Bangladesh » Sosial

3 Orang Ditahan Terkait Pembunuhan Bhikkhu Lansia di Bangladesh

Rabu, 18 Mei 2016

Bhagavant.com,
Dhaka, Bangladesh – Pihak kepolisian pada Minggu (15/5/2016) telah menahan tiga orang terkait pembunuhan seorang bhikkhu lanjut usia di Upazila Naikkhangchhari, Bandarban, Bangladesh yang terjadi sehari sebelumnya.

borgol, ditangkap
Ilustrasi

Pada Senin (16/5/2015) pengadilan Bandarban melakukan penetapan penahanan bagi ketiganya selama sepuluh hari. Sebagai tambahan, Kepala Hakim Pengadilan Md Abu Hanif memberikan lima hari penahanan untuk masing-masing terduga dalam kasus pembunuhan yang diajukan oleh keluarga korban, kata petugas investigasi Md. Anisur Rahman seperti yang dilansir The Daily Star, Selasa (17/5/2016).

Mereka yang ditahan yaitu Abdur Rahim (25), Mohammad Zia (26), dan Sa Mong Chak (35), diduga telah melakukan pembunuhan terhadap Bhikkhu Dhammavamsa (U Damma Oaing Cha), 73 tahun, yang dalam pemberitaan sebelumnya disebut bernama Yu Gayinda (nama lahir: Maung Shue U Chak) berusia 75 tahun.

Polisi yang bertugas dari kantor polisi Naikkhangchhari, Abul Khair, mengatakan bahwa polisi menangkap Abdur Rahim dan Mohammad Zia masing-masing di Tadangkhali Para dan Titar Para. Sedangkan Sa Mong Chak ditangkap di Upor Chak Para di Baishari pada Minggu sekitar 3.30 pagi.

Petugas yang bertugas tersebut mengatakan ketiganya ditangkap karena gerakan mereka yang mencurigakan di sekitar vihara lokasi tubuh Bhikkhu U Damma Oaing Cha ditemukan Sabtu pagi.

Pihak kepolisian mengatakan Rahim and Zia berasal dari komunitas etnis Bengali/Benggala (di Myanmar etnis ini mengklaim diri sendiri sebagai Rohingya).

Terkait pembunuhan bhikkhu ini, umat Buddhis di Bandarban, pada Minggu (15/5/2016) melakukan demonstrasi di kota tersebut menuntut penangkapan segera dan hukuman berat bagi pelakunya.

Sedangkan pada Senin (16/5/2016), ratusan umat Buddhis di Kota Dhaka juga melakukan demonstrasi yang dilakukan di dekat Jatiya Press Club dengan membentuk barisan rantai manusia. Mereka menuntut agar para pembunuh segera ditangkap dan diadili.

Kedua demonstrasi yang berbeda tersebut juga menuntut Menteri Dalam Negeri Bangladesh Asaduzzaman Khan untuk mencabut ucapannya sebelum Vesak (21/5). Sebelumnya Menteri Asaduzzaman Khan berkomentar menyebut pembunuhan itu sebagai “insiden yang berbeda” dengan kasus pembunuhan warga minoritas lainnya dan menyebut keluarga korban terlibat dalam pembunuhan tersebut. Sedangkan penduduk lokal menyebutkan bhikkhu tersebut tidak memiliki musuh di sana.

Bhikkhu Dhamamvamsa tinggal seorang diri di Vihara Chandra Nirvana Bouddha, vihara kecil di dekat Desa Upor Chak Para di Baishari, Bandarband. Ia baru menjadi seorang bhikkhu satu setengah tahun yang lalu dengan meninggalkan keluarganya di Desa Upor Chak Para. Ia ditemukan tewas dengan leher digorok pada Sabtu (14/5/2016) dini hari.

Jika terkait dengan anti minoritas, maka pembunuhan Bhikkhu Dhammavamsa akan menambah panjang daftar penganiayaan terhadap Buddhis di Bangladesh, termasuk penganiayaan terhadap masyarakat adat Buddhis Jumma di Jalur Bukit Chittagong yang sampai sekarang tidak menjadi perhatian internasional.

Setahun belakangan ini Bangladesh yang merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim, menjadi perhatian karena pembunuhan sejumlah warga beragama minoritas dan aktivis dengan cara yang sama. Kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dan Al-Qaeda cabang Bangladesh pernah mengatakan bahwa mereka melakukan beberapa pembunuhan tersebut. Setidaknya sudah ada 5 warga beragama minoritas dari 9 orang yang tewas sejak awal tahun 2016.[Bhagavant, 18/5/16, Sum]

Kata kunci: , , ,