Asia Tenggara » Thailand

Tzu Chi Bantu Korban Banjir Thailand

Sabtu, 19 November 2011

Buddhisme di ThailandBhagavant.com,
Bangkok, Thailand – Sudah tiga bulan dan 595 orang dinyatakan meninggal dalam bencana banjir yang melanda Thailand. Banyak daerah di Thailand termasuk ibukota Bangkok masih terendam banjir sejak terjadi air bah menyerbu masuk ke berbagai daerah di negara tersebut pada awal bulan Agustus.

Ribuan orang meninggalkan rumah mereka, sementara yang lain tinggal di atap-atap rumah.

Begitu juga dengan pusat Buddhisme di Thailand yang berada di provinsi Ayutthaya tidak luput dari terjangan banjir. Dilaporkan bahwa sekitar 420 dari 505 vihara yang tersebar di seluruh provinsi tersebut mengalami kerusakan akibat banjir. Diperkirakan sekitar 915 juta Baht (atau sekitar US$ 29,8 juta) dibutuhkan untuk memperbaiki seluruh vihara itu.

Seperti yang dilaporkan oleh Harian Inquirer Filipina, sebuah tim relawan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan untuk para korban banjir di Thailand yang menderita bajir terparah dalam 50 tahun.

Sejak 24 September para relawan Tzu Chi telah menyediakan makanan masak dan kenyamanan untuk para korban banjir. Mereka menyalurkan air minum sejumlah 120.000 botol bukan hanya untuk para penduduk namun juga untuk 50.000 prajurit tentara Thailand yang memberikan keamanan di daerah-daerah yang terkena banjir.

Pengiriman air minun dari Kuala Lumpur Malaysia menuju Bangkok sudah dilaksanakan oleh para relawan di Thailand.

“Kami berterima kasih banyak untuk menyelesaikan misi ini untuk mengantarkan air minum untuk kami,” kata said Naraporn Chanocha ketua Komisi Tionghoa Perantau yang berbasis di Thailand.

Para relawan dari Filipina dan Taiwan pada giliran mereka membawa beras dan makanan barang lainnya untuk para korban banjir saat mereka tiba di Bangkok pada 3 November. Mereka juga membawa jas hujan, pakaian dan rompi kedap air untuk digunakan dalam operasi bantuan.

Tim tersebut dipimpin oleh Dr. Chien Sou-Hsin, pengawas dari Rumah Sakit Tzu Chi Dalin.

Pada 6 November, kelompok tersebut mengadakan sebuah pertemuan di Bangkok dengan relawan lokal, masyarakat bisnis, dan pemimpin dari perusahaan-perusahaan besar untuk mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menyalurkan bantuan.

Mereka mempertimbangkan sebuah program bantuan untuk para korban banjir seperti yang pernah dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi ketika di Taiwan dan Filipina saat kedua tempat tersebut dilanda banjir yang masing-masing pada Agustus dan September 2009.

Alfredo Li, CEO untuk Tzu Chi Filipina mengatakan bahwa ia tidak meragukan orang-orang akan melakukan segalanya yang bisa mereka lakukan untuk membersihkan rumah mereka.

Michael Siao, seorang relawan dari Filipina, mengatakan, ”Pada waktu itu, kami memiliki ide yang sangat sederhana, ingin memobilisasi mereka dalam waktu yang sesingkat mungkin. Master Cheng Yen mengatakan bahwa jika kita tidak melakukan pekerjaan pembersihan dengan cepat, kita dapat berhadapan dengan penguburan orang yang mati selain berapa biaya medis yang akan dipertanyakan.”

Saat pertemuan tersebut, Dr. Chien mengatakan bahwa penyakit yang dibawa oleh air merupakan salah satu masalah yang terbesar dalam banjir.

“Air berjalan dengan lambat tetapi membawa sejumlah besar kuman menuju tempat-tempat dimana mereka mengalir. Yang terpenting adalah masyarakat tidak memiliki luka di kaki mereka. Hal ini dapat menyebabkan infeksi dan menjadi serius. Resiko infeksi yang disebabkan oleh leptospirosis sangat tinggi,” ia menambahkan.[Bhagavant, 19/11/11, Sum]

Kata kunci: ,
Penulis:
REKOMENDASIKAN: