Hong Kong Serukan Tindak Keras Bagi Visa Para Bhiksu Palsu

Buddhisme dan KriminalitasBhagavant.com,
Hong Kong, China – Kepolisian Hong Kong menginginkan pihak imigrasi untuk menindak keras para bhiksu palsu yang bekerja layaknya pengemis sama seperti mereka menindak para pelaku prostitusi.

Para pengemis dari daratan utama China yang menyamar sebagai bhiksu harus diperlakukan sama dengan para pelaku prostitusi, dan pihak imigrasi harus menindak keras kegiatan tersebut, demikian menurut kepolisian seperti yang dilansir oleh South Morning China Post pada Minggu 24 Februari 2013.

Salah satu narasumber kepolisian yang tidak asing dengan kecenderungan meningkatnya bhiksu-bhiksu palsu yang mengunjungi Hong Kong sebagai “pengemis professional” mengatakan bahwa par abhiksu palsu tersebung kemungkinan melanggar masa tiga bulan visa kunjungan mereka.

Selama 12 bulan terakhir, di Hong Kong telah terlihat peningkatan besar sejumlah orang yang mengenakan jubah bhiksu dan mengemis di Distrik Sentral, Wan Chai dan Tsim Sha Tsui, kata narasumber.

Pihak kepolisian menangkap orang-orang yang mengemis, khususnya di Distrik Central. Namun tidak seperti para pelaku prostitusi yang merupakan pekerjaan ilegal menurut perundangan dan mereka memasuki Hong Kong dengan visa turis, menurut Departemen Imigrasi mengemis tidak termasuk dalam perundangan.

Sanksi yang keras akan menangkal para bhiksu palsu untuk datang ke kota tersebut, kata narasumber yang menambahkan bahwa pihak kepolisian menginginkan sebuah perubahan dalam perundangan keimigrasian.

“Jika para bhiksu palsu ini datang ke sini khususnya dengan menggunakan sebuah visa turis untuk tiga bulan, mengapa hal ini bukan sebuah pelanggaran terhadap ketentuan untuk tinggal?

“Jika Anda datang ke Hong Kong sebagai seorang prostitusi dari daratan utama dengan sebuah visa turis, Anda akan ditangkap oleh polisi karena melanggar ketentuan untuk tinggal. Mengapa para bhiksu palsu ini tidak diperlakukan sama seperti itu?

Pada Jumat malam, seorang pria berpakaian seperti seorang bhiksu berada di Lan Kwai Fong mencoba untuk menjual sebuah gelang manic-manik kayu kepada salah satu pihak Sunday Morning Post. Gelang-gelang yang ia katakan dapat membawa berkat, masing-masing berharga 100 Dolar Hongkong (+/- 124 ribu Rupiah).

Penjualan gelang-gelang ini merupakan bentuk pekerjaan dan jelas melanggar perundangan visa turis.

Namun seorang juru bicara Departemen Imigrasi mengatakan bahwa sulit untuk menentukan apakah mengemis perlu digolongkan sebagai pekerjaan. Ia memberi catatan bahwa bagaimanapun adalah tugas polisi untuk mengatasi pengemis.

“Dalam kasus para prostitusi daratan utama, mereka melanggar ketentuan untuk tinggal dengan mendirikan usaha di sini. Hal ini jelas masalah imigrasi,” kata juru bicara tersebut.

“Tapi juga jelas dalam peraturan polisi bahwa mereka yang mengusut para pengemis. Kepolisian adalah otoritas yang tepat untuk menegakkan hukum dalam hal sini. Tidak ada celah dalam perundangan imigrasi.”

Pengusaha Rory Hussey, pemilik sebuah kedai minum di Wyndham Street, Central, menyebut para bhiksu palsu tersebut sebagai “wabah”.

Hussey mengingat kembali bagaimana ia pergi berlibur pada tahun lalu ke Thailand dan sekelompok bhiksu palsu berada dalam penerbangan yang sama, mengenakan pakaian awam. “Saya melihat mereka setiap malam, jadi saya langsung mengenali mereka di pesawat. Beberapa dari mereka bahkan memiliki kekasih bersama mereka,” katanya.

Di Tsim Sha Tsui, Mike Brown, seorang manajer kedai minum di Ashley Road, mengatakan bahwa para penipu tersebut “akan mencoba mendapatkan apapun”.

“Mereka secara terang-terangan berjalan ke sini dan meminta uang kepada para pelanggan saya,” kata Brown. “Mereka secara berkala mengganggu para turis di sepanjang Nathan Road.”

Clare Kirkman, seorang manajer pub di in Luard Road, Wan Chai, mengatakan bagaimana para bhiksu palsu yang bisa berjumlah hingga 12 orang berjalan hilir mudik di jalan-jalan.

“Mereka bekerja secara berpasangan; satu mengemis, yang lainnya tertap berjaga-jaga terhadap polisi,” kata wanita tersebut. “Mereka adalah sebuah gangguan dan mereka sangat terorganisasi.”

Dua minggu yang lalu, pihak berwenang di provinsi utara Shaanxi telah menutup dua bio di Gunung Wutai, sebuah gunung suci Buddhis, dan menangkap enam orang setelah para turis mengeluh mengenai para bhiksu palsu yang menipu mereka agar menyumbangkan uang.[Bhagavant, 28/2/13, Sum]