Amerika Serikat » Psikologi

Psikiater Sertakan Filosofi Buddhis untuk Sembuhkan Pasien

Rabu, 11 Juli 2012

MeditasiBhagavant.com,
New York , AS – Praktik dan filosofi Buddhis menjadi bagian dari pemecahan masalah kejiwaan yang dilakukan oleh seorang psikoterapi terhadap para pasiennya.

Seperti yang dilaporkan oleh All Voices (2/7), Dr. Joseph Loizzo, pendiri dan kepala Institut Nalanda untuk Sains Kontemplatif, telah menulis sebuah buku yang berjudul Sustainable Happiness (Kebahagiaan Yang Berkelanjutan) yang di dalamnya berisi berbagi pengalaman penelitian dan praktik kliniknya selama beberapa dekade yang menggunakan psikoanalisis tradisional, neurosains dan Buddhisme dalam praktik pencapaian keutuhan.

“Masalah utama dalam kondisi kita sebagai manusia berkaitan dengan fakta bahwa sifat alamiah kita adalah beradaptasi untuk hidup dalam alam liar, dan dikarenakan peradaban, kita hidup dalam kondisi yang sangat tidak alami,” kata Loizzo, yang percaya bahwa hal inilah penyebab utama ketegangan atau stres bagi kebanyakan orang.

“Naluri stres tersebut yang mempersiapkan kita untuk berjuang atau menghindar atau kadang terdiam dalam situasi-situasi yang berbahaya. Namun sejak peradaban mulai seperti mengambil alih seluruh kehidupan kita, reaksi-reaksi stres ini menjadi berkurang dan kurang bermanfaat bagi diri kita,” demikian wawancaranya dengan Voice of America.

Mengontrol tanggapan atau respons secara paksa dalam situasi penuh stres menghasilkan nafas yang memendek atau sesak nafas, berkeringat, dan melonjaknya andrenalin, mengingatkan tubuh akan kemungkinan bahaya.

“Dan karena apa yang menantang kita sebenarnya adalah bukan suatu predator, tetapi manusia lainnya,” katanya melanjutkan, “ yang kita butuhkan untuk bekerja sama dengannya dan kita butuh bernegosiasi dengannya, maka secara mendasar kita menjadi salah beradaptasi.”

Praktik-praktik dan filosofi Buddhis telah lama digunakan untuk menyelesaikan konflik. Dr. Loizzo mengatakan bahwa dengan menyertakan teknik-teknik Buddhis ke dalam praktik medisnya menggunakan meditasi dan teknik pertapasan, seseorang dapat kembali melatih otaknya untuk mengontrol reaksi tubuh untuk mengurangi stres yang dapat mengarah pada depresi, kegelisahan kronis, hipertensi dan sakit jantung.

“Gagasannya adalah jika anda berperhatian penuh, anda mampu untuk menilai sesuatu dengan lebih jelas, dan anda mampu untuk menangkap kesalahan persepsi dan reaksi berlebihan saat hal itu terjadi dan menyisihkannya dan memilih alternatif untuk melihat apa yang terjadi pada anda. Meditasi menjadi semacam sebuah sistem pragmatis sederhana yang dapat diajarkan untuk memperkuat bagian-bagian dari pikiran kita dan otak kita yang kita butuhkan untuk menjadi sehat dan bahagia.”

Penceritaan kisah pribadi seperti yang dilakukan oleh suku Aborigin Australia dalam ritual perjalanan (walkabout) juga merupakan salah satu teknik yang dilakukan oleh Dr. Loizzo. “Begitulah cara kerja pikiran kita. Pikiran kita membuat kisah-kisah dan gambaran-gambaran. Dan dengan demikian beberapa kemampuan yang kami ajarkan berhubungan dengan belajar untuk menceritakan diri kita sendiri kisah-kisah yang lebih konstruktif yang memberdayakan kita dan membantu kita untuk membangun kehidupan yang benar-benar kita ingin jalani –  bukan kehidupan yang membuat kita mencoba bertahan hidup, atau yang ditakuti akan terjebak di dalamnya untuk selamanya.”

Metode-metode tersebut telah menjadi pengubah hidup bagi banyak pasien Dr. Loizzo.

“Depresi merupakan masalah utama bagi saya,” kata seorang pasien. “Dan melalui dukungan Dr. Loizzo dan interaksi kami, saya mampu untuk menghubungkan diri saya dengan orang lain dan mengembangkan sebuah jaringan orang-orang yang mendukung saya dalam hubungan yang lebih penuh arti, seperti itu. Sudah menjadi sebuah revolusi dalam kehidupan saya bagaimana cara saya berpikir mengenai diri saya dan berpikir mengenai dunia. Saya merasa masih memiliki jalan panjang untuk dijalani tapi saya telah berjalan jauh.”

Teknik-teknik perhatian penuh telah efektif dalam penentuan lainnya. Sebagai contoh, para pasien kanker payudara yang penyakitnya berkurang sering dilaporkan memiliki gejala seperti Gangguan Stres Pasca Trauma (Post Traumatic Stress Disorder) lama setelah perawatan berakhir. Pengobatan barat menawarkan sedikit bantuan untuk meredakan rasa takut dan cemas yang berkelanjutan.

Sebagai penelitian awal, Dr. Loizzo mengajarkan 60 wanita dalam sebuah kursus selama 20 minggu yang di dalamnya termasuk instruksi meditasi dan kelompok-kelompok diskusi. Kemudian, dilaporkan bahwa sebagian besar merasakan berkurangnya rasa cemas dan merasa lebih berpengharapan terhadap kehidupan mereka. “Terlepas dari menyembuhkan dan mengobati penyakit, adalah penting bahwa kita meningkatkan kualitas hidup orang.”

Memadukan psikoterapi Barat dengan filosofi timur merupakan dasar dari buku dan arah dari praktik Dr. Loizzo.

Seperti halnya Aborigin Australia yang dengan menyanyikan lagu yang mereka ciptakan dalam ritual perjalanan dapat memandu jarak jauh melewati padang pasir Australia, para pasien Dr. Loizzo belajar untuk memandu kehidupan mereka sendiri melalui meditasi dan menciptakan kisah-kisah konstruktif atau membangun untuk memberdayakan diri mereka melewati kehidupan sehari-hari dan juga krisis.[Bhagavant, 11/7/12, Sum]

Kata kunci:
Penulis: