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi citra Buddhisme.

Organisasi tersebut sejauh ini telah menemukan tujuh orang bhikkhu palsu dan 30 penggalang dana di kota Maubin yang berpura-pura memiliki hubungan dengan para pemimpin Buddhis dan vihara terkemuka untuk mendapatkan sumbangan dari masyarakat.

Ketua organisasi tersebut, Bhikkhu U Weiseita, seperti yang dilansir oleh The Myanmar Times, Senin minggu lalu (22/7), mengatakan bahwa program tersebut diluncurkan untuk melindungi citra keviharaan.

Ia mengatakan bahwa mereka yang berpakaian sebagai bhikkhu untuk mengemis di jalan-jalan merupakan hal yang memalukan bagi Buddhisme.

”Para bhikkhu yang asli tidak pernah mengemis karena mereka menghargai jubah mereka dan Sang Buddha,” katanya.

”Tapi beberapa orang tidak memiliki rasa hormat kepada Sang Buddha, dan tidak takut untuk menipu dengan menggunakan jubah dan nama dari asosiasi sangha. Mereka tidak takut akan neraka.”

Ia juga mengatakan bahwa Dewan Sangha Maha Nayaka yang dikenal dengan dewan sangha negara mengabaikan masalah ini.

”Saya telah mencoba menghentikan penipuan ini selama lebih dari 15 tahun. Saya mendesak asosiasi sangha dan pejabat lain untuk mengambil tindakan tapi mereka mengabaikan saya. Saya tidak tahu mengapa mereka terlalu sibuk , tapi saya tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi jadi saya melakukannya sendiri,” katanya.

Sangha Gonesaung Yahantaw didirikan pada tanggal 8 Juni dengan dukungan asosiasi sangha di kotanya dan 60 vihara, dengan memiliki 50 orang anggota.

Bhikkkhu U Weiseita mengatakan bahwa praktik pengemis dengan menggunakan jubah bhikkhu baru ada pada empat dekade terakhir.

”Jumlahnya meningkat setiap tahun, terutama di kota-kota. Para penipu ini mengenakan jubah pada siang hari tetapi kemudian mengemis sebagai orang awam di malam hari. Kadang mereka melakukannya sendiri tetapi dalam kasus lain mereka bekerja dalam kelompok, termasuk seluruh keluarga,” katanya.

Ada juga kasus sekelompok orang meminta uang dengan alasan untuk digunakan sebagai kegiatan keagamaan, seperti membangun pondok peristirahatan atau rumah sakit. Proyek penipuan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan nama dari seorang bhikkhu ternama, kata Bhikkhu U Weiseita menambahkan.

Bhikkhu U Weiseita menjelaskan bahwa organisasinya telah mengungkap seorang bhikkhu palsu dan meminta orang tersebut melepas jubahnya. Organisasi tersebut juga kadang mengirim mereka ke kantor polisi tapi Bhikkhu U Weiseita mengatakan bahwa polisi selalu menolak mengajukan perkara.

Para anggota organisasi Sangha Gonesaung Yahantaw akan bekerja sama dengan kelompok agama lain di kota-kota terdekat untuk mengetahui kemungkinan tersangka lain yang lebih banyak.

”Saya akan memperkuat jaringan ini dengan daerah Ayeyarwady setelah Waso (22 Juli),” kata Bhikkhu U Weiseita.

Ia mengatakan bahwa undang-undang untuk melindungi Buddhisme umumnya lemah dan tidak ditegakkan dengan benar.

”Bukan hal yang resmi untuk mendirikan sebuah organisasi Buddhis kecuali di bawah asosiasi sangha tapi telah banyak yang bergabung, termasuk kami sendiri. Kami tidak sah tapi kami harus melakukannya karena pihak orotiras tidak bersedia untuk melakukan pekerjaannya,” katanya.

Dewasa ini penggunaan atribut-atribut keagamaan sering dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok  tertentu dan sudah seharusnya masyarakat perlu lebih mewaspadai hal ini.[Bhagavant, TMT, 28/7/13, Sum]

Kata kunci:
Penulis: