Asia Oseania » Asia Tenggara » Malaysia

“Polisi Sangha” Tangani Bhiksu Gadungan

Buddhisme di MalaysiaBhagavant.com,
Melaka, Malaysia – Sebuah kelompok Buddhis di Malaysia mendirikan sebuah korps mandiri untuk menghentikan mereka yang mengaku-aku sebagai bhiksu dari meminta-minta uang kepada masyarakat.

Sentra Penjaga Kesucian Sangha (The Sangha Sanctity Protection Centre – SSPC ) mengatakan bahwa “polisi sangha” mereka meyakini adanya sebuah sindikat terorganisir berada di balik para pelaku yang berjalan mengenakan jubah safron (warna kuning kunyit) di jalan-jalan Melaka dan mengincar kedermawanan masyarakat.

Orang-orang asing ini memberikan jimat-jimat yang mereka klaim memiliki kekuatan spiritual untuk memberikan kemakmuran dan kesehatan kepada siapa saja yang memberikan sumbangan.

Wakil ketua SSPC, Ronald Gan Ying Hoe mengatakan kelompok mandiri terdiri dari 10 orang tersebut akan menghentikan sindikat yang diketahui telah menipu ratusan orang dalam hal uang maupun harta pribadi mereka.

“Mereka menggunakan taktik menakut-takuti untuk meminta sumbangan, terutama di rumah sakit-rumah sakit dimana target mereka adalah anggota keluarga dari pasien yang dirawat,” demikian katanya kepada The Star yang diliris Selasa (21/6).

Menurut Gan, para bhiksu yang asli tidak mengenakan jam tangan ataupun sepatu, mereka tidak memiliki aset duniawi apapun. Ia juga menambahkan bahwa “polisi sangha” tersebut akan menyebarkan kesadaran masyarakat mengenai penipuan tersebut dan juga menyisipkan poster-poster di seluruh kota untuk memperingatkan orang-orang yang akan menjadi calon korban.

“Para bhiksu dilarang keras untuk berkeliaran di jalan-jalan, menipu orang-orang untuk uang mereka atau meminta sumbangan dan tidak sepatutnya menjual barang-barang seperti jimat-jimat,” kata Gan.

“Kami akan melepas jubah para penipu ini dengan pergi ke daerah-daerah yang telah menjadi tempat populer berkeliarannya para penipu ini,” katanya.

Gen juga menambahkan bahwa sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh SSPC tersebut menemukan bahwa para bhiksu gadungan tersebut melakukan perjalanan ke Malaysia dari China dan melakukan operasinya selama sebulan sebelum mereka kembali lagi ke tanah air mereka.

“Salah satu bhiksu gadungan yang baru-baru ini kita tangkap mengaku kelompoknya bisa menghasilkan di atas 9.000 Ringgit Malaysia (+/- 25 juta Rupiah) dari sebulan menetap di sini,” katanya.

Gan mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini, “polisi sangha” telah menangkap empat orang bhiksu gadungan yang meminta sumbangan di keramaian jalan-jalan dan di rumah sakit swasta di kota itu.

“Dalam sebuah kasus, seorang bhiksu gadungan yang berusia akhir 40-an dipaksa untuk kembali ke negara asalnya dengan bantuan pihak berwenang,” kata Gan.

Ia menambahkan bahwa penipu ini dapat merusak kesucian keyakinan Buddhis jika langkah-langkah drastis tidak diambil untuk menghentikan mereka dari menipu orang-orang.

Gan mengatakan ia akan bekerja sama dengan lembaga penegak hukum terkait untuk menghentikan para bhiksu gadungan ini.

Permasalahan bhiksu / bhikkhu gadungan ini nampaknya tidak hanya terjadi di Malaysia namun juga di beberapa negara Asia Tenggara lainnya seperti di Thailand dan Indonesia, dan tidak menutup kemungkinan juga di negara-negara lainnya.

Di Indonesia sendiri disinyalir keberadaan bhikkhu / bhiksu gadungan ini. Diperkirakan mereka beroperasi di daerah pecinan atau di daerah-daerah yang berpenduduk mayoritas suku keturunan Tionghoa. Di antara mereka ada yang melakukan operasi dengan menjajakan pernak-pernik Buddhis.

Sampai sekarang belum ada tindakan yang signifikan dari organisasi-organisasi Buddhis Indonesia dalam menanggulangi permasalahan ini selain himbauan kepada umat Buddha untuk lebih waspada terhadap keberadaan bhikkhu / bhiksu gadungan tersebut.[Bhagavant, 25/6/11, Sum]

Kata kunci:
Penulis:
REKOMENDASIKAN