Relawan Tzu Chi Bantu Warga Pulihkan Fasilitas Medis Setelah Banjir di Nepal
Bhagavant.com,
Kathmandu, Nepal – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah utara Nepal di perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus lalu meninggalkan kerusakan parah.

Kerusakan dari bencana besar tersebut termasuk melumpuhkan satu-satunya rumah sakit umum di Kotamadya Pedesaan Galchhi, Distrik Dhading. Selain fasilitas kesehatan, banjir juga merusak sekolah dan permukiman warga di sekitarnya.
Menanggapi bencana tersebut, relawan dari Yayasan Buddha Tzu Chi turun tangan bersama warga setempat, staf rumah sakit, kepolisian, personel militer, dan aparat pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mendesak korban.
Tzu Chi turut bergabung dalam inisiatif tanggap cepat yang dikoordinasikan oleh Dewan Kesejahteraan Sosial (Social Welfare Council/SWC) Nepal bersama sejumlah organisasi nonpemerintah lain.
Rumah Sakit Baireni merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan umum di Galchhi, dengan kapasitas 15 tempat tidur dan biasanya melayani sekitar 200 pasien per hari. Saat banjir mendekat, seluruh pasien—sekitar 15 orang saat itu—dievakuasi; dua di antaranya dirujuk ke Kathmandu, sementara sisanya dipulangkan dengan selamat.
Bangunan rumah sakit sendiri tertutup lumpur tebal yang memenuhi ruang perawatan hingga lorong-lorong, merusak peralatan medis dan obat-obatan sehingga rumah sakit tidak bisa lagi beroperasi seperti biasa.
Upaya pembersihan yang semula hanya dilakukan segelintir orang dengan sekop dan karung berkembang pesat. Karena lumpur basah sangat berat, relawan membeli tambahan sekop dan gerobak dorong agar proses menggali, memuat, dan mengangkut material bisa dibagi lebih efisien.
Seperti yang dilansir situs Tzu Chi Global pada Selasa (1/9/2026), seorang petugas polisi bernama Rohit, yang ikut membantu pembersihan, mengatakan bahwa banyak korban luka di masyarakat dan kebutuhan utama warga saat ini adalah fasilitas medis yang berfungsi kembali. Rohit menjadi salah satu yang pertama bergabung, membawa 10 rekannya pada hari pertama dan kembali dengan 18 personel tambahan keesokan harinya.
Ia menyebut membantu negara di saat sulit adalah tanggung jawab kepolisian, dan mengaku tersentuh melihat bagaimana Tzu Chi berhasil menggerakkan banyak pihak dengan cepat untuk membantu pemulihan rumah sakit.
Total lebih dari 100 orang—termasuk staf rumah sakit, relawan lokal, wali kota setempat, polisi, dan tentara—terlibat dalam aksi bersih-bersih ini. Relawan juga mengajak warga menerapkan praktik ramah lingkungan selama proses pembersihan berlangsung. Setelah bekerja sepanjang hari, tim berhasil membuka jalur akses di dalam gedung sebagai langkah awal menuju pemulihan layanan medis.
Selain memulihkan rumah sakit, Tzu Chi turut menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada 169 keluarga di Galchhi berdasarkan hasil asesmen dampak bencana. Setiap keluarga menerima 25 kilogram beras, 4 kilogram kedelai, 1 liter minyak goreng, 1 kilogram garam, serta air minum kemasan. Bantuan juga mencakup peralatan masak dasar seperti panci presto, panci, kompor gas satu tungku, centong, ember plastik, jerigen air, piring, sendok, dan gelas.
Bagi keluarga yang rutinitas hariannya terganggu akibat bencana, bantuan ini tidak hanya menyediakan pangan untuk beberapa hari ke depan, tetapi juga memberi mereka perangkat dasar untuk memasak dan berangsur-angsur menjalani kehidupan normal kembali.
Tzu Chi juga merespons permintaan alat pelindung diri dari unit kepolisian dan militer di Chitwan serta Rumah Sakit Provinsi Madhyabindu di Nawalpur. Dari Kathmandu, relawan mengirimkan 200 setelan pakaian pelindung ke Chitwan. Pelaku usaha lokal turut menyumbang 30 kotak sarung tangan medis sekali pakai, 48 kotak masker medis, 20 pasang sarung tangan plastik, dan 20 botol disinfektan Phenyl ukuran 500 ml.
Bantuan tersebut disalurkan kepada unit kepolisian dan tentara Chitwan serta Rumah Sakit Provinsi Madhyabindu untuk mendukung personel yang menangani bencana, termasuk proses evakuasi korban jiwa.
Bencana ini juga berimbas pada sektor pendidikan. Di Sekolah Menengah Shree Bageshwori, murid-murid tengah belajar ketika peringatan banjir dikeluarkan. Para guru segera mengevakuasi anak-anak, sehingga tas dan buku sekolah tertinggal di lokasi.
Enam hari kemudian, para siswa kembali ke sekolah untuk mengambil tas dan buku mereka yang telah tertutup lumpur. Relawan Tzu Chi turut mengunjungi sekolah tersebut untuk menilai tingkat kerusakan dan kebutuhan lanjutan bagi murid maupun pihak sekolah.
Tim tanggap bencana dilaporkan masih terus bekerja sama dengan pemerintah kotamadya setempat dan tokoh masyarakat untuk menilai kebutuhan pemulihan, membersihkan area sekolah yang rusak, dan mendampingi keluarga-keluarga terdampak dalam proses membangun kembali kehidupan mereka.
Saat berita ini diturunkan, ada sekitar 1.287 orang meninggal di Nepal, 31 orang di Tibet, dan 5.083 orang hilang di Nepal, 546 orang di Tibet.[Bhagavant, 5/9/26, Sum]
