Birma

Tabrak Samanera Kecil Picu Konflik di Oakkan, Birma

Jumat, 3 Mei 2013

Buddhisme dan KriminalitasBhagavant.com,
Rangoon, Birma – Konflik komunal berbau SARA terjadi di kota Oakkan (Oak-kan), Birma (Myanmar). Konflik tersebut dipicu oleh ditabraknya seorang samanera (calon bhikkhu) kecil oleh seorang wanita Muslim, pada Selasa pagi, 30 April 2013.

Seperti yang dilaporkan oleh Eleven Myanmar dan Myanmar Daily Star*, Rabu (1/5), seorang wanita Muslim bernama Win Win Sein (Shamila) yang berkendara sepeda menabrak seorang samanera yang sedang melakukan pindapata (mengumpulkan dana makanan) di pagi hari sehingga menjatuhkan dan memecahkan pata (mangkuk) untuk mengumpulkan makanan. Samanera kecil tersebut dengan sopan meminta ganti pata yang pecah itu kepada wanita tersebut.

Namun, wanita tersebut secara kasar menolaknya dan menurut laporan ia menghina samanera tersebut dengan berteriak kepadanya bahwa mangkuk tersebut tidak bernilai dibandingkan dengan sandal wanita tersebut. Orang-orang sekitar mendengar penghinaan tersebut dan rumor menjalar di seluruh kota dan kelompok massa sekitar 200 orang berkumpul di Bazar Oak-kan di mana toko wanita itu berada.

Massa yang marah akhirnya menghancurkan sekitar 20 toko Muslim dan masjid terdekat sebelum polisi datang dan mengembalikan ketenangan.

Pernyataan Polisi

Pada sekitar 9.00 pagi tanggal 30 April 2013, U Hlaing Tin (62 tahun) dari Vihara Sin-phyu-shin di Kota Oakkan, kotapraja Taik-kyee dan pengacara Vihara Ah-lan-taing mengajukan sebuah pengaduan pidana di Kantor Polisi Taik-kyee.

U Hlaing Tin melaporkan bahwa samanera Ashin Ponya (11 tahun) dari Vihara Ah-lan-daing sedang melakukan pengumpulan dana kesehariannya di pagi hari sepanjang Jalan Stupa di selatan Bazar Oakkan. Ia kemudian ditabrak oleh sepeda yang dikendarai oleh Win Win Sein dan kecelakaan tersebut menyebabkan mangkuk dananya jatuh dan pecah.

Pada dasarnya U Hlaing Tin ingin Win Win Sein dituntut karena ia telah menolak mengganti kerusakan yang disebabkan olehnya dan juga secar akasar menghinda seorang calon bhikkhu. Polisi Taik-kyee kemudian membuka sebuah kasus kriminal (PA) 112/2013 sesuai dengan UU Pidana 295 terhadap Win Win Sein.

Namun pada sekitar 13.15 hari itu hampir 200 warga kota yang tidak puas datang di Bazar Masjid di distrik Anaw-ra-hta dan melemparkan batu bata ke masjid tersebut. Dilaporkan tidak ada orang yang terluka saat itu. Komandan Polisi Taik-kyee datang dan mencegah gejolak lebih lanjut.

Pada sekitar 14.25 sekelompok orang berjumlah 200 melemparkan keluar barang-barang dan furnitur dari 25 toko di bazar tersebut dan menghancurkan toko-toko tersebut.

Antara 14.40 dan 14. 45 Polisi menembakkan sebanyak empat kali untuk membubarkan kerumunan dan membawa situasi kembali normal.

Pukul 15.00 pasukan polisi bantuan dipimpin oleh Komandan Polisi Divisi Rangoon dan Distrik Utara tiba di Oakkan dan mengakhiri gejolak tersebut pada 15:10 di hari itu.

Pukul 15.45 dua orang terluka di sawah di distrik Min-ye-kyaw-zwar di luar kota Oakkan dan dikirim ke Rumah Sakit Oakkan. Kemudian delapan orang lagi ditemukan dengan luka tembakan. Kesepuluh orang tersebut terluka oleh polisi dan mereka dituntut karena terlibat kerusuhan tersebut.

Setelah kerusuhan

Menurut Inspektur Polisi Myint Maung, kepala Polisi Oakkan, lebih dari 100 polisi menggerebek Desa Pa-ni-bin dekat Oak-kanpda pukul 3.30 di pagi hari tanggal 1 Mei dan menahan 15 Buddhis Birma yang diduga berpartisipasi dalam kerusuhan pada 30 April. Tiga belas ketapel besi rakitan, satu pedang, dan dua ketapel ditahan bersama dengan para perusuh tersebut.

”Insiden ini seharusnya tidak seburuk ini. Terutama beberapa anggota masyarakat yang kurang bijak dan pendidikan. Jika kerusuhan ini tetap terjadi, negara kita bisa menghadapi kecaman internasional. Untuk mencegah insiden lebih lanjut dan terjadi lagi dan lagi, kita harus menangkap para pelaku dan mengambil tindakan hukum yang keras terhadap mereka. 15 orang telah kami tahan semuanya Buddhis Birma.

Intelijen kami mengindikasikan masih ada lagi dalam jumlah besar dan kami akan terus mencari dan menangkap mereka,” kata Thet Lwin Kepala Deputi Polisi Kepolisian Divisi Rangoon.

Dari sebanyak Buddhis Birma yang ditembak oleh polisi, seorang Buddhis bernama Zaw Zaw Naing tewas akibat luka tembak pada 1 Mei.

Menurut kepolisian Oakkan kerusuhan tersebut telah menghancurkan masjid kota tersebut, 81 rumah dan 50 toko yang dimiliki oleh umat Islam di kota Oak-kan. Tapi situasi sekarang telah tenang karena lebih banyak polisi dan tentara bersenjata telah tiba di Oak-kan hari ini.

Konflik komunal yang melibatkan oknum-oknum Buddhis di Birma belakangan ini mudah terjadi karena hal-hal kecil dan ini sangat disesalkan oleh berbagai kalangan. Konflik ini bukan hanya dapat mengganggu demokrasi di Birma tetapi juga kerukunan umat beragama. Dengan adanya konflik di Birma ini umat Buddha di seluruh dunia diharapkan untuk tidak terpancing dan memperkeruh keadaan meskipun tidak dapat disangkal akan adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha dengan berbagai cara untuk mendiskreditkan agama Buddha dan umat Buddha yang tidak terlibat dalam konflik yang tidak berdasarkan ajaran Buddha ini. Banyak pihak berharap konflik ini segera diatasi dan berakhir.[Bhagavant, 3/5/13, Sum]

*Sumber terjemahan bahasa Inggris dan sumber kedua(arsip)

Kata kunci:
Penulis: