Asia Timur » Buddhisme dan Kesehatan » Sosial » Tiongkok

Peran Buddhisme Tanggulangi AIDS di China

Sabtu, 26 November 2011

Stop HIV/AIDS SekarangXinhua,
Kunming, China – Chen Fen, seorang wanita berusia 43 tahun yang telah melawan HIV selama 16 tahun memproyeksikan sebuah kekuatan dan vitalitas pada dirinya meskipun ia telah melemah karena penderitaannya. Sumber kekuatannya bukanlah sebuah obat pil atau pengobatan baru, tapi sebuah keyakinan agama kuno.

“Saya hanya mempraktikkan apa yang para bhikkhu sarankan: untuk menjaga kedamaian mentalitas dan tidak pernah melakukan usaha sia-sia dengan mengkhawatirkan masa depan,” katanya.

Chen tinggal di prefektur otonomi Xishuangbanna Dai di provinsi Yunnan di barat daya China. Provinsi tersebut terdaftar 83.925 orang terjangkit HIV dan penderita AIDS sejak akhir tahun lalu, yang merupakan paling banyak dari provinsi atau daerah lainnya di China.

Di Xishuangbanna (Thailand: Sipsongpanna – ed), lebih dari 300.000 penduduk, yang sebagian besar adalah kelompok etnis Dai dan Blang yang berkeyakinan Theravada, sebuah tradisi Buddhisme yang umum di sana. Prefektur tersebut memiliki penderita HIV/AIDS sejumlah 1.784 orang, dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Chen dan penderita HIV/AIDS lainnya di daerah itu telah mendapatkan manfaat dari sebuah program daerah dimana para bhikkhu dikerahkan untuk memberikan perawatan bagi para penderita dan meningkatkan pengetahuan tentang penyakit tersebut dalam rangka menghentikan penularan baru.

Program “Home of Buddha Glory” diluncurkan pada tahun 2003 dengan pendanaan dari Dana Darurat Anak-anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF – ed) dan bantuan dari asosiasi Buddhis di prefektur tersebut.

Melalui program tersebut, ratusan penderita HIV/AIDS, termasuk Buddhis dan non-Buddhis, secara rutin berkumpul untuk mendengarkan kotbah para bhikkhu dan berbincang satu dengan yang lain di Vihara Zongfo, yang berlokasi di Xishuangbanna.

“Tempat ini benar-benar terasa seperti rumah,” kata Chen menambahkan bahwa meskipun ia bukanlah seorang umat Buddha, ia telah belajar bagaimana untuk menjalani sebuah kehidupan yang positif dari para bhikkhu.

Panduan Untuk Para Penderita

Bhante Du Hanting (Mandarin: Phra Hamtin – ed), kepala Vihara Zongfo sekaligus peserta senior dalam program tersebut, pertama kali mendengar mengenai AIDS ketika beliau sedang belajar di Thailand 20 tahun yang lalu.

Saat itu, beliau memperhatikan bahwa rekan-rekannya di Thailand sering dengan sukarela memberikan pelayanan pemakaman untuk kelompok yang meninggal secara “tidak biasa”

“Saya terkejut saat saya diberitahu mereka semua meninggal karena penyakit yang tidak ada penyembuhnya yang disebut AIDS. Oleh karenanya, banyak para orang tua harus menyaksikan anak-anak mereka meninggal,” katanya.

Kemudian, beliau mempelajari bahwa epidemi tersebut dapat menyebabkan beban sosial, meninggalkan banyak keluarga yang miskin dan merenggut anak-anak dari perawatan orang tua mereka. Bhante Du bergabung dengan Home of Buddha Glory pada 2003 setelah kembali ke Xishuangbanna.

“Para bhikkhu melayani sebagai pemimpin spiritual masyarakat dan perlu membimbing mereka melalui kesulitan,” kata Bhante Du dalam menanggapi keraguan atas keterlibatan para bhikkhu dalam urusan sekuler.

Menurut Bhante Du, bagian penting dari pekerjaan para bhikkhu adalah untuk mengurangi stres dan kecemasan bagi penderita HIV/AIDS. Orang dengan penyakit ini sering berurusan dengan sejumlah besar stres dan pendeitaan mental. Dalam kasus yang ekstrem, beberapa penderita bahkan berniat untuk membalas dendam dengan menyebarkan virus kepada orang lain atau melukai mereka yang telah menularkan penyakit tersebut.

“Saya mengatakan kepada mereka bahwa jika anda menyakiti orang lain, anda tidak akan bisa melarikan diri dari akibatnya,” kata beliau.

Para bhikkhu tersebut juga membantu para keluarga untuk merawat anggota mereka yang positif HIV dengan sebuah pikiran terbuka dan mengurangi rasa takut mereka akan menjadi terinfeksi. Miskinnya pengetahuan akan HIV/AIDS telah menyebabkan beberapa penderita dihukum oleh keluarga mereka atau bahkan diusir dari rumah mereka.

“Kami sering berbicara dan makan bersama dengan para penderita di hadapan anggota keluarga mereka untuk menunjukkan bahwa virus tersebut tidak akan ditularkan melalui kegiatan sehari-hari,” kata beliau.

Untuk mengurangi beban ekonomi keluarga, para pekerja program telah mencoba untuk menghubungkan para penderita program-program kesejahteraan sosial yang sudah ada dan menawarkan mereka kesempatan kerja.

Pendidikan Anti-AIDS

Selain memberikan perawatan mental kepada para penderita, para bhikkhu tersebut juga terlibat dalam program pendidikan dan peningkatan kesadaran anti-AIDS di daerah pedesaan di Xishuangbanna, di mana 70 persen para penderita HIV terinfeksi melalui kontak seksual.

Karena membicarakan mengenai seks adalah tabu bagi para bhikkhu, mereka hanya diharapkan untuk memberikan sebuah nasihat umum dan membiarkan para pekerja awam program tersebut untuk membicarakan langkah-langkah pencegahan terhadap HIV/AIDS.

Para bhikkhu berusaha untuk meyakinkan masyarakat untuk menjauhi perilaku seksual yang berisiko dengan mengambil bagian dari disiplin Buddhis.

“Kami mendidik masyarakat dengan dua dari lima disiplin dasar Buddhisme – tidak melakukan hubungan seksual yang tidak patut dan tidak minum yang memabukkan,” kata Bhante Du.

Pekerjaan mendidik penduduk mengenai HIV/AIDS adalah pekerjaan tak kenal lelah, demikian menurut Ai Hanen, ketua operasional Home of Buddha Glory.

“Banyak masyarakat Dai (etnis minoritas) yang hidup di desa-desa terpencil sangat kurang pendidikan dimana mereka tidak dapat membaca perkataan China maupun Dai,” kata Ai.

Para pekerja program tersebut mengerjakan sebuah cakram digital yang akan mencakup lagu-lagu dan ceramah pendidikan yang direkam dalam bahasa sederhana. Mereka percaya praktik tersebut akan diterima dengan baik oleh masyarakat Dai yang pada umumnya mengalami kesulitan dalam memahami istilah medis yang rumit.

Peranan agama dalam upaya anti-AIDS dapat juga dilihat di wilayah otonomi Ningxia di bagian barat laut China, yang merupakan rumah bagi komunitas Muslim terbesar di negara tersebut.

Para imam dari berbagai masjid di Ningxia mengkotbahkan mengenai bahaya perilaku berisiko, seperti berhubungan dengan para pekerja seks komersial dan peyalahgunaan narkoba, dengan mendefinisikan mereka sebagai pelanggar ajaran Islam.

“Para imam pernah berjalan sepanjang jalan menuju ke vihara kami untuk melihat apa saja yang dapat mereka pelajari,” kata Ai.[Xinhua, 20/11/11, tr: Sum]

Kata kunci:
Penulis: